Ar Rukhshah

4444740

Ilustrasi Gambar: Internet

Pernah dalam suatu kesempatan kami mendengar suatu pendapat yang mengatakan “Ajaran Islam itu mudah, tidak memberatkan..”

Pada suatu ketika kamipun pernah pula membaca pada sebuah website dimana salah seorang bertanya perihal perkara agama. Dalam pertanyaannya tersebut ditambahkan bahwa dia bertanya kepada si ustadz karena dilihatnya pendapat-pendapat si ustadz perihal perkara agama cukup moderat. Perkara yang hendak dia tanyakan ialah perkara kawin siri, yang bersangkutan sudah beristeri dan hendak menikah lagi tanpa sepengetahuan si isteri dengan bekas pacarnya dahulu yang non muslim.

Dalam kehidupan sehari-haripun kami dapati beberapa orang yang berpendapat “lebih baik bertanya kepada ustadz yang itu saja lagi, sebab pendapat dan pandangannya mengenai perkara-perkara yang ditanyakan kepadanya lebih lunak. Tidak sekaku ustadz yang lain..”

Atau orang-orang yang suka berdalih jika suatu perkara yang amalkannya dilarang oleh agama, maka dia dalih “menurut ustdz yang itu boleh..”. Kemudian apabila ada suatu perkara lain yang juga tengah amalkannya namun dilarang oleh ustadz yang dimaksud maka dia akan menjawab “iya menurut ustdz yang itu, tapi menurut ustadz yang ini boleh..” jawabnya.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Kami yang tak faham betul perkara agama menjadi bingung dan bimbang, bagaimana pula ini. Kami yakin bahwa hukum agama tidak seperti yang tampak demikian. Seorang ulama menjatuhkan fatwa haram, yang lain menghalalkan, dan yang satunya menjatuhkan fatwa “makhruh”. Mana kiranya yang benar menurut ajaran agama Islam yang sebenarnya?

Seolah-olah ajaran agama menjadi permainan saja bagi sebagian orang. Jika ada ulama yang membarikan fatwa yang meringankan maka dia yang diikuti fatwanya. Namun apabila ulama yang merinngankan pada suatu perkara namun menjatuhkan fatwa “haram” pada perkara lain. Maka orang-orang berpaling darinya, mencari fatwa dari ulama yang meringankan. Walaupun pada perkara sebelumnya ulama tersebut mengharamkan.

Kami yakin bahwa ini semua pastilah ada penjelasannya..

Akhirnya kami membaca sebuah kitab karangan Syech Yusuf Qardhawi judulnya “Memahami Khazanah Klasik, Mazhab, dan Ikhtilaf”. Pada salah satu sub bab dalam kitabnya ini beliau menjelaskan mengenai perkara ini. Perkara ini dinakaman dengan Ar Rukhshah yang berarti pendapat hukum yang lunak.

Sebelumnya beliau telah menjelaskan mengenai tiga kelompok orang dalam memahami ajaran ilmu agama, yakni awam, mujtahid, dan ulama. Awam ialah masyarakat kebanyakan yang sangat rendah pengetahuan agamanya, mujtahid ialah orang-orang berilmu yang telah cukup ilmu agamanya namun masih terbatas atau kurang mendalam. Ulama ialah orang yang telah tinggi pemahaman ilmu agamanya. Sesuai dengan arti ulama yakni orang yang berilmu.

ilustrasi gamabr: internet

ilustrasi gamabr: internet

Kemudian beliaupun mejelaskan mengenai posisi ulama dan mazhab dalam kehidupan. Pendapat seorang ulama wajib dipegang dan seorang muslim wajib bermazhab namun hal tersebut baiknya hanya dilakukan oleh orang awam. Bagi orang berilmu, sebaiknya mereka mencari dalil dasar pada setiap fatwa, ijma, ataupun pandangan setiap ulama mengenai suatu perkara. Kemudian baru memutuskan hendak mengikuti pendapat yang mana. Atau kalau ilmu agamanya sudah cukup, seorang mujtahid boleh atau dibenarkan untuk berijtihad mengenai suatu persoalan.

Berijtihad ialah mencari dan memutuskan sendiri suatu perkara berdasarkan dalil-dalil agama yang kuat yakni Al Qur’an dan Hadist. Dalam berijtihad seorang mujtahid hendaknya selain memedomani Al Qur’an dan As Sunnah juga tetap memperhatikan pendapat ulama-ulama terdahulu.

Kemudian beliau menjelaskan mengenai rukhshah. Menurut beliau memang telah terjadi semenjak dari masa dahulu, dimana setiap orang selalu menuruti pendapat yang lunak dari ulama-ulama tertentu. Beliau melarang rukhshah apabila dilakukan hanya untuk memuaskan hawa nafsu, bukan atas dasar keyakinan agama. Sedangkan beliau membenarkan rukhshah apabila dilakukan karena mengikuti mazhab tertentu atau ulama tertentu, bukan berpindah-pindah mazhab atau ulama. Pendapat beliau ini berlaku untuk orang awam yakni orang-orang yang masih dangkal pengetahuan agamanya.

Sedangkan bagi orang yang telah memiliki pengetahuan agama yang cukup (mujtahid) diharuskan untuk mencari dalil dibalik setiap fatwa yang dia dapat. Termasuk fatwa yang bersifat rukhshah. Sebab dengan demikian dia telah menambah ilmu dan pemahaman agamanya. Bukankah nabi pernah bersabda “sesungguhnya memandangi wajah ahli ilmu lebih aku senangi daripada memandangi wajah ahli ibadah..

Jadi bagi tuan-tuan, hendaklah menghisab diri, kalau kiranya kita masuk golongan orang awam maka cukuplah berpegang pada pendapat pada satu mazhab dan ulama saja. Namun jika sudah cukup memiliki pengetahuan agama maka jangan diterima dan jangan pula ditolak suatu fatwa namun selidikilah terlebih dahulu. Pelajari dalilnya, dasar hukumnya, dan tentu saja tafsiran dari Al Qur’an dan Hadist yang berkenaan dengannya.

Orang yang bersikap suka mengambil pendapat dari setiap ulama yang hanya meringankan saja maka dia termasuk orang fasik. Ajaran Islam memang mudah, tapi bukan berarti boleh dipermudah. Tidak tuan, “ajaran Islam itu mudah” pendapat demikian hanya sebagai promosi atau iklan. Supaya orang mau mempelajari agama Islam. Namun setelah didalami, maka akan ditemuilah betapa untuk mempelajari agama Islam sangatlah sulit. Memerlukan waktu dan kesabaran. Kalau mudah ajaran Islam itu tuan, lalu kenapa orang sampai mendirikan Universitas Islam, atau fakultas maupun jurusan yang khusus mengkaji masalah-masalah agama. Dengan masa pendidikan yang tidak pula singkat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s