cobaan hidup..

Ilustrasi gambar: internet

Ilustrasi gambar: internet

Semenjak magrib semalam, hujan tiada henti di kampung ku. Entah kenapa sehari ini begitu dipenuhi mendung dan angin kencang, disertai dengan hujan rinai-rinai. Hal ini ikutpula mempengaruhi hati ku. Rusuh tiada tentu, menemani badan yang telah letih.

Malam hari semakin bertingkah, angin kian kencang. Dinginnya malam membuat ngilu tulang-tulang yang telah penat ini. Ah.. betapa bersyukurnya aku punya rumah, bagaimanakah kiranya bagi orang-orang yang tiada berumah di luar sana pada saat sekarang? Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan perlindungan kepada mereka, Amin..

Tampaknya suasana hari semenjak pagi merupakan pengantar bagi duka yang akhirnya datang menyelimuti. Kabar yang baru saja didapat pada saat selepas jum’at, sampai juga akhirnya kepada ku pada senja menjelang Isya. Sungguh pahit benar, betapa rahasia hidup sungguh bertingkah. Jenaka sesungguhnya, namun pabila telah berlaku, sakitnya sungguh tak terperi, bertalu-talu datangnya sebagaimana  palu godam yang menghantam tiada jeda.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Semakin malam, angin semakin berkecamuk, hujan masihlah tetap rinai. Namun kencangnya anging sungguh menakutkan. Serupa kiranya dengan keadaan dalam bathin ini, berkecamuk diterpa badai, kemana hendak berpegang, kemana hendak mencari perlindungan, kemana hendak berlabuh? Tak ada dermaga yang tamp

ak, jangankan dermaga, daratanpun tidak.

Awak sedang bergelimang peluh, menahan duka yang tiada henti, dikira pelita kan menghampiri, namun rupanya malang yang sedari dahulu setia mendatangi. Ah.. betapa sayangnya Allah kepada ku, setiap saat selalu diberinya cobaan, sebagai perintang hati, penemani diri, agar tahu dengan untung perasaian. Sungguh.. betapa Allah mencintai ku kawan..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Semakin larut, semakin dingin terasa di badan ini. Anginpun kian kencang berkecamuk ditingkahi bunyi deraian hujan yang berjatuhan di atas atap. Selepas tengah malam akhirnya datang gempa kecil, menyadarkan aku dari lamunan. Betapa melamun bukanlah perkerjaan baik lagi elok, akhirnya datang teguran berupa gempa. Tak seorangpun tampaknya menyadari, apakah gempa ini hanya diperuntukkan untuk ku..?

Esok hari rupanya masih tetaplah sama, rupanya semalam hujan tiada hendak berhenti membasahi negeri. Mendung sepanjang hari, kencangnya angin masihlah tetap menemani hari. Kecamuk di hati inipun kian menjadi. Duhai.. sakitnya tiada terperi.

Tampaknya alam sungguh berpengertian kepada ku, apakah itu berarti sudah ada ikatan di antara kami berdua? Sungguh faham ia betapa rusuhnya hati ini, sungguhlah mengerti ia betapa air mata sudah tak dapat mengalir lagi. Maka kepada bumi ini ditumpahkannya segala duka nestapa yang sedang ku tanggung. Kepada negeri ini dirasainya amukan hati kami, sungguh tiada terperi..

Ditulis dikala mendung menyelimuti hari, menguasai hati..

Hari ini ialah hari ke 26 bulan Jumadil Awal 1434, yang bertepatan dengan

Hari ke enam bulan ke empat tahun 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s