Pakan Kurai..

Daging di Los Dagiang Pasa Bawah.

Salah satu keadaan pada salah satu los di Pasa Bawah yakni Los Dagiang.

Dahulu niniak[1] kita orang Minangkabau di Luhak Agam mengenalnya dengan nama Pasa Kurai. Sedangkan orang Belanda lebih suka memanggilnya dengan sebutan Fort de Kock. Pada masa sekarang, orang Minangkabau memanggilnya dengan sebutan Bukittinggi. Akan tetapi kita orang-orang yang tinggal daerah sekitar kota ini (Luhak Agam) telah terbiasa menyebutnya dengan sebutan “Pasa” saja. Tidak hanya ketika hari pekan akan tetapi telah menjadi panggilan sehari-hari.

“Hendak kemanakah engku..” tanya seseorang.

“Hendak ke pasa..” jawab yang ditanya. Walaupun ketika itu hari bukanlah hari Raba’a ataupun hari Sabtu.

Pasa atau pakan merupakan hari besar yang berlangsung setiap dua kali sepekan, hanya beberapa nagari saja yang memiliki hari pekannya hanya satu hari. Hari pekan ialah hari pasar, di Bukittinggi hari pekannya ialah hari Raba’a[2] dan hari Sabtu. Setiap hari itulah Kota Bukittinggi selalu diramaikan oleh para pedagang tradisional.

Yang menjadi pusat jual beli pada kedua hari ini ialah Pasa Banto, Pasa Bawah, Pasa Aua Tajungkang, dan Pasa Aua Kuniang. Kami sarankan agar engku dan encik untuk menjauhi kawasan yang telah kami sebutkan apabila engku dan encik menggunakan kendaraan. Apa hal? Karena keadaan lalu-lintas yang tak teratur, maklumlah urang awak.

Pada hari Sabtu ini kami disuruh oleh ibunda kami untuk berbelanja membeli daging ke Los Dagiang yang terletakk di Pasa Bawah. Kami masuk dari arah Aua Kuniang, belok kiri di Simpang Lanbau[3], kemudian masuk ke Komplek Pertanian, keluar di Pasa Dama, dan terus langusng menuju ke Los Dagiang. Onda[4] kami parkir di Home Stay Reznita, telah banyak onda yang parkir di sini.

Hampir semua pembeli ialah kaum ibu, tak ada yang gadis apalagi lelaki. Hanya kamilah satu-satunya lelaki yang berbelanja daging pada hari Sabtu ini. Malu sebenarnya akan tetapi demi menolong ibunda kami ikhlas.

Kami membeli daging kepada seorang bapak-bapak, umurnya kira-kira telah menjelang 60 tahunan. Ketika kami sampai di sana langganannya sedang banyak menanti giliran, terdapat kita-kira enam orang amai-amai[5] yang sedang menanti pesanan mereka untuk diambilkan. Ada juga yang baru tiba langsung minta diambilkan, Si Engku hanya menjawab dengan santai “Ya.. tunggulah dahulu..”

Kami hanya diam saja semenjak tiba tadi. Kami berharap bapak ini ingat siapa yang datang dahulu dan siapa yang datang kudian.[6] Tatkala kami sedang khusyuk-khusyuknya menanti giliran, beberapa kali terperhatikan juga keadaan di sekitar.

Keadaan salah satu gang yang digunakan sebagai tempat parkir oleh pemilik sepeda motor. Terletak di samping Home Stay Rizneta di Pasa Bawah

Keadaan salah satu gang yang digunakan sebagai tempat parkir oleh pemilik sepeda motor. Terletak di samping Home Stay Rizneta di Pasa Bawah

Hari ini merupakan hari pakan, jadi sangatlah wajar banyak sekali orang-orang yang berdatangan. Ada para pedagang yang hilir-mudik membawa daging entah dari mana dan menuju kemana. Ada  pula beberapa wajah asing, sepertinya mereka sedang mengambil gambar (shooting). Terdapat satu orang juru ambil gambar, satu orang perempuan berwajah Cina yang kira-kira berusia 50 tahunan, satu orang laki-laki gendut berwajah Melayu, dan satu orang perempuan berwajah Melayu. Tak jauh dari tempat kami berdiri yakni di tempat orang menjual langkok-langkok,[7] tampak oleh kami sepasang orang kulit putih. mereka terlihat bercakap-cakap dengan salah seorang pedagang sambil si perempuan mengambil beberapa gambar kedai dan si engku yang punya kedai dengan kamera miliknya.

Ada pula beberapa orang peminta-minta, yang bagi kami kurang meyakinkan kepapaannya[8], dengan dipandu oleh seorang anak bujang berbadan tegap. Dia berjalan dengan memegang ember kecil di tangan kanan sebagai tempat menadahkan uang. Seolah-olah buta, dia selalu berucap “Assalamu’alaikum..” kepada orang-orang yang ditemui sebagai pertanda minta sedekah.

Kami hanya terdiam memandangi mereka “Ah.. sampai bilakah agama Islam akan digunakan sebagai alat untuk mengejar dunia oleh orang-orang pandir ini..?” seru kami dalam hati.

Ada juga tukang ngamen yang terdiri atas tiga orang anak bujang. Dengan susunan, satu bernyanyi, satu orang memegang gitar, dan satunya lagi mengiringi mereka berjalan sambil sesekali ikut bernyanyi. Meminta imbalan kepada orang-orang atas jasa mereka menghibur telinga dengan lagu yang mereka nyanyikan. Ada yang memberi ada pula yang tidak. Tidak seperti kabar-kabar perihal anak ngamen selama ini dimana mereka suka main paksa dalam meminta uang. Maka di Pasa Bawah ini mereka tidak melakukan hal yang demikian walau masih terasa nada memaksa pada cara mereka meminta uang.

Kemudian ialah seorang ibu-ibu yang memegang sebuah buku yang terkembang sambil menemui setiap orang dan berujar “Sumbangann untuk anak yatim engku, encik..”.

Usia beliau mungkin telah 70 tahunan, sudah tua. Kami kurang yakin dengan kebenaran sumbangan tersebut. Sebab telah beberapa kali tersiar kabar dan terdapati oleh orang-orang dimana sumbangan semacam ini hanyalah bualan belaka. Kamipun merasa demikian, namun rasa kasihan cepat menyergap tatkala terkenang betapa usia tua telah berlaku kejam kepada beberapa orang. Diabaikan oleh anak atau tak memiliki anak, dijauhi oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Sehingga memaksa sebagian orang menjadi peminta-minta karena tidak memiliki kepandaian untuk mencari uang. Entahlah..

Terakhir kami mendapati pemandangan yang cukup membuat kami malu. Adalah seorang ibu-ibu dengan membawa seorang anaknya yang kira-kira berusia antara 5-7 tahun. Sambil berjalan beliau berseru “Karupuak..karupuak..[9]

Daging di Los Dagiang Pasa Bawah.

Daging di Los Dagiang Pasa Bawah.

Kemudian ada salah seorang pedagang daging yang membalas “Karupuak ciek ni….”

Yang membuat kami haru dan malu ialah keadaan badan ibu ini yang tidak begitu tinggi, mungkin sekitar 100-120 cm. Namun air mukanya tidak menunjukkan kalau ia merupakan orang malang yang patut dikasihani. Wajah dan nada suaranya ceria, dengan senang hati dia memenuhi permintaan para pembeli untuk mengambilkan kerupuk yang terletak di dalam kantong plasti bening yang dibawanya.

Kerupuk yang dibawanya ialah kerupuk yang terbuat dari kapelo, seperti Karupuak Kamang. Hanya saja ukurannya lebih besar dari Karupuak Kamang. Kira-kira sebesar piring menengah besarnya. Kami mendengar tatkala orang-orang bertanya perihal anaknya yang perempuan. Rupanya yang dibawanya ialah anak lelaki keduanya, sedangkan yang sulung ialah perempuan. Beliau memiliki sepasang anak.

Kejadian tersebut terus terkenang dibenak kami. Sungguh tak patut kiranya apa yang telah kami lakukan dan perbuat selama ini “ Bersyukurlah engkau duhai tuan..” begitulah seru suara hati kami. Tak pantas kiranya kami mengeluh atas apa yang tidak dapat kami miliki. Tak patut pula kiranya kami hidup bermalas-malasan tatkala memiliki kesempatan untuk berbuat banyak. Janganlah menghambur-hamburkan uang untuk keperluan yang tak patut. Tengoklah kebawah, jangan selalu menengok ke atas..

 


[1] Kakek, datuk, moyang

[2] Rabu

[3] Merupakan nama warisan dari Belanda yakni Land Bow

[4] Motor

[5] Ibu-ibu

[6] Belakangan

[7] Rempah-rempah

[8] Kemiskinannya

[9] Kerupuk..kerupuk..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s