Angin di Surau

Engku dan encik masih ingatkah dengan kisah kami dengan Si Angin di surau

Surau kami di kantor sangat jarang dikunjungi. Salah seorang pengunjung setia ialah engku yang tengah shalat ini.

Surau kami di kantor sangat jarang dikunjungi. Salah seorang pengunjung setia ialah engku yang tengah shalat ini.

kantor kami yang dahulu?

Untuk kali ini, kisah yang terjadi tidak hanya antara kami dengan Si Angin saja. Melainkan juga ikut seekor burung pipit mengambil bagian pada kisah kami ini.

Kisah ini bermula tatkala pada Hari Itsnin (Senin) kami putuskan untuk menyapu mushallah. Kenapa kami pilih hari Itsnin engku dan encik sekalian?

Karena pada hari ini merupakan hari terkotor pada surau kami. Sebab kantor libur selama dua hari, dan selama dua hari itu pula surau dikumuhi, tidak hanya oleh debu ataupun kotoran lainnya, kan tetapi juga oleh anak-anak yang sering bermain dan berlatih tari di halaman kantor kami. Memang mengesalkan, akan tetapi hendak diapakan lagi, sudah tak ada cara untuk bercakap dengan baik dengan mereka.

Namun ada yang berbeda pada hari Itsnin ini, tatkala kami sedang asyik-asyiknya menyapu mushalla. Tiba-tiba dari atas terjatuh seekor burung, kami sangat heran karena burung ternyata bisa jatuh. Burung yang jatuh ialah sejenis burung Pipit, ketika kami sentuh dengan ujung sapu, burung ini sama sekali tak bergerak. Tampak keadaan badannya lemah, dia menatap lemah kepada kami. Rupanya burung ini sedang sakit.

Perlahan-lahan kami dihinggapi rasa bimbang. Hendak menolong, akan tetapi kami tak tahu menolong seperti apa, sebab kami tak memiliki tempat yang baik untuk burung ini. Bisa-bisa tambah melarat dirinya apabila kami bawa. Sedangkan apabila kami biarkan, kami merasa kasihan sebab tampaknya dirinya sedang membutuhkan bantuan. Sedang lemah ia..

Shaf perempuan. Lapiak (tikar) shalat sengaja selalu kami gulung sebab akan cepat kumuh pabila dibiarkan terkembang. Cukup dikembangkan ketika hendak shalat saja.

Shaf perempuan. Lapiak (tikar) shalat sengaja selalu kami gulung sebab akan cepat kumuh pabila dibiarkan terkembang. Cukup dikembangkan ketika hendak shalat saja.

Akhirnya kami lanjutkan saja menyapu, selepas menyapu kami arahkan pandangan kepada burung kecil itu. Dia masih di tempatnya, kedua kakinya ditekuk, dia berdiri tidak dengan telapak kakinya melainkan dengan pahanya. Sungguh kasihan..

Kami hanya berharap dengan berlindung di rumah Allah ini ia akan mendapat berkah, kalaupun tidak kematiannya diperingan dan dipermudah oleh Allah. Kami pergi dengan menyimpan do’a untuk burung kecil ini.

Tatkala kami hendak shalat ashar beberapa jam setelah itu. Kami dapati burung itu sudah tak ada, Alhamdulillah, rupanya dia selamat dari kematian.

Namun tatkala usai berwudhu dan hendak melakukan shalat, tiba-tiba mata kami tertuju kepada sosok burung kecil yang diletakkan di dekat dinding. Tubuhnya telah kaku, tubuhnya diletakkan disana oleh Pak Samsudin, tukang kebersihan kami. Kata beliau burung itu masih hidup tatkala diletakkan di sana, namun setelah diperiksa kembali rupanya sudah meninggal. Kamipun meminta tolong kepada beliau untuk menguburkannya, sebab kami hendak shalat.

Begitulah, akhirnya jasad burung malang tersebut dikuburkan oleh Pak Samsudin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s