Kawan Lama

Don't Forget The Old Friend! Ecclesiasticus 9 verse 10 (1611 KJV)Pernahkah engku setelah sekian lama tak bersua, kemudian kembali berhubungan dengan kawan lama? Kawan senasib sepenanggungan, sehilir-semudik, sama-sama berbuat gaduh, dan sama-sama pula pergi shalat ke surau. Kawan dimana persengketaan dilalui dan tak berapa lama kemudian kembali berbaikan. Kawan tempat saling mencurahkan isi hati, tempat memperbincangkan angan-angan, sampai mempergunjingkan dan mencaci orang lain.

Semua itu tinggal kenangan, karena perjalan nasib tiadalah tentu dan amat rahasia. Tak disangka takdir memisahkan engku dengan kawan engku tersebut. Nasib baik untuk engku, namun nasib malang untuk kawan engku. Engku telah memiliki penghidupan, sedangkan ia pontang-panting memperjuangkan penghidupan. Memang begitulah dunia ini engku, penuh rahasia dan kejutan tiada henti.

Entah telah berapa lama engku berpisah dari kawan engku tersebut. Kemudian terdengar kabar darinya. Bagaimana kiranya perasaan engku?

Gurau dan garah tentulah menghiasi perbincangan engku berdua. Saling bertukar kabar, menceritakan kabar pengalaman antara engku berdua. Tentulah serupa itu, asyik bercerita hingga lupa waktu. Rindu dendam makin membara, perlahan-lahan rasa ngilu kembali menyergap tatkala engku diceritakan kalau dia masihlah serupa itu jua.

Bekerja dengan orang beserta penghasilan yang tak tentu. Bekerja dari pagi hingga petang tanpa mendapat kepastian imabalan yang didapat apakah sepadan dengan jerih yang telah dikeluarkan. Bekerja berhari-hari ke negeri-negeri jauh, entah bila dapat bersua dengan orangtua.

Hidupun masih tetap membujang karena tak ada seorangpun yang hendak menjadikan menantu. Sebab kerja yang ada dinilai belum memberikan arti bagi kehidupan nanti bila berumah tangga. Orang sekarang hendak mencari menantu pegawai, ataupun orang bapitih, serta berpangkat jabatan. Apabila belum punya, jangan berani-berani untuk berfikir menikahi anak orang, kubur saja dalam-dalam keinginan engku tersebut.

Berselang setelah bertukar kabar tersebut, kira-kira sebulan dua bulan kemudian. Maka tibalah telfon yang tak disangka-sangka. Apa hal engku?

Kawan malang ini meminta dipinjami uang, dia sedang jauh di negeri orang. Tak ada orang yang dapat dimintai tolong. Sungguh merana dan malangnya nasib kawan engku ini. Bahasa yang dipakai ialah meminjam namun engku sebenarnya tentunya arif, ini ialah permintaan bukan peminjaman.

Tentunya engku penuhi, kawan mana yang sampai hati menolak permintaan kawan lama tersebut. Dia sedang berada dalam kesusahan, sedangkan awak cukup beruntung bernasibkan pegawai. Kawan lama yang entah bagaimana nasibnya kelak, akankah dapat dia bertahan menerima setiap cobaan..?

Bagaimana kira-kira perasaan engku, seperti apakah ia sekarang gerangan? Bagaimana perasaan engku apabila terkenang akan dirinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s