Berbangsa “Raja”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Kalau bercakap hendak di dengar, kalau berkata hendak dituruti, kalau minta hendak terkabul, kalau menyuruh hendak dikerjakan. Masya Allah, sungguh tak dapat awak bercakap lagi, entah kenapa orang-orang zaman sekarang. Bertabiatkan kasar, berwatak keras, tak baraso, tak hendak mempertenggangkan orang lain. Lamak di awak, ka tuju diurang sudah tak terpakai lagi..” keluh Syarifudin tatkala baru sampai di rumah sewaan kami.

Entah apa yang terjadi dengan dirinya, baru pulang sambil menghempaskan tas yang disandangnya, Pudin, begitu kawan kami ini dipanggil langsung berkeluh kesah. Air mukanya geram minta ampun, sepatunya yang “teramat bersih” dibawanya saja ke dalam rumah. Selepas itu dia duduk di karpet murahan kami yang berguna selain sebagi tempat kami duduk, juga berguna untuk menjamu tamu apabila bertandang.

Ismail atau Mail memandang tajam ke arah sepatu Pudin, yang empunya rupanya tak sadar. Matanya menerawang ke dinding bilik kami. Entah apa yang dipandangnya, tak ada satupun gambar ataupun hiasan dinding yang tergantung. Yang ada ialah dinding kusam yang telah mengelupas tempelan semennya. Terdapat juga retakan di sana-sini, mungkin baginya saat itu, pemandangan dinding yang kusam-muram itu merupakan pemandangan yang menakjubkan, dapat mengobati hatinya yang sedang rusuh.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Ada apa engku, kenapa baru pulang sudah merana? Apa hal yang telah berlaku di kantor sehari ini?” tanya kami kepadanya.

Dengan tidak mengalihkan pandangan dari dinding kusam-muram bilik kami disertai dengan wajah hampa, diapun berkata dengan lemah “Another rubish on my world my dear friend..” jawabnya belagak.

Mail tertawa tertahan, Pudin menghiraukannya, tak hendak mencari lawan. Sedangkan kami keheranan “Rubish? I know, but what happen..?” balas kami tak hendak kalah.

Sekarang Mail sudah tak tahan dan tertawalah ia, kamipun ikut tertawa, sedangkan Pudin hanya tersenyum kecil. Baginya cukup berarti, setidaknya menjadi hiburan di petang hari yang cukup panas ini. Sehari ini, matahari sama sekali tak berbelas kasihan kepada kami. Bersinar dengan teriknya, menyemburkan hawa panas membakar kulit, membuat sesak.

Setelah reda tawanya, Ismailpun kemudian menimpali “Ah.. engku tak usahlah dihiraukan dan jangan diambil hati. Orang-orang serupa itu takkan berubah. Tidak hanya engku, namun kita semua menghadapi makhluk dengan jenis yang serupa di kantor kita masing-masing. Katanya sudah sarjana, tamatan perguruan tinggi. Namun tabi’atnya masih serupa orang tak bersekolah. Seperti kata orang engku, Intelectual Quotient (IQ)nya memang tinggi namun Emotional Quotient (EQ)nya rendahan..”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Kamipun teringat akan perkataan salah seorang kawan “Benar engku, kata salah seorang kawan kami orang yang IQnya tinggi, EQnya pastilah rendah. Hanya beberapa orang saja yang bersua oleh kami sejalan IQ dengan EQnya..” seru kami.

Pudin terdiam, Mailpun terdiam, kami semua terdiam. Lalu tiba-tiba Pudin berujar “Orang berbangsa raja, begitulah pendapat salah seorang kawan kepada kami di kantor..”

Kami dan Mail hanya tersenyum. Benar, pendapat serupapun telah pula kami dengar dari salah seorang pegawai gaek. Orang yang besar kepalanya, merasa dia paling tahu, paling hebat, paling pintar, dan paling senior. Semua orang musti takluk di bawa telapak kakinya. Begitula, sangat banyak orang serupa itu kami dapati dalam kehidupan sekarang. Orang-orang yang telah mati hati dan akalnya,..

“Jadi, janganlah engku sampai bersusah hati serupa itu, cobalah tengok. Karena engku bersusah hati, awak yang payah nanti..” seru Mail kemudian.

“Hah.. apa hal..?” tanya Pudin terkejut.

“Payah kami membersihkan rumah nanti, cobalah tengok. Akibat begitu susahnya hati engku, sampai-sampai engku lupa membuka sepatu engku yang mengkilat itu..”jawab mail jenaka.

“Haha..haha..” gelak kami bertiga bersamaan.

“Haha..eeh, maaf engku, sampai lupa awak..”jawab Pudin malu-malu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s