Egoisme..

world-photography_13

Ilustrasi Gambar: Internet

“Saya takut berubah engku, kehidupan masa sekarang telah membuat pribadi masing-masing orang di negeri kita menjadi kasar. Termasuk orang-orang disekitar saya, mereka telah menjadi prinadi-pribadi tak berhati. Keras watak mereka dan kasar perilaku mereka, telah pekak telinga dan hati mereka. Percuma diberi oleh Allah telinga dan hati sebab keduanya tiada dipergunakan oleh mereka. Tak pernah memandang dan mengukur diri, yang tampak ialah kesalahan orang saja. Jika terjadi suatu kejanggalan ataupun kesilapan maka itu ialah kesalahan orang lain, namun pabila yang muncul ialah suatu kesukaan maka itu ialah kerja dirinya. Begitulah keadaannya engku..” terang salah seorang kawan kami pada suatu ketika.

Kami masih terkenang dengan percakapan tersebut. Hari itu ialah hari Rabu petang, kawan kami sedang kepayahan sebab semenjak pagi dia telah ditempa dengan berbagai kemalangan. Tak ada seorangpun yang bertanya dan dapat dijadikan beriya-berkata. Semuanya dilaluinya sendiri. Padahal beberapa orang kawan-kawannya di kantor selalu berkata perkara “kebersamaan”. Mengerjakan segalanya bersama-sama dan saling tolong menolong. Namun dalam perkara yang dihadapinya, tak ada seorangpun yang hendak menolong dirinya. Mereka hanya hendak senang saja, tak hendak mau tahu perihal keadaan dirinya.

Sedih hati kami memandang dirinya, tak ada satupun yang dapat kami perbuat untuk meringankan bebannya. Ketika itu kami tinggalkan dirinya dengan segala masalah yang ada padanya. bukan tak hendak menolong namun karena memang tak ada yang dapat kami lakukan untuk menolong. Benar-benar di luar kuasa kami.

Memanglah demikian pabila kita masih berkeras hati hendak hidup dengan budaya kita. Apapun jenis budayanya, namun asalkan itu masih budaya timur maka dia akan hidup dalam kehalusan budi pekerti pengajaran orang dahulu. Namun pabila dia telah berkeputusan untuk keluar dari lingkungan budaya pengajaran orang tua masa dahulu maka dia akan berubah menjadi pribadi yang keras dan kasar.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Benar kata orang bijak, bukan dunia yang berubah melainkan manusia yang mendiami dunia itu yang berubah. Memanglah demikian hukum alam, Sunnah Tullah, tak ada yang tetap, perubahan mestilah terjadi. Namun kitalah yang seharusnya memandu dan mengendalikan perubahan tersebut. Bukannya menyerah dan mengikuti saja segala perubahan yang tak sesuai dengan lingkungan budaya kita.

Kami perhatikan, selembut dan selunak apapun seseorang maka sifat yang demikian hanyalah pada kulit luarnya saja. Walaupun sebenarnya sifat demikian telah ada pada dirinya, telah menjadi bawaan dirinya, telah diwarisi dari keluarganya namun hal tersebut akan berubah apabila dia telah hidup dan bergaul dengan orang-orang pada lingkungan tertentu.

Kami perhatikan lagi, sifat luar yang lunak seperti cara berbicara dan cara menghadapi orang lain hanyalah tampak luarnya saja. Sebab apabila telah lama dipergauli maka sifat keras dan kasarnya akan segera tampak. Kami tak hendak menyalahkan dirinya, sebab memang begitulah keadaan sekarang. Pergaulan dalam hidup dimana setiap orang tertumpu keinginannya dalam persaingan untuk memuaskan kepentingan diri, mencapai kesukesan dalam hidup seperti jabatan dan kekuasaan, mencari keuntungan dalam perniaga, dan lain sebagainya. Telah membuat setiap orang menjadi berubah, segalanya berjalan tanpa aturan tak ada nilai-nilai etika yang memandu.

Begitulah engku, entahlah apakah itu pendapat kami saja. Kalau memang demikian kami mohonkan maaf, tak ada maksud mengata-ngatai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s