Engku Musafir

musafir cinta

Ilustrasi Gambar: Internet

Kami hanya mendapat jawapan “Engku bacalah saja, kan tahu juga engku nantinya. Asal engku tahu saja, saya mendapat buku langsung dari pengarang beserta tanda tangan dan ucapan terimakasih..”

Kamipun hanya dapat menyimpan rasa ingin tahu. Setelah kami baca, kami menjadi iri kenapa bukan kami yang bersua dengan orang ini..

Selamat membaca..

Hari ini sesungguhnya ialah hari yang biasa, namun menjadi lain dari yang biasanya tatkala kami bersua dengan salah seorang yang terlihat biasa-biasa pula pada awalnya. Namun rupanya tidak, dia bukan orang biasa melainkan seorang lelaki dengan tekad luar biasa. Dengan segala keterbatasan pada dirinya, dikawani oleh penyakit yang sedang dideritanya, dia datang dari Ujung Barat Pulau Jawa menuju Pulau Andalas. Tapak pertama yang dilaluinya ialah ujung paling utara dari pulau Andalas, Kilometer Nol.

Datang ke pulau ini karena ingin menelusuri jejak buyutnya yang dibuang oleh Belanda pada permulaan abad kedua puluh. “Dibuang karena membunuh Belanda” begitlah curaian[1] dari ibundanya.

Niat suci untuk menyenangkan hati ibunda yang biasa dipanggilnya dengan sebutan “mak” menjadi modal utama bagi dirinya. Sendirian berjalan dari ujung paling barat dari republik ini atau ujung paling utara dari Pulau Andalas ini. Singgah ke beberapa kota, mencari dan menyusuri jejak Kakek Buyutnya kemudian bersua dengan kawan-kawan sefaham, sambil beramal dengan memberikan beberapa ilmu yang dimilikinya.

Perjalanan dilakukannya seorang diri dengan menumpang bus-bus antar propinsi. Penyakit tulang yang dideritanya membuat dia harus membatasi perjalanan hanya 16 jam saja. Tak jarang pabila penat datang dan sakit mendera, dia akhirnya terpaksa berdiri di atas bus guna memulihkan tenaga dan berehat dari duduk lama.

Sawahlunto, tidak ada rencana untuk datang ke kota ini. Telah lama didengarnya nama kota ini namun hanya sebatas nama. Tatkala melihat pelang nama kota ini diperbatasan kota, maka jiwa petualangnya berbicara. Kepada cingkariak[2] dia minta bus berhenti, turun di Desa Muaro Kalaban, sebuah desa yang terletak di tepi Jalan Lintas Sumatera. Bersama-sama dengan Desa Silungkang,[3] Desa ini telah masuk ke dalam Daerah Administratif Kota Sawahlunto.

Dengan menumpang ojeg dia menuju ke Pusat Kota Sawahlunto yang terletak delapan kilometer arah ke utara, memasuki untaian perbukitan dengan jalan berliku dan berlurah yang terletak di pinggang bukit. Kepada Tukang Ojeg dia berpesan agar dicarikan tempat penginapan yang murah. Bukan karena tak ber-uang, namun memang begitulah trik bagi para musafir (pengelana, back packer, traveler) karena banyak tempat yang hendak mereka singgahi.

Akhirnya dia sampai juga, sebuah kota kecil[4] yang terletak di dasar lembah, dialiri oleh sungai yang membelah lembah tersebut, Batang (Sungai) Lunto namanya. Beberapa bangunan tua peninggalan Belandapun masih dapat dinikmati hingga kini. Diapun bertanya kemanakah eloknya kakinya dilangkahkan untuk memuaskan dahaga jiwa petualangnya?

Maka ditunjukilah Museum Goedang Ranseom, Lubang Tambang Mbah Soero, dan Museum Kereta Api. Ketiga objek wisata tersebut terletak di pusat kota, mudah dijangkau hanya dengan berjalan kaki saja. Maka pergilah ia ke kawasan Air Dingin dimana Museum Goedang Ransoem berada. Dijelajahinya setiap sudut dari museum yang dahulunya merupakan bekas Dapur Umum untuk para buruh tambang batubara.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Dasar traveler, dia membeli dua buah buku dan mendapat satu hadiah berupa buletin dari museum. Bukan baju ataupun pernak-pernik lainnya melainkan buku. Sungguh pelancong yang langka di republik ini. Padahal dia memiliki seorang isteri dan empat orang anak, namun dia memilih buku. Ya.. buku ialah hadiah terindah..

Kemudian dia pergi menuju Lubang Tambang Mbah Soero yang merupakan lubang tambang pertama di Lembah Segar. Namun dia merasa aneh, bersama dirinya ikut pula dua orang berseragam Kuning Kheki ke dalam lubang. Ada apapula ini? disangka malingkah ia sehingga selain pemandu, dirinya harus dikawal pula oleh dua orang pegawai pemerintah ini?

Setelah ditanya kepada pemandu yang memandu dirinya, maka diperolehlah keterangan bahwa kedua orang ini merupakan pegawai dari Seksi Permuseuman yang membawahi ketiga objek wisata yang terletak di Lembah Segar ini. Mereka sedang mendapat tugas untuk mempelajari cara-cara memandu ke dalam lubang tambang oleh atasan mereka. Adalah merupakan suatu kebetulan saja mereka masuk bersama-sama dengan dirinya.

Kebetulan? Suatu kata yang tidak dianjurkan oleh agama yang dianutnya. Sebab sehelai daun yang jatuhpun telah ditulis oleh Sang Khalik dalam Kitab Lauh Mahfudz miliknya.

Selepas keluar dari lubang tambang, diapun menawari ketiga pegawai ini untuk minum. Awalnya mereka segan atau kasihan mungkin dengan dirinya. Namun akhirnya mereka bertiga memesan juga tiga buah the botol. Dia sudah terbiasa mendapat perlakuan yang demikian, dia faham sebab bagi orang yang pertama bersua dengan dirinya tentulah selalu terbit rasa iba akan dirinya. “Suatu tanda bahwa mereka masih punya hati” dia berusaha berbaik sangka.

Ketiga pegawai ini bercakap-cakap dengan mengunakan Bahasa Minang dengan diselingi Bahasa Indonesia. Barulah dia kemudian diberitahu bahwa di Sawahlunto ini terdapat bahasa kreol yang dinamai dengan Bahasa Tangsi. Merupakan campuran dari Bahasa Minang, Melayu, Jawa, dan Sunda.

Dengan ramah akhirnya diapun perlahan-lahan mencoba untuk masuk ke dalam percakapan. Diapun menawari “Apabila salah seorang dari engku dan encik[5] berkesempatan datang ke kampung saya di Banten maka bolehlah kiranya untuk datang ke rumah saya..”

Merekapun menjawab dengan senang hati “Betulkah engku, baiklah kalau begitu. Kami akan sangat senang sekali pabila diberi kesempatan untuk menziarahi engku dan keluarga suatu masa kelak..”

Maka diberikannyalah alamat rumah, nama, serta nomor telfonnya. Tatkala sedang mendiktekan alamat rumah, nama, dan nomor telfonnya salah seorang dari mereka yang mencatat itu semuapun tersenyum simpul ke arah dirinya. Dan kemudian bertanya “Kalau boleh kami tahu, siapakah nama bekennya engku ini..”

Dia terkesiap, tak menyangka dirinya akan ketahuan. Diapun bertanya “Jadi engku tahukah dengan nama saya itu..?”

Yang ditanyapun menjawab “Ya.. saya tahu engku..”

Maka selepas itu si engku yang bertanya tadipun meminta izin untuk mengambil gambar berdua dengan dirinya. Dengan senang dia menjawab “Terimakasih engku karena telah membawa tulisan saya..”

Pembicaraanpun berlanjut, apalagi setelah datang salah seorang peminat sejarah yang juga merupakan salah seorang keturunan Orang Rantai[6] di Sawahlunto. Kemudian diapun menawari kepada si engku yang berhasil menerka siapa dirinya “Berhubung engku telah tahu siapa diri saya, maka bolehlah kiranya engku membawa beberapa orang anak SMA untuk bersua dengan saya guna bertukar fikiran menenai kepenulisan..”

Si engku tersebutpun tergagap, sebab tampaknya dia tak kenal dengan seorang anak SMApun di kota ini. kemudian si engkupun menimpali “Kalau anak SMA saya tak tahu engku. Bagaimana kalau saya bawa beberapa orang kawan saya saja..”

“Baiklah tak apa, nanti malam pukul delapan baiknya kita bersua. Engku datanglah ke hotel tempat saya menginap..”

Tak lama selepas itu merekapun berpisah, telah lewat pula pukul empat petang hari. Para pegawai telah banyak berselisih dengannya di perjalan kembali ke hotel. Petang hari ini, kota kecil ini kembali hidup. Orang-orang menjadi ramai dijalanan yang beberapa jam lalu dilaluinya masih lengang.

Dalam perjalanan pulang dia merasa heran, kenapa pula si engku itu sampai tak kenal dengan seorangpun anak SMA di kotanya. Dia segan bertanya, kalau bertanya tentulah akan dijawan oleh si engku “Saya bukan orang asli sini engku, saya masih baru bekerja di sini, asal saya ialah dari Bukittinggi..”

Kenapa demikian? karena si engku itu ialah diri kami sendiri..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Pukul delapan malam kami kembali bersua. Kami menuju Café Societeit yang dahulunya merupakan pusat hiburan bagi petinggi Belanda di Sawahlunto. Di seberangnya terdapat Hotel Ombilin dan beberapa bangunan tua lainnya. Gedung kafe ini pada masa sekarang memiliki nama resmi Gedung Pusat Kebudayaan (GPK). Sedangkan kafe hanya menempati bagian terasnya saja.

Sampai pukul sepuluh lewat kami bercakap-cakap seputar kepenulisan. Kami membawa serta dua orang kawan yang telah kami kumpulkan dengan susah payah. Dua orang perempuan muda yang satu kantor dengan kami. Bersama kami kemudian ikut pula bergabung kembali si bapak peminat sejarah yang petang hari tadi ikut bercakap-cakap dengan dirinya di Lubang Tambang Mbah Soero.

Rupanya pertemuan malam itu merupakan pertemuan penutup kami untuk kedatangan pertama dari Si Engku Musafir ini ke Sawahlunto. Sebenarnya besok kami berencana kembali bersua namun Allah berkehendak lain. Pagi subuh dia sudah berangkat pergi dari Sawahlunto menuju Lubuk Linggau.

Tatkala bercakap-cakap di Café Societeit, sempat terlontar dari mulut Sang Musafir, beliau memperkenankan kami mengutipnya. Kata Gol A Gong  “Sawahlunto ini kota yang mungil dan cantik”


[1] Bahasa Minang untk “tutur”

[2] Bahasa Minang untuk kondektur, orang Minangkabau juga sering menggunakan kata stokar selain cingkariak.

[3] Semenjak diberlakukannya Perda Kembali Ke Nagari, seluruh desa-desa di Minangkabau telah kembali ke bentuk pemerintahan Nagari, kecuali untuk daerah tingkat dua berupa kota. Desa Muaro Kalaban dan Desa Silungkang yang terbagi kepada tiga desa sesungguhnya berada dalam satu pemerintahan nagari yakni Nagari Silungkang.

[4] Sesungguhnya Sawahlunto bukanlah merupakan kota kecil karena dari segi luas wilayah merupakan yang kedua terluas di Sumatera Barat setelah Kota Padang. Namun kebanyak pelancong sering memaknai lain yakni dengan sebutan “Kota Kecil” karena menurut anggapan mereka Kota Sawahlunto ialah Pusat Kota Lama saja.

[5] Engku merupakan kata ganti untuk mas atau pak sedangkan Encik merupakan kata ganti untuk mbak atau ibu bagi masyarakat Minangkabau. Namun pada masa sekarang panggilan tersebut telah hilang dari kearifan lisan masyarakat Minangkabau. Digantikan dengan kata uda, uni, pak, atau ibu.

[6] Tahanan dimasa Kolonial yang memiliki masa tahanan di atas lima tahun dan kemudian dikirim ke berbagai perkebunan dan pertambangan di Hindia Belanda masa itu. Di Minangkabau mereka dijuluki dengan julukan “Orang Rantai” oleh masyarakat setempat. Hal ini karena selama ditahan tangan dan kaki mereka dirantai oleh Pemerintah Kolonial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s