Tatkala Logika mengalahkan Hati

Gambar: Internet

Gambar: Internet

Kami sadar bahwa tulisan kami ini sudah terlambat agaknya. Dahulu kami kurang begitu perhatian membahas perkara ini, sebab sudah banyak yang membahasnya dan pembahasan kamipun takkan jauh berbeda dengan beberapa tulisan yang ada. Namun beberapa masa yang lalu tak sengaja kami membaca sebuah tulisan di salah satu situs berita online di Sumatera Barat.[1] Tulisan dari seorang yang mengaku dirinya seorang intelek[2] dengan kekhususan bidang yang dikuasainya ialah ekonomi. Penulis merupakan salah seorang auditor yang telah beberapa tahun ini melakukan audit terhadap Grup Lippo termasuk di dalamnya Rumah Sakit Siloam.

Tulisan tersebut memberikan gambaran mengenai pekerjaan sang penulis selama melakukan audit terhadap perusahaan yang menjadi masalah bagi kita di Minangkabau saat ini. Penulis memberikan kesaksian langsung bahwa tidak ada masalah dalam audit tersebut. Kalaupun ada yang disalah-gunakan untuk kepentingan Kristenisasi, tentulah akan ketahuan ketika melakukan pengauditan.

Dalam hal ini, tampaknya kita mendapat tambahan informasi dari si penulis mengenai perkara ini. Kemudian si penulis melanjutkan tulisannya dengan membahas perkara di luar bidangnya. Yakni dengan mencemooh sikap kita orang Minangkabau yang terlalu membesar-besarkan masalah ini. Si penulis mengatakan bahwa nilai-nilai agama, adat, dan budaya seharusnya tidak boleh dipertentangkan dengan pembangunan ekonomi.

SEPILIS+Sosialis ialah Racun Bagi Agama Kita. Gambar: Internet

SEPILIS+Sosialis ialah Racun Bagi Agama Kita.
Gambar: Internet

Kami segera insyaf akan diri si penulis, rupanya dia merupakan seorang yang menganut Mazhab Liberal dan Sekuler. Tujuan sebenarnya dari si penulis ialah memisahkan agama dari kehidupan masyarakat, mengucilkan peranan agama dan adat hanya pada urusan pribadi masing-masing orang saja. Sebab setelah agama terpisah dan dikucilkan hingga mengurusi urusan peribadi setiap orang saja. Maka akan memudahkan mereka dalam menghancurkan agama itu sendiri. Itulah misi (tujuan) sesungguhnya dari orang-orang serupa ini.

Engku dan encik tengok sajalah Eropa (Barat) yang sebagian besar dari masyarakatnya tidak beragama (ateis). Dusta kalau dikatakan bahwa sebagian besar masyarakat Eropa itu menganut agama Kristen. Ini semua merupakan buah dari Liberalisme dan Sekulerisme.

Benar, tatkala si penulis menjelaskan duduk perkara ini dari sudut pandang (perspektif) ekonomi yang difahaminya. Namun tatkala dia mulai mangaca[3] perkara kehidupan beragama dan beradat. Maka tampaklah kedangkalan pola berfikirnya. Dalam pandangannya, kemajuan suatu daerah itu ialah sama (identik) dengan kamajuan di bidang ekonomi. Dapat ditengok dengan tingginya PAD pada suatu daerah serta tingkat kemiskinan.[4]

Gambar: Internet

Gambar: Internet

Benarkah demikian? Kamipun bertanya-tanya, adakah daerah yang tinggi PADnya di Indonesia ini yang angka kemiskinannya kecil dan penduduk pribuminya yang sejahtera? Kecuali Bali tentunya.[5]

Inilah akibat dari pendidikan sekuler negara ini serta standar yang dipakai untuk menilai ialah uang, kesejahteraan, dan kekayaan. Sumbar memang bukan propinsi kaya dengan PAD yang tinggi. Namun tingkat kelas menengah di propinsi ini cukup besar untuk ukuran daerah ber-PAD kecil. Silahkan kita bandingkan dengan daerah lain yang kaya namun jalan-jalan mereka buruk menyimpan petaka. Serta banyak penduduk asli (pribumi) mereka yang melarat hidupnya, dan permasalahan tanah yang selalu bermasalah dengan Pemerintah dan Pengusaha (investor).

Sumatera Barat sesungguhnya tidak membutuhkan investor,  melainkan sesosok pribadi yang dapat menyatukan para perantau yang kaya-kaya itu untuk membangun negeri. Adalah suatu kearifan yang dapat kita petik dari salah seorang pengusaha Indonesia keturunan Cina kelahiran Sumatera Barat. Beliau tak hendak berinfestasi di Sumatera Barat karena cemas nantinya akan berakibat matinya usaha orang Minangkabau. Sungguh suatu pemikiran yang bijak.

Gambar: Internet

Gambar: Internet

Marilah engku dan encik sekalian, berhentilah kita menjadikan UANG sebagai standar dalam menilai segala sesuatunya. Membuat suatu kawasan (komplek) mewah (elit) hanyalah demi kepuasan nafsu (ego) saja. Memperlihatkan bahwa  daerah kita telah maju dan kaya. Itu hanyalah simbol, life sytle, dan kebiasaan yang tak patut untuk kita tiru di Minangkabau ini. Tergadai Minangkabau ini nantinya duhai engku dan encik sekalian.

Orang-orang yang menikmati fasilitas mewah tersebut ialah orang-orang kaya, beruang. Sedangkan orang-orang melarat, fakir, tetap mendapat fasilitas seadanya, bahkan tiada mendapat fasilitas apa-apa. Berbagai proyek bersifat pencitraan dan mercu-suar, hanyalah untuk mencari nama, menumpuk kekayaan, dan memperlihatkan betapa dalamnya perbedaan antara si kaya dan si miskin hina papa. Na’uzubillah..

PS: Kami sengaja tidak mencantumkan alamat situs dan nama orang demi menjaga raso jo pareso. Terutama dalam diri kami sendiri. Raso itulah yang tak ada pada diri kita orang Minangkabau masa sekarang.


[1] Link dari situs ini ditautkan oleh salah seorang dosen pada salah satu Universitas ternama di Sumatera Barat. Dengan kecenderungan berfikir atau mazhab pemikiran yang dianutnya ialah Sosialis. Kami cukup terkejut karena seorang sosialis memberikan dukungan terhadap rumah sakit ini. Yang nyata-nyata milik seorang Kapitalis. Memanglah benar kata orang-orang cendikia dalam agama kita (Islam) bahwa orang-orang kafir (termasuk di dalamnya orang-orang fasik dan munafik) ketika berhadapan dengan Islam, maka mereka akan bersatu. Terlepas dengan perbedaan yang ada pada diri mereka.

[2] Penulis tersebut ialah Sekjen pada salah satu perkumpulan alumni dari salah satu organisasi kemahasiswaan di Indonesia. Organisasi yang memakai “embel-embel” Islam ini telah lama diketahui disusupi atau dipengaruhi oleh Ideologi Liberal. Dimana organisasi mahasiswa ini pecah kepada beberapa fraksi, salah satunya ialah Fraksi Dipo (singkatan dari Diponegoro, karena memiliki kantor di sana) yang telah terpengaruh oleh ideologi SEPILIS.

[3] Menyentuh, Bahasa Minangkabau

[4] Data-data tersebut didapat dari data statistik yang sebagian kalangan banyak memperdebatkannya.

[5] Yang patut membuat kita malu ialah Bali bukanlah propinsi yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s