Bersikap Bijak terhadap Masa Lalu

Salah satu sudut Istanbul, Turki Usmani Ilustrasi Gambar: Internet

Salah satu sudut Istanbul, Turki Usmani
Ilustrasi Gambar: Internet

Beberapa hari ini kami membaca sebuah buku yang selama ini kami hindari untuk membelinya. Namun takdir berkata lain, salah seorang kerabat menghadiahkan buku tersebut kepada kami. Senang tentunya, namun juga cemas. Apa sebab?

Sebelumnya kami telah pernah melihat, tidak hanya melihat melainkan juga memegangnya. Kebiasaan apabila telah memegang sebuah buku ialah membaca pada kulit bagian belakangnya dimana dimuat rangkuman isi dari buku tersebut. Dan ketika membacanya kami menjadi ragu, apalagi setelah membaca  bagian dalamnya agak sedikit. Mampukah iman kami bertahan menghadapi propaganda liberalis?

Setelah membaca kami semakin insyaf bahwa buku ini sangat berbahaya bagi orang-orang yang masih dangkal pengetahuannya tentang Islam. Apakah itu sejarah maupun fiqih.

Buku ini diawali dengan kisah imajinatif mengenai seorang Panglima Perang Turki yang bernama Kara Mustafa Pasha. Kemudian dilanjutkan dengan kisah-kisah mengagumkan namun penuh dengan pesan-pesan liberalis.

Austria Ilustrasi Gambar: Internet

Austria
Ilustrasi Gambar: Internet

Salah satu pendapat penulis yang ketika itu tinggal di salah satu negara Eropa mengenai Kekaisaran Turki Usmani ialah bahwa mereka menyebarkan Islam dengan peperangan, dengan pedang. Dimana hal ini menjadi pandangan mutlak bagi Orang Eropa. Penulis yang merupakan tamatan ilmu eksak ini tentunya tidak memiliki basic (dasar) dalam menilai perjalanan sejarah suatu negara. Tidak hanya satu, melainkan beberapa negara. Cara berfikir tamatan Ilmu Eksak sangat berbeda dengan tamatan Ilmu Sosial.

Dan pandangannya mengenai perjalanan sejarah telah dapat diterka, apalagi ke dalam hatinya telah terpatri nilai-nilai dari liberal (kebebasan). Pandangan menghakimi (judge) langsung terasa, walau penulis menyampaikannya melalui mulut Si Putri Turki. Apalagi ketika penulis membandingkannya dengan Peradaban di Andalusia, tentulah keduanya sangat berbeda. Tantangan kehidupan berbeda, mazhab agama juga berbeda, wilayah kekuasaan yang berbeda, tipekal orang-orangnyapun berbeda.

Kami justeru ingin mengatakan, bahwa salah satu sebab kejatuhan Andalusia ialah karena penguasa muslim di sana terlalu toleran terhadap orang-orang kafir..

Kami tidak hendak membantah, namun hanya hendak meluruskan. Bahwa dalam menilai suatu peristiwa sejarah ialah menjadi pantangan bagi para sejarawan menilainya dari perspektif (sudut pandang) masa sekarang.

Sebab keadaan zaman telah berbeda (zaman telah berubah), tantangan hidup berbeda, pola fikir berbeda, nilai-nilai yang dianut berbeda, pandangan hidup berbeda, dan lain sebagainya. Para sejarawan menyebutnya dengan zeitgest atau Jiwa Zaman.

Untuk memahami sejarah, kita harus benar-benar mempelajari peri kehidupan orang pada zaman itu dari segala sisi. Agar subjektifitas dapat kita tekan seminimal mungkin..

Masjid Katedral Cordoba, Spanyol. Dahulu Masjid Terbesar dan Terindah, Sekarang Gereja Katholik Ilustrasi Gambar: Internet

Masjid Katedral Cordoba, Spanyol.
Dahulu Masjid Terbesar dan Terindah, Sekarang Gereja Katholik
Ilustrasi Gambar: Internet

Penulis juga menafikan megenai Jihad Dengan Pedang. Bagi Muslim Cinta Damai (SEPILIS) pada masa sekarang, hal tersebut ialah momok. Namun benarkah demikian?

Adalah kawan kami yang pada suatu ketika membahas khutbah yang disampaikan seorang ustadz pada suatu Jum’at. Mereka menyebut-nyebut peringatan Sang Ustadz mengenai “Melazimkan perkara yang terpantang dan memantangkan perkara yang lazim”

Kami rasa tujuan mereka telah tercapai, Jihad Dengan Pedang menjadi tercela pada masa sekarang..

Kami rasa tak perlu pula kami memaparkan dan membahas mengenai dalil-dalil yang membenarkan Jihad Dengan Pedang. Namun perkenan kami memberi jawapan bahwa jika yang dijadikan landasan pada masa sekarang ialah orang-orang berjanggut yang ditangkap, dimasukkan kedalam tangsi (penjara), kemudian dipertontonkan di hadapan televisi. Maka terlalu naiflah rasanya sebab kita sudah sama-sama tahu mengenai permainan intelejen dan media di negara ini (Dan Juga Dunia).

Jadi engku dan encik sekalian, bersikap adillah. Jangan hanya kepada orang kafir (non muslim) namun yang utama kepada saudara sendiri. Kenapa engku dan encik dapat hidup berdampingan dengan orang kafir sedangkan dengan saudara seagama sendiri justeru saling benci dan berjauhan..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s