Jawapan atas cemoohan SEPILIS

Iman ialah tumpuan utama. Jika sudah ada keraguan, pertanda iman sedang digoyahkan. Bulatkan Tekad dan Berbaik Sangkalah kepada Islam Ilustrasi Gambar: Internet

Iman ialah tumpuan utama. Jika sudah ada keraguan, pertanda iman sedang digoyahkan. Bulatkan Tekad dan Berbaik Sangkalah kepada Islam
Ilustrasi Gambar: Internet

Kami pernah bercakap-cakap dengan dua jenis orang yakni seorang sosialis dan seorang lagi ialah Sepilis.[1] Pokok percakapan kami ialah sama yakni perihal Islam, Syari’a, dan Khilafah. Kami bercakap-cakap dengan waktu yang berlainan, namun kedua orang ini tampaknya sefaham dalam menyerang ideologi Islam.

Pertama mereka sama-sama mencemooh perihal keadaan umat Islam yang katanya anti kepada Barat & Yahudi namun segala macam produk hasil dari kebudayaan dan ilmu pengetahuan mereka masih tetap saja dipakai oleh orang-orang Islam “Kalian memakai Handphone, Laptop, Tablet, Internet, Sepatu dan Pakaian dengan mereka Nike, ..!”

Kamipun menjawab “Pertama, Soal memakai segala macam produk hasil kebudayaan dari Barat. Apakah ada dalil yang kuat yang dapat engku kemukakan bahwa apabila kita membenci suatu golongan maka kita jauhi dan buang segala yang ada pada mereka? Saya benci akan engku bukan berarti anak-isteri, karib-kerabat dari engku juga saya benci dan musuhi, bukankah begitu? Yang saya bencikan hanyalah engku seorang”

“Dan juga, kalau bolelah kami ingatkan kembali bahwa orang-orang kafir di Barat sana juga sangat benci akan Agama Islam. Namun kenapa buku-buku karangan Cendikiawan dan Ilmuwan Terkemuka Islam pada Abad Pertengahan mereka pakai juga? Kenapa mereka masih menggunakan buku-buku Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al Biruni, dan masih banyak lagi yang lain? Kalau mereka memang benci akan Islam seharusnya mereka tidak boleh menggunakan Logaritma, Kalkulus, Angka Nol dan angka-angka sekarang, meminum kopi, dan lain sebagainya..”

Ulama ialah Ahli Ilmu, merekalah yang membangun peradaban Islam. Ilustrasi Gambar: Internet

Ulama ialah Ahli Ilmu, merekalah yang membangun peradaban Islam.
Ilustrasi Gambar: Internet

“Mencintai Hukum Syariat dalam Islam bukan berarti kembali ke peri kehidupan zaman lampau. Kata orang tua-tua di kampung kita, Sakali aia gadang-sakali tapian barubah[2]..

“Dan lagi pula engku, pendapat engku yang serupa itu merupakan pendapat bodoh dan memperbodoh. Sebab engku hendak menjauhkan orang Islam dari kemajuan. Engku dan kaum engku hendak membuat  atau mengarahkan orang-orang Islam yang disangka bodoh-bodoh ini. Yakni; orang yang berkeinginan hendak menegakkan Hukum Syari’at maka hendaknya memakai gamis, memanjangkan jenggot, sekolah di sekolah agama atau pondok pesantren, dan juga berlebih-lebihan dalam beragama..”

“Kami faham, sebab selama umat islam masih seperti yang engku bayangkan tersebut. Maka Hukum Syari’at takkan pernah benar-benar tegak. Sebab para pendukungnya ialah segerombolan orang-orang pandir, fanatik, radikal, dan mudah diperdaya sebagai bahan olok-olookan..”

Itulah salah satu petikan percakapan kami dengan kawan kami tersebut. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua..


[1] Sekuleris, Pluralis, & LIberalis

[2] Sekali air besar, sekali tepian berubah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s