Sang Ustadz, Media, & Fitnahan

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Beberapa masa yang lalu republik ini dihebohkan dengan pemberitaan perihal kegiatan usaha (bisnis) yang dilakukan salah seorang ustadz[1] terkenal di Indonesia. Usaha yang dijalankannya ialah usaha investasi dengan memanfaatkan uang dari para jama’ah untuk dijadikan sebagi modal usaha. Usaha yang tengah dijalaninya ialah pembuatan hotel untuk para calon jama’ah haji.

Masalah muncul tatkala salah seorang menteri di republik ini menegur sang ustadz dengan mengatakan kalau usaha yang dijalaninya tidak memiliki landasan hukum yang kuat dan belum diatur dalam perundang-undangan di repbulik ini. Teguran ini diketahui oleh media dan segera menyebar dan menjadi pokok pemberitaan yang utama. Dibahas segala kalangan dan menjadi perbincangan banyak orang.

Sekali lagi, subjektifitas media terlihat. Mereka menyoroti dan terkesan menjudge (menghakimi) sang ustadz. Si Ustadz terkesan telah menyalah gunakan uang para jama’ah, dia dipanggil untuk diperiksa dan menjadi bahan pergunjingan.

Orang-orang awampun dengan mudah tergiring pendapatnya (opini). Tanpa meneliti lebih lanjut maka telah terbentuk pendapat (opini publik) bahwa Si Ustadz ialah seorang bajingan yang telah merampok uang jama’ahnya. Dan kesan bahwa seorang pemuka agama itu ialah seorang jahanam yang suka menyalah gunakan kepercayaan umat untuk memperkaya kepentingan sendiripun terbentuklah. Hal ini terlihat dari ragam pendapat orang-orang ketika ditanyai oleh wartawan.

Padahal kalau boleh kita meneliti lebih lanjut, seandainya khalayak mau kiranya sedikit berbaik sangka maka niscaya hal yang berlainanlah yang bersua. Kamipun bertanya dalam hati, sudah adakah yang merasakan dirugikan dalam kegiatan bisnis yang dijalani si ustadz? Adakah kesalahan yang ditemukan dalam kegiatan bisnisnya tersebut?

Si Ustadzpun selama ini terlihat sangat berkerja sama (kooperatif) selama proses penyidikan. Namun media tak hendak memberi kasih, si ustadz dikejar dan dicerca dengan berbagai pertanyaan. Tentulah sebagai manusia beliau juga memiliki batas kesabaran dan tak tahan. Dan kembali media bermain..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Memanglah suatu kesilapan yang telah dikerjakannya, namun kesilapan itu tersebut dilakukan bukan atas dasar kesengajaan melainkan karena dasar ketidak tahuan. Beliau merupakan seorang ahli agama bukan ahli ekonomi. Niatnya ialah untuk memanfaatkan dana yang dititipkan jama’ah kepadanya, dari pada terkumpul begitu saja, lebih baik dimanfaatkan untuk usaha. Uang jama’ah bertambah dan dapat mengambil keuntungan dari usaha tersebut.

Alangkah lawaknya, tatkala Si Ustadz yang berhasil dengan dakwah dan bisnisnya dipermasalahkan karena bisnisnya bertentangan dengan hukum positif di negara ini. Padahal banyak perkara serupa juga berlaku namun tidak dibouw up oleh media. Kenapa? Karena pelakuknya bukan Ustadz..

Ini adalah salah satu bentuk nasionalisme si ustadz dengan mencontohkan kemandirian dalam bidang ekonomi.

Persis kejadiannya ketika poligami Aa Gym dahulu..

Lagipula, haram menurut negara belum tentulah haram pula menurut agama kita. Sebaliknya yang halal menurut negara belum tentu pula halal menurut agama kita. Justeru sebaliknya banyak yang berlaku..


[1] Secara harfiah berarti guru. Di Indonesia kata ini mengalami perluasan makna yakni sebagai seorang juru dakwah, pemuka agama, ataupun orang-orang yang sudah tinggi pengetahuan agamanya.

One thought on “Sang Ustadz, Media, & Fitnahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s