Sufi Filsuf (1)

pelopor pembuat klasifikasi fungsi sosial pengetahuan yang dalam perkembangannya mengarah timbulnya berbagai jenis referensi dan karya bibliografi, ahli ilmu kalam, ahli tasawuf.

pelopor pembuat klasifikasi fungsi sosial pengetahuan yang dalam perkembangannya mengarah timbulnya berbagai jenis referensi dan karya bibliografi, ahli ilmu kalam, ahli tasawuf.

Kita tentu telah sering mendengar perihal utang Barat terhadap Peradaban Islam yang tidak pernah hendak diakuinya. Dalam sejarah resmi mereka, ketika berada di Abad Kegelapan (Abad Pertengahan) maka mereka langsung mendapat pengajaran mengenai Filsafat Yunani dan kemudian mencapai kemajuan dalam peri kehidupan mereka.

Tidak pernah disebut oleh mereka perihal kemajuan peradaban di Timur (Timur-Tengah, Asia Tengah, Semenanjung Iberia (Spanyol&Portugal) dan Afrika Utara. Mereka juga tidak pernah memperbincangkan hubungan yang terjalin antara kerajaan-kerajaan di Eropa dengan negeri-negeri Islam tersebut.

Merekapun tak hendak membahas dampak dari Perang Salib dalam bidang keagamaan mereka. Persentuhan langsung dengan orang-orang Islam telah menimbulkan beberapa perubahan dalam kehidupan mereka. Apakah itu kehidupan beragama, sosial, maupun politik. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan, walau telah nyata mereka tak hendak untuk mengakuinya.

Mungkin kita telah sering mendengar perihal peranan dan pengaruh beberapa ilmuwan Islam dalam kemajuan Peradaban Barat semenjak Zaman Pencerahan. Bidang filsafat, kedokteran, arsitektur, ilmu hitung (matematika), ilmu bumi (geografi), ilmu hayat (biologi), dan lain sebagainya. Kita sangat banggsa sekali dengan para ilmuwan tersebut, bahkan pengaruh mereka masih terasa hingga masa sekarang.

Namun ada sesuatu yang terlupakan oleh kita, yakni pengaruh beberapa ahli-ahli Islam dalam bidang kebatinan. Ajaran Filsafat Islam telah memberikan pengaruh cukup besar dalam kehidupan beragama mereka. Apalagi filsafat yang dibawa oleh kaum Sufi, mereka telah mempertautkan antara agama dengan filsafat klasik Yunani.

Sebut saja Ibnu Arabi, Ibnu Rusyd, Al Ghazali, Al Suhrawardi, dan lain sebagainya. Mereka itu selain ahli dalam perkara agama juga ahli dalam filsafat Yunani Klasik. Tentunya perbedaannya dengan kita pada masa sekarang ialah sebelum mempelajari berbagai ilmu filsafat tersebut, sedari kecil jiwa mereka telah diisi dengan Al-Qur’an dan Hadist.

dikenal oleh barat dengan nama Aveciena; ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, Diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek fikiran.

dikenal oleh barat dengan nama Aveciena; ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, Diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek fikiran.

Menuntut ilmu agama ialah kewajiban dasar bagi setiap muslim pada masa itu. Dari sanalah mereka semua berangkat, berbeda dengan orang zaman sekarang yang langsung mempelejari filsafat dan kemudian baru mempelajari agama. Perbedaannya dengan yang pertama ialah ilmu agama dijadikan penyaring ilmu filsafat sedangkan bagi yang kedua ialah ilmu filsafat yang digunakan untuk menyaring ilmu agama.

Tentulah engku dan encik akan bertanya pula, bagaimanakan mungkin dan apapula buktinya?

Kami tak pula akan banyak-banyak cakap, maka untuk contoh yang pertama ialah pernyataan dari Kahlil Gibran[1] sendiri yang seorang Nasrani pernah menulis pada salah satu tinjauan perjalanannya bahwa dia melihat Al Ghazali dalam salah satu gereja di Eropa.[2] Tentunya ialah melihat pengaruh dari Filsafat al Ghazali.

Kemudian yang kedua ialah pernyataan dari Al Suhrawardi[3] dalam salah satu bukunya (Hikmat ul Isyraq) ketika memberikan pendapat perihal ahli filsafat: Tentang ahli filsafat ialah orang-orang dari satu keluarga dan dahan-dahan dari satu pokok (batang) kayu yang berkat. Memberi bantuan kepada kemanusiaan dengan buah hasil yang baik. Empeducles, Pithagoras, Plato, Aristoteles, Buddha, Hermus, Muzdak, dan Manu. Meskipun mereka semua berasal dari berbagai bangsa, namun mereka ialah putera utama dari kemanusiaan dan dengan sendirinya dia utusan perdamaian dan perbaikan. (Dukutip dari Hamka. Tasawuf: Perkembangan & Pemurniannya. Pustaka Panjimas. Jakarta, 1983. Hal.135

Ada juga faham yang menyatukan segala agama, dikemukakan oleh Ibnu Arabi. Sebab baginya, segala agama itu walau berbeda dalam tampilan lahir namun tujuan dan isinya tetaplah satu. Kalau orang Pluralis sekarang berkata sama-sama mengajarkan kebaikan dan menyembah kepada Tuhan.

Bagaimana kiranya pendapat engku dan encik sekalian? Bukankah pandangan mereka mereka tersebut serupa dengan pandangan golongan orang yang mengaku menjungjung tinggi derajat kemanusian (Humanisme)?

sumber gambar:

http://blog-antitrust.blogspot.com/2011/01/para-ilmuwan-muslim-sepanjang-masa.html


[1] Seorang penyair Arab dari Libanon. Namanya sangat mendunia, meninggal di Amerika.

[2] Hamka. Tasawuf: Perkembangan & Pemurniannya. Pustaka Panjimas. Jakarta, 1983. Hal.131

[3] Meninggal pada tahun 587 H / 1191 M.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s