Kaum Tua & Kaum Muda

Para Ulama Pembaharu Duduk Dari Kanan: Syech daud Rasyidi, Syech M.Djamil Djambek, Sych Sulaiman Arrasuli, Sych Ibrahim Musa, dan Sych Abdullah Ahmad.

Para Ulama Pembaharu
Duduk Dari Kanan: Syech daud Rasyidi, Syech M.Djamil Djambek, Sych Sulaiman Arrasuli, Sych Ibrahim Musa, dan Sych Abdullah Ahmad.

Kaum Muda dan Kaum Tua, dua nama tersebut selalu disandingkan dalam sejarah kita Orang Minangkabau. Kaum Muda ialah golongan pembaharu atau moderat sedangkan Kaum Tua ialah golongan lama atau kolot atau konservatif. Kedua jenis golongan ini terdapat dalam adat dan agama kita orang Minangkabau. Yang satu ada karena yang lain..

Keberada KaumTua diakibatkan karena lahirnya Kaum Muda. Kaum Muda yang “merasa” terdidik dan memiliki sudut pandang (perspektif) baru kemudian menggugat kemapanan yang telah ada. Maka akhirnya muncullah pertikaian. Menyerang dan bertahan, itulah yang terjadi..

Dalam kehidupan beradat, muncul orang-orang baru sebagai hasil dari pendidikan sekuler Barat, Belanda. Mereka yang utama ialah Mahyudin Datuak Sutan Maharaja,[1] yang sangat dekat sekali perhubungannya dengan Orang Belanda. Kebanyakan dari Kaum Muda Adat ialah anak-anak dari penghulu terkemuka atau pegawai Pemerintahan Belanda.

Selain menentang golongan konservativ di bidang adat, beliau juga sangat keras penentangannya terhadap Golongan Islam. Hal ini karena salah seorang kakeknya pada masa Gerakan Kaum Putih[2] merupakan korban perang. Mahyudin dengan keras juga menganjurkan agar adanya kerja sama antara Orang Minang dengan Penjajah.

Kemudian dalam tubuh para ulama sendiri juga muncul hal serupa. Baiknya perhubungan dengan Timur Tengah dan banyaknya para haji[3] yang pulang dari Mekah. Maka banyak muncul pertanyaan dikalangan orang-orang yang telah memiliki tambahan pengetahuan agama ini. Sebab banyak adat-kebiasaan, terutama dalam hal beragama yang berlainan dengan yang mereka pelajari.

minang-saisuak-kongres-mtkaam-1941

Para Pemimpin MTKAAM (Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau)
di Padang Panjang th, 1941

Golongan Konservatif atau Kelompok Tua atau Kaum Kuno. Bagi para ulama, mereka ialah para syekh pemimpin tarekat, sebab dimasa lalu, Alam Minangkabau hampir sepenuhnya menganut berbagai faham tarekat, seperti Tarekat Naqsabandiah seperti yang terdapat di Pauh Kota Padang. Tarekat Syatariyah seperti yang terdapat di Pariaman, Tarekat Qadariah, dan beberapa lagi. Sedangkan dalam kalangan para Pemuka Adat, golongan konservatif ialah para pemuka adat yang merasa puas dengan ajaran adat yang diwarisi dari ninik orang Minang masa yang dahulu.

Kedua golongan besar atau keempat golongan ini selalu hidup bertentangan. Saling berhujjah, mendakwa, dan berfatwa. Namun ada satu catatan penting yang patut menjadi ingatan bagi kita orang Minangkabau. Bahwa keempat golongan ini pernah bersatu-padu pada penghujung tahun 1930-an, dimana Minangkabau berhadapan dengan Misi Kristen atau sekarang lebih dikenal dengan nama Kristenisasi. Keempat golongan ini bersatu padu melupakan segala pertikaian mereka selama ini.

Sungguh sangat indah sekali engku dan encik, bahwa ternyata memang terbukti bahwa ISLAM MENYATUKAN KITA ORANG MINANG.

MINANGKABAU IALAH ISLAM

Bacaan: Gusti Asnan, Kamus Sejarah Minangkabau. PPIM. Padang, 2003

Sumber Gambar:

http://hmasoed.wordpress.com/category/ulama-zuama-minangkabau/

http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/849


[1] Beliau juga merupakan salah seorang tokoh pers (media) di Sumatera Barat. Mendirikan dan memiliki beberapa surat kabar Seperti Soeloeh Melayoe dan Soenting Melayoe. Melalui media inilah beliau mempropagandakan ideologinya.

[2] Paderi merupakan nama yang diberikan oleh orang Barat. Paderi bermakna pendeta.

[3] Berhaji pada masa dahulu merupakan sesuatu yang sangat bertuah (sakral). Karena pada masa dahulu, membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dan biasanya para calon haji memiliki tujuan tidak hanya untuk melaksanakan ibadah haji melainkan juga untuk mendalami Islam. Sehingga ketika mereka kembali, kedudukan mereka sangat dihargai dalam kehidupan masyarakat. Sebab mereka telah memiliki pengetahuan berlebih perihal perkara agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s