Hari Raya Kali Ini

Gambar: Internet

Gambar: Internet

Hari raya telah hampir pula sepekan berlalu, bagi kebanyakan orang kami tengok sudah sibuk pula dengan kegiatan harian mereka. Tak ada lagi berhari raya, bagi mereka hari raya ialah sebatas masa cuti bersama saja. Namun tidaklah demikian bagi kami, karena bagi kami hari raya hingga kini masih terasa. Telah beberapa tahun ini selalu terjadi, yaitu suatu perasaan sedih yang tak berkepalangan menghujam hati. Seolah mengalami perpisahan dengan kekasih hati yang teramat dicintai..

Bagi kami di Minangkabau, sepekan selepas hari raya besar ada pula disebut oleh orang Hari Rayo Anam (Hari Raya Enam). Yaitu sepekan selepas hari raya pertama, dimana orang-orang saling mengunjungi karib kerabat mereka yang tak sempat dikunjungi ketika hari raya besar sepekan yang lalu. Biasanya kaum perempuanlah yang sangat sibuk sebab mereka harus mempersiapkan hantaran adat berupa limpiang, sipuluk (beras ketan), pinyaram, kue loyang, kalamai, dan godok.

Hantaran adat tidaklah wajib sifatnya sebab pada masa sekarang di kampung kami telah ada yang diubah orang. Cukup dengan membawa Kue Gadang saja sebagai pengganti semua makanan tradisional tersebut. Selain biaya yang cukup besar karena beragamnya jenis makanan yang dibawa, juga dikhawatirkan makanan tersebut tidak akan habis dimakan oleh orang. Sebab pada masa sekarang sudah banyak pula makanan lain yang diminati. Berlainan dengan masa dahulu dimana hanya makanan tersebut yang ada dan suka tak suka akan dimakan oleh orang kampung.

Para lelaki juga ikut datang bersama isteri atau saudara perempuan mereka. Namun mereka lebih santai karena yang sibuk menyiapkan segala keperluan untuk menziarahi rumah kerabat ialah kaum ibu.

Keluarga Minangkabau Lama Gambar: Internet

Keluarga Minangkabau Lama
Gambar: Internet

Masa Hari Rayo Anam ini dimanfaatkan untuk menziarahi kerabat yang tak sempat diziarahi pada hari raya pertama, kedua, ketiga, dan bahkan keempat. Bagi sebagian besar dari kita pada masa sekarang, hari raya hanya ada dua hari, mungkin tiga selepas itu masa-masa cuti dimanfaatkan untuk pergi melancong bersama keluarga.

Hal ini berlainan dengan orang dahulu yang benar-benar memanfaatkan hari raya untuk menziarahi karib kerabat yang sangat banyak itu. Terkadang masa berhari raya tidaklah cukup, ditukuak (ditambah) juga beberapa hari. Tidak ada yang pergi melancong, tidak ada yang pergi berpesiar dengan kawan-kawan. Sebab yang utama pada hari raya itu ialah menjalin dan mempererat tali silaturahim kita dengan kerabat.

Benar kata orang tua-tua di Minangkabau ini, sekali air gedang-sekali pula tepian berubah. Adalah suatu perkara yang tak mungkin mengembalikan keadaan sekarang seperti sedia kala. Namun tak ada salahnya pabila kita mencobanya. Sebab bagi yang arif lagi bijak tentulah dapat memahami betapa kehidupan manusia sekarang sudah jauh dari agama, jauh dari adat, dan jauh dari alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s