Helat Kawin Zaman Sekarang

Iring-iringan marapulai ke rumah mertua. Gambar: Internet

Iring-iringan marapulai ke rumah mertua.
Gambar: Internet

Beberapa hari yang lalu kami mendapat kiriman email dari salah seorang kawan di kampung. Memanglah telah lama agaknya kami selalu memintakan karangan untuk dimuat di blog kami ini kepadanya. Marilah kita simak salah satu pengalaman kawan kami ini, semoga kita dapat memetik hikmah dari kisahnya..

Beberapa masa yang lalu kami menghadiri acara kenduri pernikahan salah seorang kawan kantor kami. Kenduri yang diadakannya berjalan sama kiranya dengan kenduri-kenduri lain yang lazim diadakan oleh masyarakat kota pada masa sekarang. Yakni makan memakai  Hidangan Perancis atau ada juga yang menyebutnya dengan prasmanan. Makanan dimakan dengan menggunakan sendok dan garpu yang dimakan di atas kursi di bawah tenda yang biasanya dipasang dihadapan atau samping rumah. Bagi yang berkecukupan maka mereka akan menyewa sebuah gedung untuk kenduri ini. Selepas itu ada pula hiburan dari biduan & biduanita yang diiringi oleh orgen tunggal.

Hampir seragam pada masyarakat beberapa kota dan daerah di Minangkabau pada masa sekarang ini. Lazim menjamu tamu dengan hidangan prasmanan dan orgen, bukan hanya lazim melainkan sudah serupa keharusan. Tiada ada lagi duduk bersila bagi lelaki dan bersimpuh bagi perempuan, tiada ada lagi makan bajamba, tiada lagi menatiang pinggan balenggeng, dan tiada lagi pasambahan.

“Zaman telah berubah, tiada lagi hal semacam tu dipakai orang masa sekarang..!” jawab beberapa orang.

Kami bukan hendak membahas mengenai perkara kenduri ini melainkan akan membahas kelakuan beberapa orang terkait kenduri ini. Kawan kami ini bukanlah berasal dari keluarga yang berkecukupan, dia merupakan anak sulung dari keluarga sederhana. Jadi perkara uang sangatlah berfikir ia agak seribu kali untuk membayarkannya. Apalagi pada acara helat atau kenduri ini.

apakah harus serupa ini undangan yang dikirim? Gamabr: Internet

apakah harus serupa ini undangan yang dikirim?
Gamabr: Internet

Dalam mengundang kami kawan-kawan di kantor, dia hanya menyertakan satu lembar kertas kecil yang dicetak di atas kertas foto dengan disertai dua buah gula-gula. Pada kertas tersebut tertulis Ulem-ulem merupakan Bahasa Jawa, sama kiranya dengan manyiriah bagi kita di Minangkabau. Gula-gula merupakan pengganti rokok dan siriah bagi masyarakat di kota ini.

Bentuk undangannya memanglah tak lazim karena hanya berupa sepotong kertas seukuran kartu nama. Bagi kebanyakan orang sekarang, kertas undangan berukuran satu kertas A4 atau F4. Ada juga yang mebuat dengan sangat mewah sekali konon kabarnya, paling murah harga satu undangan ialah Rp. 500,-.

Bagi kebanyakan orang-orang yang tak hendak faham dan mengerti kesulitan orang lain serta telah lama menaruh benci. Maka undangan serupa ini merupakan kesempatan untuk menolak menghadiri dan mempergunjingkan kawan kami ini.

Awalnya kamipun terkejut dengan bentuk undangan ini, namun kemudian kami dapat memahami karena dilihat dari keadaan keluarganya, adalah sangat wajar. Namun tidak demikian dengan beberapa orang yang busuk hati. Kami hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.

Kami tidak hendak membenarkan kawan kami ini namun tidak pula menyalahkannya. Sebab hal yang berlaku ialah cerminan zaman. Zaman sekarang ialah zaman materi (harta), kalau menikah haruslah ada kenduri, tidak dapat tidak. Kalau kenduri haruslah memakai undangan dan orgen, serta harus pula mewah.

Pada hal tidak demikian dalam agama dan adat kita, ada keringanan. Dalam Islam tidaklah harus ada helat atau kenduri, cukup diundang kerabat dekat saja. Sedangkan dalam adat, tidak pula harus meriah pula, kalau tak ada uang untuk berhelat, maka cukuplah diundang pemimpin (ataupun perwakilan) segala suku yang ada di dalam kampung, kepala jorong, tuo kampuang, serta Orang Siak.

Demikianlah engku, sungguh tak tenang hati kami mendapi keadaan serupa ini. Terkenang kami akan kampung kita, akankah serupa ini pula nantinya..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s