Menggadaikan Kampung

Gambar: Internet

Gambar: Internet

Kami terkenang akan sebuah kisah yang diceritakan oleh beberapa orang yang telah berpengalaman dalam berniaga di rantau. Pada suatu ketika tatkala salah seorang dari mereka pulang kampung, kamipun ikut mendengrkan curaian kisahnya.

Engku yang berkisah ialah salah seorang dari beberapa orang kampung kami yang berjaya di rantau. Engku ini memiliki berhektar-hektar tanah yang dijadikannya perak sawit, selain itu engku ini juga memiliki beberapa petak kedai yang dijadikan kedai sendiri untuk manggaleh[1] dan disewakan kepada orang lain. Uangnya sungguh banyak, rumah isteri dan orangtuanya di kampung kami telah dipercantik. Banyak orang kagum dengan kepandaiannya dalam berniaga, ada pula yang menjadikan tempat meniru agar berhasil pula awak kiranya serupa engku ini.

Kisah beliau ini dimulai tatkala menjadi anak dagang[2] di sebuah kedai milik orang kampung kami. Masih terhitung dunsanak[3] dengan engku ini. Kemudian setahun selepas itu beliau mulai berdagang sendiri, kadang untung dan kadang rugipun tak dapat dihindari. Begitulah kehidupan orang berdagang, penghasilan tak tentu. Terkadang merugi sejadi-jadinya namun pabila untung maka akan datang berkali-kali lipat pula.

Dengan keuntungan yang didapat dipadukan dengan sikap hidup yang imat[4] maka engku inipun berhasil mengumpulkan uang untuk membeli sebuah kedai. Tak lama kemudian dibelinya sebuah tanah ditepi jalan untuk dibuatkan rumah kedai guna disewakan. Dibelinya tanah tersebut kepada penduduk setempat (penduduk asli), namun tak semua orang hendak menjual tanahnya. Untung baginya karena yang tak hendak menjual ialah orang-orang yang memiliki tanah yang terletak di belakang – tidak di tepi jalan – arah kebelakang dari tanah yang dijual.

Ketika diminta hendak dijual dengan harga mahal, yang punya tanah menolak. Namun Si Engku bersabar, dibelinya seluruh tanah yang berada di hadapan yakni yang berada di tepi jalan. Selepas itu dibangunnya rumah kedai (ruko) sehingga jalan masuk untuk menuju ke belakang menajadi tak ada. Apa yang terjadi kemudian?

Gambar: Internet

Gambar: Internet

Orang yang punya tanah datang menawarkan tanahnya untuk dibeli, Si Engkupun menerima untuk membeli namun dengan harga yang jauh lebih murah. Apalah daya, yang punya tanah tak memiliki nilai tawar, akhirnya tanah yang dahulu dihargai mahal sekarang dijual dengan harga murah.

Begitu juga yang berlaku tatkala Si Engku mulai memperluas usaha dengan mencoba untuk berparak sawit. Dibelinya pula tanah yang berada di dekat jalan lebih dahulu, baru selepas itu tanah yang dibelakang dijadikan incaran. Tentunya dengan harga beli yang jauh lebih murah daripada tanah yang berada di tepi jalan. Akibatnya Si Engku beruntung berlipat-lipat.

Kisah tersebut tidak hanya kisah satu, dua, atau beberapa orang saja. Melainkan banyak orang memiliki kisah yang serupa namun tak sama. Begitulah kecerdikan orang di rantau..

Namun kisah tersebut tidak hanya dimiliki oleh orang Minangkabau di perantauan saja melainkan orang-orang dengan kepandaian berdagang dari suku apa saja memiliki keahlian yang yang hampir serupa. Minang, Cina, Jawa, Batak, dan suku-suku yang lain apabila telah pergi merantau maka mereka akan memiliki kemampuan dan daya tahan yang hampir sama untuk bertahan hidup di negeri orang. Pendapat kami ini hanya menjeneralisir[5] sebab ada juga yang tidak memiliki kemampuan serupa.

Gambar: Internet

Gambar: Internet

Akan halnya dengan penduduk asli juga memiliki watak yang sama. Selama berada di kampung, mereka akan menjadi manja, malas, dan lalai. Daya saing tidak ada karena merasa hidupnya aman dan nyaman, sebab berada di kampung sendiri. Namun apabila malapetaka serupa di atas telah tiba, maka akan muncul sikap putus asa yang ditumpahkan pada sikap mental yang rendah, seperti mengulang-ngulang kalimat “Saya ini orang asli, Si Anu itu orang datang di kampung kami. Tanah yang sekarang berdiri di atasnya kedai milik Si Anu itu dahulunya tanah pusaka keluarga kami..” atau kalimat serupa tapi tak sama.

Atau dapat juga melakukan tindakan pencurian terhadap rumah atau kedai milik pendatang, menunjukkan sikap permusuhan, menuntut atau memperkarakan tanah yang dahulunya dijual oleh salah seorang anggota keluarga mereka karena mereka dahulunya mereka tidak dimintai persetujuan, dan lain-lain sebagainya. Begitulah engku..

Begitulah, tidak peduli dia itu apakah orang Jawa, Batak, Minang, atau suku-suku lainnya. Mereka dipecundangi, diperbodoh, dipandir-pandirkan di kampung mereka sendiri. Orang kaya, awak sengsara – orang beruang, awak melarat – orang menjabat, awak menjadi babu, dan lain sebagainya.

Itulah buah dari kapitalisme, investor, perdagangan bebas, dan lain sebagainya. Inginkah engku dan encik sekalian kampung kita, nagari kita, Alam Minangkabau ini tergadaikan, dijual kepada para pemilik modal? Sekali mereka datang, haram bagi mereka untuk beranjak pergi..


[1] Berasal dari kata galeh yang berarti gelas. Kata ini telah mengalami perluasan makna dalam berbahasa Orang Minangkabau yakni sama dengan berdagang. Belum ada penyidikan akademis mengenai istilah ini, apakah karena dahulunya banyak orang Minangakabu yang berdagang pecah-belah atau ada alasan lain?

[2] Karyawan

[3] saudara

[4] Secara harfiah berarti sederhana. Namun disini dapat kita artikan dengan sederhana.

[5] Generalisir,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s