Membawa Ular Masuk Rumah

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Di Minangkabau ada empat jenis sumando[1] yakni sumando apak paja, sumando kacang miang, sumand0 lapiak buruak, dan sumando niniak mamak. Pertama, sumando apak paja ialah seorang suami yang hanya sebagai pejantan bagi isterinya. Selepas itu ia tak hendak mau tahu perkara kehidupan iteri dan anaknya. Kedua, sumando kacang miang yakni seorang suami yang menjadi pembawa kerusuhan di rumah isterinya, mencampuri urusan keluarga isteri yang tak patut disentuhnya, penyebab perselisihan, dan merenggangkan hubungan badunsanak[2] si isteri dengan keluarganya. Ketiga, sumando lapiak buruak  yaitu seorang suami yang menjadi benalu bagi isterinya, menghabiskan segala harta-benda milik pusaka si isteri. Keempat ialah sumando niniak mamak, merupakan seorang suami yang pandai dan bijak membawakan diri dalam keluarga si isteri, menjadi tempat bertanya, bersandar, dan penyelesai masalah. Selain itu ia juga selesai dalam mengurus kamanakannya.

Sebenarnya jenis sumando yang demikian juga berlaku bagi perempuan yang menjadi menantu bagi keluarga suaminya, lawan dari sumando ialah sumandan.[3]

Ada pula yang bertanya “Bagaimana kalau si isteri atau suami yang membawa pasangannya untuk ikut campur tangan perkara dalam keluarganya. Sehingga kebanyakan jenis tiga sumando di ataslah yang kebanyakan didapati engku..?”

Jawap kami “Hendaknya kita (suami/isteri) insyaf dan bijaklah dalam menanggapinya. Baik itu sebagai fihak yang membawa serta atau dibawa serta. Bertanyalah dahulu kepada orang tua-tua, patutkah atau tidak?”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Adakalanya perlu kiranya mereka kita bawa serta, namun sebaiknya tidak. Kalau memang hendak dibawa serta, sebaiknya hal tersebut sepengetahuan seluruh keluarga. Apakah itu ibunda, ayahanda, dunsanak, etek, ataupun mamak. Sebab selama segala permasalahan yang terjadi di dalam keluarga hendaknya kita selesaikan bersama keluarga pula..”

“Namun apabila segala persoalan itu tak sanggup lagi kita hadapi seorang diri. Dimana nilai tawar kita di hadapan keluarga sangatlah rendah. Dimana dunsanak bersilanteh angan[4] sehingga tak ada yang dapat menyokong kita selain pasangan kita (suami/isteri). Sebaiknya yang menjadi tempat untuk mencari sokongan ialah dunsanak  ataupun mamak yang lain. Engku dan encik sekalian, tidak ada orang Minangkabau ini yang hidup sebatang kara ataupun seorang diri. Asalkan kita tahu dengan adat. Sebab di Minangkabau ini ada tiga jenis pertalian atau hubungan kekerabatan yakni bertali darah, bertali adat, dan bertali budi. Hubungan yang pertama dan kedualah yang biasanya yang paling patut untuk dibawa serta..”

“Bertali darah maksudnya hubungan sedarah menurut syari’at, bertali adat ialah hubungan kekerabatan menurut asas matrilineal yang kita anut seperti mamak-mamak atau dunsanak sesuku. Bertali budi ialah hubungan yang disebabkan budi-baik kita dengan orang lain..” jelas kami panjang lebar.

“Dan juga, cara membawa serta dunsanak-dunsanak yang lain yang bermacam bentuk pertaliannya tersebut ada caranya pula. Janganlah terlalu kasar, gunakan juga kehalusan budi bahasa kita sebagai orang Minangkabau..” tambah kami.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Itulah yang terjadi sekarang duhai engku dan encik sekalian. Karena ketiada fahaman kita dalam perkara adat. Karena hilang sudah kehalusan budi bahasa yang terdapat pada diri kita orang Minangkabau. Karena nafsu atau ego yang menguasai diri. Karena hendak menang dan berkuasa dan tak hendak mengalah karena takut dikatakan kalah. Maka sering kita bawa orang lain untuk membantuk kita dalam menghadapi segala persoalan dalam keluarga.

Sama kiranya dengan cara penjajahan itu masuk ke negeri kita ini dahulunya. Karena dibawa serta, dijalin hubungan dan dibuat perjanjian. Dimana apabila kita berhasil dimenangkan maka fihak yang menolong kita tersebut akan mendapatkan pembagian dari kita dalam harta pusaka yang kita warisi. Akibatnya, setelah menang kita dikuasainya, dikendalikan, dan diperbudak..

Orang kata kami ini gila duhai engku dan encik sekalian..


[1] Ipar, suami dari saudara perempuan

[2] bersaudara

[3] Isteri saudara lelaki

[4] Saudara tak memandang atau menghargai kita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s