Kecerdasan # Kehalusan Budi

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Acapkali saya dengar orang berkata, bahwa kehalusan budi itu akan datang dengan sendirinya, jika fikiran sudah cerdas. Bahwa oleh pendidikan akal budi itu dengan sendirinya menjadi baik dan halus. Tetapi setelah saya perhatikan maka saya berpendapat – sungguh kecewa – bahwa tiadalah selamanya benar yang demikian itu. Bahwa tahu adab dan bahasa serta cerdas fikiran belumlah lagi jadi jaminan orang hidup susila ada mempunyai budi pekerti. (Armijn Pane. Habis Gelap Terbitlah Terang. Balai Pustaka. Jakarta, Cetakan ke-22 2002. Hal.79)

Kesadaran serupa ini rupanya telah lama disadari oleh orang-orang bijak, mungkin sudah lama semenjak sebelum Kartini mengungkapkannya dalam suratnya kepada Ny. Abendanon. Maka janganlah merasa heran apabila melihat dan menyaksikan orang-orang dari kalangan berpendidikan (intelektual) dimana cerdas dalam segi otak dan fikiran namun sangatlah rendah dalam segi akhlak dan budi pekerti.

Kami bukanlah pendukung gerakan feminis, bukanlah peminat dan pengagum dari R.A.Kartini karena sebagai orang Melayu, sebagai orang Minangkabau saya punya pujaan hati sendiri yakni Encik Rahmah el Yunusiah (Tokoh Pendidik), Rangkayo Rohana Kudus (Tokoh Wartawan Perempuan Pertama), dan Haji Rangkayo Rasuna Said (Politisi Perempuan Pertama). Buku karangan Armijn Pane yang merupakan kumpulan dari sebagian dari surat-surat Kartini kepada kawan-kawan Belandanya. Tidak semua pula dari surat-surat Kartini itu yang dijadikan buku oleh Armijn Pane.

Kami hanya mengamalkan salah satu ayat Al Qur’an yang bunyinya kira-kira; Janganlah karena kebencian engkau terhadap suatu kaum menghalangi engkau dari bersikap adil. Bersikap adillah engkau, karena adil itu dekat kepada Taqwa. Serta nasehat dari Sayyidina Ali; Jangan lihat siapa yang menyampaikan kebenaran itu, namun perhatikanlah apakah benar terdapat kebenaran padanya…

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Kembali kepada pandangan dari Kartini di atas, memanglah sangat bersetuju kami. Rupa-rupa hati orang itu rupanya, walau telah banyak mengetahui, telah luas pemahaman, telah terasah pula otak dan fikirannya. Namun kalaulah hati tak terisi, kalaulah jiwa telah berada jauh dari Alam Tempat Lahir, ketika Islam tiada lagi dijadikan batu sandaran, adat-resam tidak dijadikan tempat berpijak. Maka alamat dunia akan mengalami kiamat.

Bukankah orang-orang serupa itu yang pada masa sekarang banyak berkuasa di berbagai negeri. Yang haq menjadi bathil dan yang bathil dijadikan haq. Entah ajaran mana yang mereka amalkan, entah pentunjuk siapa yang mereka perturutkan. Keras hati mereka, bebal otak mereka, pekak telinga mereka, dan buta mata lahir dan bathin mereka.

Hendaknya perkara ini menjadi bahan pemikiran bagi kita bersama. Bertanyalah ke dalam diri “Hendak kemanakah kehidupan ini akan daku bawa? Sudikah kiranya diri ini meninggalkan dunia yang fana ini dalam kezhaliman? kehidupan seperti apakah kiranya yang hendak daku diwariskan kepada anak, kamanakan, dan cucu?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s