Investor atau Penjajah

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Beberapa masa yang terjadi suatu percakapan yang cukup panas perihal investasi di Sumbar pada salah satu postingan kami yang membahas perihal salah seorang investor[1] yang “diundang” masuk ke Propinsi Sumatera Barat (Sumbar) oleh beberapa orang pemimpin di propinsi ini. Suatu percakapan yang cukup merusak hati karena penuh akan kebencian dan saling maki.

Kami tertarik akan sebuah pernyataan yang kira-kira begini bunyinya “Cobalah engku tengok listrik sering padam di Sumbar! Apa penyebabnya? Padahal kita punya pembangkit listrik di sini?! Hal ini karena di daerah kita tidak ada industri, listrik di daerah kita diekspor ke propinsi lain yang banyak industrinya..!”

Kami akui bahwa pernyataan tersebut menyadarkan kami “Begitu rupanya!” kata kami dalam hati.

Namun hati kecil kami tetaplah menolak, sebab ada yang janggal. Kenapa? Karena kami telah lama mendengar akan suatu teori konspirasi dimana sekelompok orang yang memegang kendali di bidang ekonomi dan politik merancangkan suatu perubahan. Perubahan tersebut jika dilakukan terang-terangan tentulah akan ditolak oleh sekalian orang. Namun mereka membuat sedemikian rupa orang-orang tak dapat mengelakkannya lagi, tak ada kata menolak lagi. Mereka buat bahwa orang-orang itulah yang meminta, mengemis kepada mereka supaya menjalankan apa yang telah dirancangkan tersebut.

Serupa itu pulalah agaknya di propinsi kita ini. Propinsi yang orang-orangnya keras kepala dan susah pula diatur. Listrik sering dipadamkan dengan alasan ini dan itu. Taroklah benar alasan tersebut, bukankah daya yang ada sudah cukup bahkan mungkin berlebih untuk menghidupkan listrik di propinsi ini?

Apalagi semenjak beberapa bulan ini listrik sering pula padam. Maka tepatlah timingnya untuk memberi pelajara kepada orang Minangkabau. Pelajaran bahwa tidak semestinya mereka menolak investor. Kalau hendak juga listrik tak sering padam di propinsi ini, maka terimalah investor, dirikan pabrik-pabrik, maka takkan ada lagi yang dirugikan.

Benarkah demikian? sesederhana itukah?

Dikata mereka propinsi kita merupakan propinsi yang terkebelakang? Alasan itu yang dikemukakan untuk datang “menjajah” ke daerah kita. Cis.. kurang ajarnya mereka. Apa defenisi mereka? Apa konsep mereka itu perihal keterbelakangan? Apapula konsep mereka perihal kemajuan?

Coba engku dan encik jelaskan kepada kami, seberapa banyakkah orang yang buta huruf di propinsi ini? seberapa banyak pula kanak-kanak yang tidak bersekolah? Seberapa banyak pula tingkat pengangguran di propinsi ini? Coba engku bandingkan dengan daerah lain, daerah yang katanya maju itu!!


[1] Kalau tak boleh disebut sebagai penjajah.

4 thoughts on “Investor atau Penjajah

  1. penulis memang orang Padang yang sangat keterbelakang, saya pernah baca tulisan profesor sejarah Unand, Gusti Adnan.. beliau malah bertolakbelakang dengan pemikiran penulis blog ini. Orang minang yang seperti anda takut dengan perubahan karena tidak berani bersaing, kalau dulu orang Riau selalu berkata matahari selalu berada di barat, karena waktu itu padang merupakan pusat peradaban dan maju, sekarang malah sebaliknya.

    Dan saya juga setuju dengan komentar di tulisan yang anda beri tautan diatas, anda cukup bangga dengan sedikitnya jumlah buta huruf di Padang dan anda menganggap itu kemajuan, anda tidak tahu,- kalau orang Minang banyak yang merantau karena sedikitnya industri di Padang, yang ada mereka membangun negeri orang bukan tanah leluhur mereka sendiri. Lama-lama mereka bekerluarga dinegeri orang, memajukan provinsi orang, dan melahirkan anak dinegeri orang.. anak-anak mereka menjadi lost generation.. orang minang darah doang, tapi nggak bisa berbahasa Minang… itu karena orang2 seperti anda.. yang takut akan orang asing, kedaerahan buta. Saya miris.

    Saudara ipar saya orang PLN, memang benar itu masalahnya yang terjadi di Sumbar. Saya orang Minang, rasanya gak tahan ingin nyusul saudara saya di Swiss yang katanya bentuk alamnya seperti ranah minang, berbukit dan danau, tapi maju dan gak pernah mati lampu…… saya gak tahan hidup di negeri indah tapi kurang fasilitas yang bikin otak saya jadi malas, membeku….. bodoh… karena keahlian saya gak berguna disini.. tapi saya cinta minangkabau, apa daya orang2 seperti anda masih banyak disini

    *kalau anda sportif, anda akan approved komentar saya ini

    1. Terimakasih atas komentar encik, sungguh manis nian budi-bahasa encik ini. Inilah buah dari pendidikan yang encik tempuh tentunya. Perbedaan antara benar dan salah itu relatif dan sangat bergantung pada sudut pandang yang encik gunakan. Pendapat dari Prof. Gusti Asnan telah saya dengar jauh hari, sebelum encik mendengar hal yang serupa. Dan saya memang tidak bersetujuan dengan beliau mengenai perkara ini, dalam Ranah Keilmuan hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Karena bersilang api di dalam tungku, maka api akan hidup. Mengagumi seseorang atau berkawan dengan seseorang bukan berarti harus “mengamini” semua perkataan dan perbuatannya.
      Encik seorang teknokrat agaknya, dan memang demikianlah pola fikir para teknokrat. Mulailah belajar untuk melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang materi, sudah encik jelaskan dengan baik. Sedangkan saya memberikan gambaran dari sudutpandang sosial-budaya.
      Saya bukan seorang idealis yang akan berkata bahwa ini semua salah pemerintah dengan kebijakannya. Sangat mudah menyalahkan orang lain atas keadaan yang tengah berlaku, hal tersebut pertanda kita orang yang singkat akal dan tiada bijak dalam kehidupan. Pendapat yang saya bangun karena bercermin dari realitas yang ada.
      “Sudahkah Orang Minang Siap..?” bukan orang Minangkabau seperti anda yang saya maksudkan. Orang-orang yang telah mapan seperti anda menghendaki agar INdonesia ini menganut mazhab kebebasan tanpa memikirkan dampak sosial, budaya, dan psikologis.Maklum, karena anda seorang Teknokrat..
      Sekarang saya bertanya kepada encik “Apakah encik mencintai suami encik..?”
      “Bah.. pertanyaan apa pula itu?! Tak ada hubungan dengan permasalahan yang sedang diperbincangkan..!” jawab encik.
      Ah.. lupa awak, kalau yang dihadapi ialah seorang teknokrat, TAK PUNYA SENSITIVITAS, kalau kami orang Minang kata “Ndak baraso..”
      Itu hanyalah analogi. Jika encik jawab “saya mencitai suami saya karena dia baik, tampan, pintar, kaya, bisa diandalkan, pengertian, dan lain-lain..”
      Maka itu bukanlah cinta tapi “pamrih” namanya, cinta ialah apabila kita mencitai seseorang tanpa kita tahu alasan yang logis untuk mencintainya. Karena Cinta memang tak dapat dilogika, ianya merupakan masalah perasaan, hati, bukan materi yang dapat diukur, diraba, dan dilogikakan..
      Kalau encik cinta akan negeri ini, maka pertama encik akan menerima negeri ini apa adanya, kemudian memperbaiki kelemahannya, dan kewmudian membangun negeri ini menuju ke keadaan yang lebih baik.
      Bukan berkeluh-kesah ini dan itu, mengatakan orang Minang keras kepala dan lain sebagainya. Itu namanya encik hendak senang saja, hendak kaya tapi tak hendak berusaha. Hendak pintar tapi tak hendak belajar, hendak berpangkat tapi tak hendak menjadi anak buah. Mantiko itu namanya..
      Saya bersetuju sekali apabila encik hendak berangkat ke Swiss, silahkan. Lebih baik begitu, berkurang jugala tungau yang membuat gata di Ranah Minang ini.
      Terjadi Lost Generation kenapa? Karena orang Minangkabau yang merantau serupa encik ini tak hendak menjaga dan menghidupkan Kebudayaan Minangkabau. Lebih senang berbahasa Indonesia di rumah dari pada Bahasa Minang. Jadi siapa yang salah?! Maklumlah Teknokrat, manalah sampai fikiran encik ke situ. Encik hendak senangn saja agaknya, hendak langsung memanen tanpa menanam. Apakah Logis itu? encik yang teknokrat bukan kami. Kami hanyalah orang kampung pandir..
      Encik dapat membuat daftar negara-negara Asia yang telah maju, namun itu bukanlah jawapan. Karena encik hanya melihat pada tampilan fisik saja, memang demikianlah para Teknokrat di Negara ini. Dari segi fisik maju, namun…
      Lagi pula soal KOrea Utara, mereka terkebelakang bukan karena menjaga budaya warisan leluhur mereka, cobalah bertanya kepada beberapa ahli. Jangan hanya kepada para teknokrat saja melainkan sosiolog, antropolog, dan sejarawan.
      Encik ialah tipe orang Minangkabau yang suka merendahkan saudara sebangsa. Baru mengecap sedikit pengetahuan dan kehidupan Barat telah menyebabkan Encik Besar kepala. Memang negeri barat itu lebih cocok untuk encik, silahkan pindah, kami dukung..

      PS: Karena saya tinggal di negeri terkebelakang, maka akses internet agak susah. Jadi saya bukan sengaja tak membalas. Namun setelah saya baca komentar encik yang lain, maka saya putuskan untuk tidak mengapprovenya. Karena taratik encik tak ada, perlu kiranya kami bersua dengan mamak, ayah, dan bunda encik memperbincangkan perkara ini. Telah terlalu banyak adat dilanggar di negeri ini..
      Karena encik seorang Teknokrat maka akan saya beritahu sedikit kepada encik; Bagi para ilmuwan sosial, berbeda pendapat dan pandangan ialah biasa. Karena objek kajian kami manusia dan kebudayaannnya, dan objek kami ini ialah Dinamis, tidak tetap seperti Objek Kajian pada Ilmu Eksak. Jadi biasakanlah untuk menghormati displin ilmu lain dan pendapat yang berlainan dengan kita. BUkankah kalian orang-orang yang telah menerima Kemajuan selalu berkata perihal Pluralisme dan Liberalisme. Tampaknya hanya sekadar di mulut saja, encik tak mengamalkan prinsip itu agaknya. JIka kita menyengat orang, diminta orang untuk menghormati. Namun apabila kita yang disengat, maka…???!!!???

    2. Sungguh bagus sekali budi bahasa encik, oleh karena Bagus sangat itulah makanya kami sadar betapa Blog kami ini tak patut memuat komentar yang seindah itu.

      Dari rangkaian komentar encik sudah dapat kita terka siapa yang Fanatik & Radikal sesungguhnya jadi usahlah kita bahas perkara itu. Karena kami tak hendak berdebat karena Nabi kami sudah memperingati perkara ini jauh-jauh hari sebelumnya. Kemudian kamipun tertarik dengan keluarga encik yang katanya berfikiran terbuka tersebut. Kalau memang encik sekeluarga berfikiran terbuka, maka tentulah dapat menghargai, menghormati, dan menerima orang yang berlainan pendapat dengannya. Namun sikap yang encik perlihatkan menggambarkan kualitas yang sebaliknya dari encik..

      Perkara majalah-majalah yang encik sebutkan namanya (yang menurut kami sama sekali tak patut dan tidaklah sopan menyebutkan nama majalah tersebut dalam komentar yang dapat dibaca banyak orang) maka kami baru tahu dari enciklah itu. Dan taroklah saya menyukai majalah yang dimaksud maka hal tersebut sepenuhnya ialah hak saya karena saya “manusia bebas” seperti yang dikata oleh Kaum Enci yakni Kaum Munafiqun, ehm.. maksud kami “Kaum SEPILIS”.

      Kami tak bercakap tak berhubungan, contoh yang kami ajukan ialah analogi. Tahukah encik dengan analogi? Janganlah serupa kata pepatah “Buruk Muka-Cermin Dibelah..” Banyak Kaum Encik (SEPILIS) karena tak sadar bahwa akal mereka memiliki keterbatasan lalu dengan pongahnya bercakap bahwa “Agama perlu dirubah agar sesuai dengan zaman..” sama juga dengan kata orang-orang pandir “Adat di Minangkabau ini bertentangan dengan Syari’at..” ata “Adat Minangkabau ini tidak sesuai dengan kemajuan zaman..” dan lain sebagainya..

      Encik kata bahwa kami tak fahamkan dengan ideologi Sekular dan Komunis. Cukuplah kami katakan disini bahwa kedua ideologi tersebut sama-sama bertujuan tatanan yang telah mapan di Eropa yakni “Agama Kristen”. Agama Kristen ialah institusi agama pertama yang mereka serang. Pada dasarnya mereka ingin menjauhkan setiap orang dari agama mereka dengan dalih memelihara dari agama itu sendiri. Dan kemudian menghancurkan atau agama itu akan hancur dengan sendirinya karena sudah tidak lagi didekati (dipakai) oleh pemeluknya -untuksekuler.

      Komunispun demikian, walau sebenarnya antara KOmunis, Ateis, dan Sosialis itu memiliki perbedaan. Namun pada mata kebanyakan orang ialah sama. Ateis tidak hanya terdapat pada Kaum Komunis namun juga pada kebanyakan orang Sekuler juga Ateis. Jangan paksakan kami untuk menjabarkan inti dari Filsafat Rasionalisme, Empirisme, Matreliasme, dsb. Kami yakin encik takkan faham..

      O.. encik tak pernah ke Swiss? Hanya punya banyak keluarga yang tinggal di Swiss?

      Fahamlah kami kalau begitu, seperti kata pepatah “TONG KOSONG-NYARING BUNYINYA..!”

      Sungguh sutu pengalaman yang menarik bersua dengan encik, kami do’akan semoga encik lekas pindah ke Luar Negeri, negara yang kami sarankan ialah ISRAEL.. ^_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s