Materi, moralitas, & kebudayaan

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Lama kami tercenung mendapati berbagai pendapat (komentar) pada salah satu tulisan kami yang membahas perkara investasi di Sumatera Barat. Kami tercenung bukan karena tak dapat menjawab segala pendapat tersebut. Namun kami tercenung karena terkejut menghadapi kenyataan bahwa telah demikian parahnya pola fikir dari sebagian orang Minangkabau.

Dalam kehidupan keseharianpun kami mendapati hal yang serupa, yakni dimana materi dijadikan sandaran utama. Beberapa contoh diantaranya ialah pertimbangan sebagian besar orang (orang tua, keluarga, bujang, & gadis) dalam menentukan perjodohan dimana materi menjadi pertimbangan utama. Tak ada uang maka takkan laku, ada uang maka akan mendapat cercaan karena tak hendak menikah.

Begitu juga di ranah pekerjaan, potensi utama yang dijadikan landasan kebijakan ialah uang. Jika dapat menghasilkan uang maka suatu programkah itu, kegiatankah itu, dan lain semacamnya akan dapat diluluskan. Namun sebaliknya jika tidak jelas-jelas menghasilkan uang (pendapatan) maka jangan berharap untuk dapat disetujui.

Orang yang memiliki jabatan dan kekuasaanpun lebih dihormati dalam kehidupan ini. Terlepas dari bentuk penghormatan itu apakah ia sekadar “ketakutan” atau “kepura-puraan” karena memang begitulah lazimnya pada masa sekarang. Jika tak berpangkat, maka jangan harap orang akan menolehkan muka kepada kita.

Dan tampaknya sudah menjadi “pendapat umum’ kalau tidak boleh kami katakan sebagai “pola fikir” atau “mentalitas”. Manusia telah menjadi budak  nafus mereka pada zaman sekarang. Uang dianggap sebagai pemecahan (solusi) utama dalam menghadapi segala kesukaran dalam hidup ini.

Keadaan (fenomena) serupa yang terjadi di negeri kita saat ini telah pernah berlaku sebelumnya di Eropa. Kehidupan yang komopolitan, glamour, bebas, serta dikuasai oleh kaum “beruang” telah menimbulkan kesesakan dan kejengkelan pada sebagian orang. Hal ini menyebabkan munculnya kelompok “Romantisisme”.

Kelompok ini memiliki kerinduan akan alam serta misteri yang terdapat di dalamnya. Kaum Romantik, begitu mereka disebut merupakan sekelompok anak muda yang merindukan masa yang telah lama berlalu. Mereka memandang masa lalu tidak dari sudut pandang  yang dilakukan orang kebanyakan. Mereka melihat masa lalu bukan dari sisi keterbelakangan dalam dunia teknologi, kekakuan hubuangan antar manusia, ataupun ketegasan aturan moral atau agama.

Kaum Romatik juga menolak pendekatan “kelas”, mereka menolak sistem dan orang-orang yang terlibat di dalamnya karena memandang mereka sebagai sosok-sosok matrealisme yang tak berkebudayaan. Bagi mereka, sebagai manusia kita seharusnya merasakan dan memaknai setiap pengalaman hidup. Tidak hanya memandang dari sudut pandang materi saja. karena dengan demikian  manusia tak ada bedanya dengan “Binatang”.

Hubungannya dengan keadaan di negeri kita saat ini ialah hal yang sama juga berlaku saat ini di negeri kita. Para pembuat kebijakan, para tokoh, pengusaha, pelajar, dan beberapa golongan lainnya berpandangan bahwa “Kemajuan suatu negeri dapat dilihat pada PADnya,[1] dan cara memajukan negeri ini ialah dengan mempebesar PAD dengan mendatangkan para Investor[2]..”

Mereka berpandangan dari sudut pandang materi dengan menghiraukan atau tidak belajar dari masa lalu. Sejarah telah membuktikan dan memberitahukan perihal kedatangan orang-orang semaca ini. Kelompok yang berpandangan lain, orang-orang yang berfikiran panjang di negeri ini menolak pandangan untuk mendatangkan investor tersebut. Bukti-bukti telah tampak pada beberapa negeri, akibat (konsekuensi) apa yang harus ditanggung apabila uang begitu berkuasa.

Orang-orang yang menolak kedatangan investor – karena telah dapat melihat dampak yang akan ditimbulkan dari segi moral – mereka pandang hina dan rendah. Dianggap tak berpendidikan, terkebelakang, radikal, fanatik, dan lain-lain julukan yang tak patut kami sebutkan disini. Sungguh manis nian tabiat mereka.

Disatu sisi mereka mengatakan “Hargailah kebebasan, jangan menghujat orang yang berlainan pendapat dengan kita..!”

Namun disisi lain mereka berteriak “Dasar fanatik, bodoh bin bengak, keluarlah dari dunia engkau yang sempit itu..!”

Katakan sekarang engku dan encik sekalian? Siapa yang fanatik, bodoh bin bengak, dan katak di bawah tempurung???


[1] Pendapatan asli daerah

[2] Beberapa orang tersinggung tatkala kami samakan antara Investor dengan Penjajah. Salah seorang pernah berpendapat dengan mengatakan bahwa investor itu tidak akan selamanya “bercokol” di negeri kita. Karena ada kontraknya seperti “30 tahun”, “50tahun” dan lain sebagainya. “Kalau memang demikian berarti engku cukup sombong dapat mengira akan dapat hidup sekitar 30 atau 50 tahun lagi. Dan kalaupun ada dapat hidup selama itu, negeri seperti apakah itu yang hendak engku wariskan kepada anak cucu..?”

19 thoughts on “Materi, moralitas, & kebudayaan

  1. Have you heard BRAIN DRAIN crisis. have you heard this terminology??
    This is what Minangkabau face right now. Sad but true.

    1. Thank you Mr. Satya, I understood about this problem. I realized that this is what we faced in this time. But is not mean that we should change our country to what they (investor) want, Isn you? We have our identity, our character, our costom, our religion, and many things else. We are different from them, there is why we not same like the other.
      We choose this change, not them choose for us, or smooth imposing this change to us. Like what happened right now. The electricity..
      They Intelectual people from our country choose to move out? I understand, because I has faced the same things before. Its not them or our false. Every one of us had a dream, some of us want to get money, the other want the modern facility, another like high position and get a big power, some of them like the freedeom (have a free sex, drug, alcohol, etc), and many thing else.
      If you love this country, you will stay here and accept the condition, no matter what..
      You want change? Change it as long as not against our costom and Syari’ah..
      Thanks for your comment..🙂

      1. “If you love this country, you will stay here and accept the condition, no matter what..”

        You can’t ask your countrymen out easily, because this country is belong to Indonesian who born and grow up here. You can’t ask them leave their country, because it’s not easy.

        We’re talking about Borderline. You know what’s the use of passport, immigration, visa. Indonesian or non Indonesian can’t live in a foreign country without sponsorship or legal law. You need to live at least several years, have a good job, lots of dollars in your saving, or you are very talented and special person so your host country want you. Like scientist, artist etc.

        And which part, the changes will against custom and syariah??

        It’s about investment. Have you been to United Arab Emirate?? Dubai?? in 1990’s .. it’s just a boring desert, with nothing….. only camel and sandune..

        please watch this brother;

        Please check out Dubai Part
        http://weburbanist.com/2011/02/21/then-now-the-stunning-speed-of-urban-development/

        Now, people or expats come to their country, make money there and they will live in prosperity. At least, the world know them, respect on them.

        I didnt mean to be materialistic, but we live on earth, not heaven. This is earth, it’s good we become a developed country, and in the future we could help people in Africa, .. this is the meaning of life for me. You don’t live for yourselves.. but you are useful for the others,- can you imagine…

        Being developed, meaning— we have a better life, from financial to healtcare. And someday, we could help poor country to get a better living.

        bukankah ALLAH swt, juga gak suka manusia hidup dalam kekufuran dan pasrah???

      2. I am sory about my terrible english sir, I can see you good in every things here. I just ordinary man who live in country side in Minangkabau.

        “Contry” which a I mean is “Minangkabau” not Indonesia. There is the way people from the past called..

        Its retoric opinion I think. You cant live in a community or even a country If you deny their social norm (except in a city community), you push to them your way and considered them as a less developed. Its judge opinion and as intelectual person I think you know that depise the other people or community was not wise.

        Have you heard about “Local Wosdom” sir?

        What I told you is from another side; social, culture, and religion perspective. You can know and learn from another community, coutry, or state. I cant answered you question about that because its to long if we discussed here.

        Every society, community, or even a country has a unic phenomenon. You cant tell us one country and put them as a model, just like that. We should know about their mentality, culture, perspective, etc. And we should know about social, mentality or physocologycal phenomenon. Human and culture was diynamic object. Its not like a Physic, Biology, or medical science.

        I agree with you, we dont live for our selves but for another. You has ready for this, but much of them was not. We should protect them, our brother and sisters. You have a skill, capital, or somethings els. But how about your mentality? Its not possible for you to change and become a stranger in your own country.

        I agree again with you. Allah is not like that. But you cant interpreted liberally, deny the investor its not mean that we will live in poverty and infidelity. What we choose its not mean give up. Its different, may be from your perspective but not mine..

        I can see that you not live in West Sumatera, you cant tell about community or society without live there with them. seeing, felt, and run the day with them. Its not like Natural Science who you can take a conclution from your experiment in a laboratory..

        Thank you for your opinion sir..

  2. Poin no 2;
    Karena ada kontraknya seperti “30 tahun”, “50tahun” dan lain sebagainya. “Kalau memang demikian berarti engku cukup sombong dapat mengira akan dapat hidup sekitar 30 atau 50 tahun lagi.

    Ini yang namanya kontrak, contoh.. saya beli Apartment. Umumnya Apartment hanya hak pakai selama 99 tahun, akankah saya hidup selama itu. nah, anak dan cucu saya yang meneruskan. Begitu juga dengan investor, seperti Freeport yang tadinya hanya sekian tahun, tapi karena pemerintah kita mentalnya jongos, karena mereka merasa diuntungkan juga dan ternyata kita juga kekurangan ahli atau anak-anak kita yang ahli itu lebih memilih melayani negara asing dibanding negaranya sendiri, Freeport kontraknya diperpanjang.

    Contoh lainnya, Belanda waktu diusir Soekarno malah cukup diuntungkan. Karena ulah Soekarno yang menasionalisasikan perusahaan Belanda, dan melanggar perjanjian.. kita anak cucu harus membayar hutang milyaran Gulden yang baru lunas tahun 2004 kemarin.

    Sumatera Barat, bangsa yang sedang menghadapi krisis Brain Drain, nggak jauh beda dengan Iran, negara yang tikat krisis Brain Drain sangat tinggi. Tentunya merugikan untuk kedua belah pihak..

    1. Terimakasih Engku Satya,
      Apartemen dipakai oleh engku dan keluarga serta nilainya dapat saja berubah (menurun) pada suatu masa. Engku dan keluarga tidak melakukan eksploitasi dan tidak merugikan siapapun disana. Sedangkan investor mereka akan melakukan eksploitasi dalam masa yang cukup lama hingga ke anak cucu kita. Mereka akan terus disana hingga segala sumber daya benar-benar habis.
      Satu hal yang saya tangkap bahwa investasi dan investor tidak sepenuhnya buruk yang membuat buruk ialah mentalitas dari penduduk lokal (pribumi) dimana mereka belum siap dengan segala perubahan yang akan terjadi. Kami sefaham kalau memang demikian, sebab sejauh pengamatan kami, Orang Minangkabau belum siap secara mental untuk menghadapi perubahan secara besar-besaran. Hal tersebut kalau dipaksakan akan menghancurkan generasi kita dan kebudayaan kita. Kalau tetap dilakukan, suatu masa kelak Minangkabau tinggal kenangan.
      Maka, tugas pokok yang pertama sekali ialah menyiapkan dunsanak-dunsanak kita ini untuk menghadapi perubahan. Bukankah begitu engku..?
      Terimakasih atas komentar engku..:-)

      1. darimana penulis tau orang Minangkabau tidak siap? saya mencium penulis takut akan sesuatu yang belum terjadi dan belum dihadapi. Kita bisa tau kemampuan kita setelah kita mencobanya. Kalau kita takut terus, kita nggak akan pernah maju..

        Contoh, kita mau mengelilingi dunia. Tapi ketakutan selalu melanda, hal-hal yang belum terjadi sudah kita takuti. Bagaimana nantinya saya tidak bisa berkomunikasi, bagaimana kalau saya yang diculik dan dijual, human trafficking, bagaimana kalau saya sakit.. bagaimana kalau saya dapat kecelakaan waktu lagi diluar negeri jauh dari sanak saudara saya.. bagaimana, bagaimana….. ketakutan lah yang bikin kita berhenti ditempat, dan sampai tua kita gak akan kemana-kemana kalau belum saja dimulai kita sudah takut duluan.

        Saya yakin dengan mentalitas orang Minang atau Sumatera. Saya pernah baca diari nenek-nenek Belanda yang lahir tahun 20-an, di Hindia Belanda. Si nenek dan keluarganya, pada awal pertengahan tahun 30-an dipindahkan ke Sumatera, di diarinya yang di publish di cerita tentang masa lalu di ‘motherland’ website Inggris.

        Si nenek cerita, susah sekali mencari ‘servant’ atau permbantu di tanah Sumatera, Sumatera sangat berbeda dari Jawa dalam mentaliti. Rakyat Sumatera tidak suka pekerjaan low labor. Mereka lebih suka punya usaha sendiri daripada jadi pembantu atau pekerja kasar di perkebunan. Kita harus mendatangkan pembantu dan kuli dari tanah Jawa.

        Nah… dari sini, kita bisa belajar… jangan samakan mental orang2 di Sumatera dengan Jawa. Tidak bermaksud mejadi rasis, pemimpin yang selama ini didominasi orang Jawa, memang ‘menjual’ negara ini. Tapi, dengan mental orang Minang,- saya yakin kita nggak sebodoh itu.

        Orang Minang itu kalau mau kasarnya, cadiak buruak. Itu saya akui, mangkanya kalau di tanah Jawa, orang Minang susah jadi pegawai rendahan.

        Orang Minang itu pintar-pintar, tapi sayang.. dengan kepintarannya mereka tidak bisa menyervis tanah sendiri karena kurangnya fasilitas. Yang rugi kan kedua-duanya.

        Ranah Minang rugi, karena aset mereka yang berharga harus mengabdi untuk tanah lain yang punya industri dan fasilitas, sedangkan aset tadi, rugi juga karena harus bekerja dan jauh dari keluarga tercinta.

      2. Terimakasih engku, baiklah akan saya coba menjelaskan sedapat saya.

        Contoh yang anda berikan ialah contoh-contoh yang bersifat sosiologis, dan kami mengakui kebenaran pada pendapat engku. Namun harap engku ketahui bahwa terdapat dua macam dikhotomi ilmu yakni Ilmu Alam (Eksakta) dan Ilmu Kemanusiaan (Humaniora/Sosial). Saya tidak dapat memberi tahu kapan dikhotomi ini muncul namun satu hal yang saya ketahui, kedua ilmu ini ialah buah dari pencerahan. Kedua ilmu ini merupakan jenis ilmu-ilmu eksperimental dan dibangun di atas filsafat Matrelialisme, Rasionalisme, dan Empirisme. Singkat kata, kalau kami tak salah ialah ilmu-ilmu ini membutuhkan pembuktian eksperimental dalam membangun sebuah tesis atau sintesis yang mereka hasilkan.

        Perbedaan pada kedua ilmu ini (kalau kami tak salah lagi) bahwa Ilmu Alam menjadikan benda, tumbuhan, dan binatang, serta fenomena alam sebagai objek kajian atau untuk diamati dan dipelajari. Diantara fenomena-fenomena tersebut dapat mereka cari pemecahannya ataupun pembuktiannya dengan melakukan berbagai penelitian dan percobaan. Percobaan dapat saja mereka lakukan di dalam labor penelitian.

        Sedangkan Ilmu Humaniora menjadikan manusia dan peristiwa-peristiwa yang dilaluinya sebagai objek kajian. Untuk mempelajari hal ini mereka harus melakukan penelitian berupa pengamatan langsung, studi wawancara, dan studi kepustakaan (arsip&dokumen). Mereka juga memiliki labor namun tidak seperti Ilmuwan Eksak yang dapat membangun sebuah gedung labor pada suatu kawasan, Ilmuwan Sosial menjadikan suatu komunitas masyarakat tertentu dengan ciri tertentu yang berhubungan dengan objek kajiannya. Sebut saja suatu kota yang multi etnis dimana berbagai etnis di republik ini berkumpul untuk dijadikan labor. Komunitas ini mereka jadikan model untuk mengkaji komunitas lainnya.

        Sekarang kita kembali kepada contoh yang engku berikan, memang benar pendapat (argumen) engku. Namun seorang profesor pernah berkelakar “Kita tidak perlu masuk ke dalam api untuk membuktikan bahwa api itu bersifat membakar..” Maksudnya, telah ada model-model apakah itu pada masyarakat zaman dahulu ataupun masyarakat zaman kita yang dapat kita jadikan contoh untuk mempelajari fenomena sosial, budaya, psikologis ataupun mental yang akan terjadi nantinya.

        Satu hal lagi, mengenai contoh perihal nenek engku. Memang benar, namun dalam memperhatikan fenomena sejarah kita harus memperhatikan satu prinsip yakni sudut pandang (perspektif) yang dipakai oleh para sejarawan ialah “Memanjang dalam Waktu” sedangkan para Sosiologis memakai sudut pandang “memanjang dalam ruang”. Maksudnya ialah para sejarawan mengamati suatu gejala (sosial, politik, budaya, agama, dll) dengan memperhatikan “JIwa Zaman” dan proses yang terjadi pada setiap periodenya. Keadaan psikologis orang Minangkabau pada masa sekarang telah banyak berubah. Akan sangat sombong dan kurang ajarnya kami apabila kami jelaskan pula hal tersebut di sini karena telah ada beberapa orang profesor yang mengupas permasalahan ini dalam penelitian yang mereka lakukan.

        Terimakasih atas komentar engku..

    2. Kami rasa sudah cukup segala perdebatan kami dengan engku. tampaknya engku bukanlah jenis orang yang dapat menghargai pendapat orang lain. berbeda pendapat ialah sesuatu yang biasa seperti kata orang “rambut boleh sama hitam”.

      Tulisan kami ini merupakan bagian dari usaha kami untuk memberikan pemahaman kepada orang lain terutama sekali orang Minangkabau. Dan kami sama sekali tak berkeinginan untuk memaksa orang lain untuk sependapat dengan kami.

      Engku tinggal di rantau tampaknya. Sedari awal sudah kami sadari hal tersebut. Mencoba kami dengan Bahasa INggris. Tahukah engku!? Orang rantau semacam engku inilah yang menghancurkan Minangkabau. Silau dengan harta dan tahta, menganggap diri lebih pintar dari orang lain. Tatkala pulang kampung menggadang dalam nagari merendahkan orang sekampung “Kalian ialah orang pandir, tidak berpendidikan dan belum mengenal dunia..!”

      Kami mencoba menahan hati dan tetap memelihara taratik selama membalas komentar engku. Namun layaknya orang Minangkabau masa kini, raso jo pareso sudah tak engku pakai. Inilah salah satu penyebab hancurnya MInangkabau. Telah banyak orang tua di Minangkabau ini yang “Salah Asuhan” kepada anak-anak serta kamanakannya.

      Engku juga berasal dari latar belakang pendidikan eksakta. SUdah menjadi kelaziman dimanapun semenjak pertama menapaki bangku kuliah. Anak-anak Eksak memang merasa lebih superior dibandingkan anak-anak dari disiplin Ilmu SOsial. Tengok saja negara ini yang diperintahi oleh orang-orang dari latar belakang Ilmu Eksak, tak difikirkannya dampak sosial, budaya, serta agama dari kebijakan yang mereka tempuh.

      Biar bagaimapun, kami ucapkan terimakasih atas kesediaan engku meluangkan waktu guna membaca blog kami yang buruk ini. Jika semua anggapan engku terhadap kami benar maka kami mohonkan ampun kepada Allah. Namun apabila salah, kami mohonkan ampun atas engku kepada Allah Ta’ala.

      Amin..

  3. at least but no least, apakah penulis merasa menjadi ‘wealth’ itu suatu yang haram?? Karena saya baca ditulisan yang lain di blog ini, penulis selalu menghubung-hubungkan kemajuan suatu bangsa dengan kemaksiatan dan sebagainya. Jujur, saya nggak ngerti kenapa bisa kesini larinya.. karena yang saya pikirkan ‘kemakmuran suatu bangsa’ dan apa hubungannya dengan kemaksiatan.

    Karena yang saya pikirkan, sementara dunia berlomba-lomba untuk meningkatkan GDP nya, menaikkan harga mata uangnya, minimal warganya gak malu jadi bangsa dimana mata uangnya gak berharga di luar negeri…. kenapa penulis terlalu takut dengan ‘menjadi makmur’?? Nabi muhammad itu pedagang, pebisnis.. orang bisnis selalu mencari peluang bagaimana bisnisnya akan tetap jalan, dan bisa memakmurkan sekitarnya….

    Qatar, UAE termasuk negara arab dan islam dengan GDP tertinggi, mereka harus berterimakasih dengan Minyak yang mereka miliki, tapi UAE juga berpikir panjang dengan memberi jalan foreign investment ke negara mereka, just in case, 80 tahun lagi sumur2 minyak mereka kering, atau sicentist sudah menemukan renewable energy..so human gak akan tergantung lagi dengan oil.

    ini daftar negara2 terkaya http://www.clicktop10.com/2013/05/top-10-richest-countries-in-the-world-in-2013/

    saya sebagai orang Indonesia sangat ingin Indonesia menyusul, karena sebagai orang Indonesia kadang saya sering malu, uang rupiah gak berlaku.. coba engku bawa rupiah ke Eropa, uang rupiah engku gak akan berharga.. coba bandingkan dengan mata uang negara2 kaya ini, mata uang mereka berlaku dimana aja….. dolar singapore, brunei…. mata uang Swis, amerika, euro berlaku dimana aja…

    Kalau Indonesia???
    Passport kita aja gak cukup membantu, malah kita termasuk negara paling susah kemana-mana, uang kita??? hanya berlaku di Malaysia dan Singapura, karena kita tetangga..

    nah, apa yang salah menjadi negara makmur?? Kaya???
    Kalau kita masih menjadi negara miskin, identik dengan kita bangsa yang malas dan bodoh, gak kreatif…..atau kestabilan politik tidak ada, atau negara korupsi…….

    kalau kita negara kaya, identik dengan, bangsa pekerja keras, pintar, inovatif… bukan bangsa dengan mental jongos.

    Kalau kita begini terus, kita akan dikalahkan dengan Vietnam. 30 tahun yg lalu Vietnam negara yg masih perang, sekarang.. dunia tahu ekonomi mereka benar2 sedang booming

    1. Terima kasih engku,

      Kami rasa engku telah salah faham dengan mamaknai beberapa tulisan kami di blog ini. Menjadi kaya, makmur itu sesuatu yang harus, memang benar nabi kita seorang pedagang namun sepengetahuan kami beliau bukan orang yang kaya secara materi. Kekayaan tidak hanya pada materi saja melainkan juga pada ilmu dan hati. Beliaulah orang paling kaya di bumi ini yang takkan ada bandingannya sepanjang masa.

      Yang engku maksudkan ialah kaya secara materi, kamipun tidak menafikan bahwa semua orang termasuk kamipun menginginkan hal tersebut. Namun agama kitapun telah mengajarkan bagaimana cara menuju ke sana. Jangan sampai mencelakakan orang lain apalagi banyak orang, telah berlaku zhalim kita namanya itu.

      Satu hal engku, kami rasa kurang tepat kiranyan jika kemiskinan sama dengan kebodohan dan kemalasan. Setahu kami Haji Agus Salim merupakan seorang yang kaya dalam segi intelektual namun miskin dari segi materi. Apakah karena kemiskinan beliau tersebut kita katakan pemalas dan bodoh? Bagaimana pula dengan Tan Malaka yang sepanjang hayatnya berada dalam pelariangan dan pengasingan? Apakah tandanya beliau juga malas dan bodoh?

      Apa hubungan antara kekayaan dan kemaksiatan?

      Dalam kasus ini saya hanya mengambil model atau contoh secara global yakni pada masyarakat perkotaan yang telah maju secara ekonomi, bukan secara pribadi atau perseorangan. Kehidupan metropolitan dan glamor telah menjadi gaya hidup yang sulit untuk dihindari. Berbagai mall, cafe, pub, bar, diskotik, dan tempat-tempat sejenis dibuat oleh orang untuk menghabiskan uang yang telah didapat dari bekerja (sebagai orang kantoran, pengusaha, birokrat, dll). Memang tidak semua dari mereka memiliki gaya hidup yang demikian, namun orang semacam ini hanya sedikit.

      Engku kata tak ada hubungan? Allah Ta’ala telah memperingati kita jauh-jauh hari “Aku coba engkau tidak hanya dengan kemiskinan dan kesusahan melainkan juga dengan kekayaan dan kesenangan..” Maaf kami lupa surat dan ayat berapa.

      Kekayaan dan kemaksiatan itu ibaratkan dua sisi mata uang. Hal ini kembali kepada masing-masing pribadi, apakah telah kukuh jiwa beragamanya atau tidak. Untuk masa sekarang, sebagian masyarakat kita telah buta mata lahir dan bathin mereka perkara ini.

      Saya tidak menolak kemajuan materi (kemakmuran), namun tolonglah disiapkan terlebih dahulu suadara-saudara kita ini. Secara bathin mereka belum siap dan gamang, mudah terseret arus dan lupa daratan. Cobalah tanya kepada orang Minangkabau sekarang “Sudah berapa kalikah engku/encik khatam Al Qur’an? sudah berapa tafsir yang dibaca? Tahukah engku/encik perihal Kitab Hukum Fiqih? Perkara Mu’amallah dalam Islam? Zakat? Puasa? Tahukah engku/encik perihal Tambo Minangkabau? Tambo Nagari engku/encik? Aturan adat yang berlaku di nagari engku/encik? dan lain sebagainya.

      Maaf engku, bukan maksud saya mengajari namun salah satu penyebab semakin hilangnya mentalitas ketimuran dalam masyarakat kita ialah karena segala macam pembangunan dan perubahan diserahkan sepenuhnya kepada Teknokrat. Sedangkan para Sosiolog, Antropolog, dan Sejarawan tidak diberi peranan. Keimuan mereka direndahkan karena dianggap tidak memberikan “manfaat teknis..” Sangat berlainan dengan orang teknik yang memberikan hasil nyata berupa pembangunan jalan, gedung, jembatan, dan lain sebagainya. Atau orang kedokteran yang membantu menyehatkan orang sakit. Atau para ekonom yang berperan dalam memikirkan, memanajemen, mengelola, ataupun meningkatkan kekayaan. Atau orang Hukum yang memberikan faedah kepada pengaturan hukum dalam masyarakat dan negara.

      Terimakasih atas pendapat dari engku..

  4. Iyo ma.. kama lo payinyo negara maju samo maksiat. Caliak lah.. tenda2 ceper di pantai padang.. itu se diuruih. Uda, manga lo awak mangecek melayu malaysia.. aden urang padang.. den imbau uda se ba a kok nyo…

    Maksiat tu alah ado sejak zaman saisuak ma da.. sejak nabi adam alah ado maksiat.. ndak ado hubungannyo samo kemajuan ekonomi do da…. kama larinyo da…

    1. Engku, teranglah kepada saya segalanya pada masa sekarang. Engku tampaknya tak mempelajari adat dan sejarah kita di Minangkabau ini. Engku kata saya bercakap Melayu Malaysia?

      Terimakasih engku, baiklah kami coba menjawab. Namun sebelumnya eloklah kiranya pabila engku coba membaca tautan ini terlebih dahulu: http://nagarikamang.wordpress.com/2013/08/01/perihal-engku-dan-encik/

      Tidak ada Melayu Malaysia, yang ada ialah Melayu Pahang, Kelantan, Trengganu, Serawak, Riau, Jambi, Deli, Minangkabau, Belitung, Melaka, dan lain-lain. Tak ada yang sebenar Melayu melainkan ialah puak (sub-bagian)saja. Mungkin engku orang Padang tetapi kami bukan, kami ialah orang “Darek”.

      Pelajarilah sejarah dan adat kita serta agama engku. Secara budaya, kekerabatan, dan sejarah kita orang Minangkabau ini lebih dekat ke Tanah Semenanjung jika dibandingkan dengan Pulau Jawa. Orang-orang di PUlau Jawa bukanlah Melayu mereka ialah etnis dengan kebudayaan tersendiri. Minangkabau ialah Melayu seperti yang dicuraikan oleh Tambo kita “Maka tatkala menang kerbau orang Melayu melawan kerbau orang Jawa maka berubahlah nama negeri ini menjadi MINANGKABAU”

      Memang benar segala macam bentuk maksiat telah ada semenjak zaman dahulu. Namun janganlah digunakan dalil tersebut untuk membenarkan dan melakukan pembiaran terhadap maksiat tersebut. Ada suatu prinsip keseimbangan, orang Cina bilang “Yin & Yang”. Akan tetap ada segala macam kemaksiatan dan kezhaliman pada setiap masa. Namun semuanya bergantung kepada manusia pada masa tersebut apakah hendak memperbaiki dengan menekan sekecil mungkin bentuk kemaksiatan tersebut atau juteru membiarkan tumbuh merajalela.

      Engku kata tak ada hubungan? Benar sebagian dan salah sebagian. Benar sebagian kami kata karena orang miskinpun ada pula yang melakukan maksiat, kemusyrikan, dan hal-hal yang ditentang agama dan adat. Salah sebagian karena bukti-bukti yang tampak berbicara berlawanan. Semakin tinggi pendapat daerah maka tingkat korupsi. Apakah di kalangan pengusaha ataupun birokrat, dan lain sebagainya. Semua orang berlari mencari daerah “basah”.

      Mall, diskotik, pub, bar, cafe, dan lain sebagainya dibuat orang untuk siapa?

      Maukah engku dengan penghasilan Rp. 5 juta sebulan makan di Lepau Nasi di tepi jalan itu?

      Marilah kita coba memandang dari sudut pandang lain. Coba tengok akhlak, watak, gaya hidup, serta pandangan dan tujuan hidup orang-orang ini. BUkan hanya dari segi pendapat mereka per bulannya. Akibat berpandangan seperti inilah makanya banyak “orang rantau” (maafkan kami engku) acap kali memandang rendah orang kampung. Karena dianggap miskin dan tak berpendidikan. Pernahkah engku mendengar “Kearifan Lokal”?

      Terimakasih engku..

  5. Malah da.. samakin maju negara manuruik ambo.. samakin sibuk uran2 tu ma da.. caliak la da.. ambo pernah tingga dibatam acok main ka singapur… dak adi waktu urang2 tu buek anak banyak2.. ndak kayak jo awak do da… kurang maju.. ndak banyak karajo.. malebe seh dirumah. Pitih dak lo banyak do.. raso ambo malah urang indonesia tuh yang pamaleh.. banyak bana waktu dibuang2…. manggata se jadinyo… caliak la urang2 di singapur tuh da….. hiduiknyo dibuk bana ambo caliak… ndak bantuak awak do.. apo yang ka dikarajoan.. ambo lulusan teknik mesin tapi ndak ado yang bisa ambo awai dikampuang surang…

    Haruslo ambo marantau ka tanah jawa jo batam tuk nyari pitiah.. ngirim pitiah ka gark dikampuang.. ndak ibo uda caliak urang2 model awak ko da…. ip ambo layi rancak bana.. tapi ambo harus marantau ka nagari urang tuk manggunoan keahlian ambo… batua yang dikecrkan uda satya tuh…. ambo brain drain… nadib urang minang mantun ma…. mamajuan propinsi lain seh.. tanah surang dibia an se…

    1. “Karantau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dirumah baguno balun..”

      Kami yakin engku pernah mendengar pepatah yang demikian. Engku, janganlah dinilai orang pada tampilan lahir saja pergunakanlah mata hati, pergauli ia lalu berilah pandangan yang seadil-adilnya. Sangatlah iba hati kami mendapat perkataan yang demikian dari engku. Sedemikian buruknyakah orang Minangkabau ini di hadapan engku?

      Mungkin pandangan demikian karena engku hanya mendapati keadaan yang serupa itu. Kalaulah memang demikian watak orang Minangkabau seluruhnya, tentulah negeri kita ini takkan pernah maju. Takkan diaspal orang jalan karena malas orang Minang bekerja, takkan ditanam padi di sawah sebab orang Minang itu pemalas dan bodoh. Tentulha sudah banyak yang mati orang Minangkabau ini kalau memang demikian.

      Engku kesalkah karena tak dapat tinggal di kampung?

      Kenapa pula sampai kesal, orang Minang itu besar di rantau. Kalau tetap tinggal di kampung dekat dengan induk, kita takkan bertambah besar. Potensi kita tidak akan pernah berkembang. Biarkanlah kampung itu tetap di kelilingi sawah, jangan pula sampai diubah menjadi perumahan dan pabrik. Kalau sampai demikian, takkan pernah kita mengecap manisnya beras kampung. Tanah kita subur karena belum terkena polusi oleh pabrik.

      Kalau kita boleh jujur, kebanyakan orang Minangkabau merantau itu bukan untuk membangun negeri di rantau melainkan melakukan eksploitasi dan kemudian hasilnya dibawa ke kampung sendiri. Tentunya eksploitasi yang dilakukan tidak sama dengan yang dilakukan oleh para pemilik modal. Memang ada juga yang memilih “merantau cino” namun hanya beberapa.

      Justeru karena ditinggalkan itulah makanya kampung selalu indah dipandang mata. Muncul rasa rindu dendam kepada kampung mengajarkan kepada kita akan dalamnya rasa memiliki dan kehilangan. Setidaknya hal tersebut mendidik jiwa engku untuk lebih halus (lebih sensitif) kepada sesama manusia ataupun lingkungan.

    2. Kami rasa engku merasa kesal dan marah atas nasib diri yang menimpa engku. Jadi kami sarankan untuk menumpahkan segala kesusahan engku atau orang kota kata “berkonsultasi” dengan kerabat terdekat. Kalau engku bayangkan kehidupan ini sesuai dengan yang engku harapkan maka hal tersebut takkan pernah terwujud.

      Kami rasa cukuplah sampai disini percakapan kita. Kami tak ingin blog kami ini sebagai tempat saling menghujat. Blog kami bukanlah jenis blog serupa itu. Kalau engku ingin dunia, kami persilahkan mengejarnya. Kami tak ada hak untuk melarang, itu ialah hak pribadi engku. BUkankah semacam itu orang-orang kota selalu kata “Kebebasan”.

      Dan kami sarankan untuk tidak melihat MInangkabau hanya Padang saja. Serupa agaknya dengan cara orang Jakarta memandang INdonesia. Hal ini menyebabkan mereka pongah dan sombong. Pelajarilah adat dan agama kita, engku pakai jugalah hendaknya “Kato Nan Ampek” apakah itu dala berbicara maupun bersikap.

      Terima kasih atas kesediaan engku meluangkan waktu untuk membaca blog kami ini. Semoga engku dilimpahi hidayah dan rahmat Allah jualah hendaknya. Amin..

  6. Terima kasih engku,

    Sekali lagi engku menjadikan materi sebagai landasan. BUkankah kami telah mencoba memberi tahu kalau janganlah materi jua yang dijadikan landasan untuk mengukur segalanya. Apabila kami tengok dari pemahaman engku terhadap permasalahan ini, mungkin engku akan berkata jawapan kami “tak memiliki hubungan”. Tapi tak apalah, namanya juga mencoba memberi tahu, kalau tak sampai apa yang kami maksudkan tentulah kami harus bersabar terlebih dahulu. Semuanya butuh proses, orang-orang sekarang banyak yang tak menghargai “proses”.

    Engku “Tidaklah kita harus membiarkan tangan kita terbakar terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa benar api itu bersifat membakar..?”

    Kami tak akan menjawab perihal investor ini. Maaf engku, mungkin itu perbedaan kita. Engku dapat dengan bebas berkata-kata. Namun bagi kami, “Kato Nan Ampek” mestilah dipakai juga. Kebencian engku terhadap salah satu investor atau salah satu pengusaha di Ranah Minang ini telah membuat engku buta tampaknya. Setidaknya engku mengenali beberapa investor dengan baik, kami harap demikian..

    Engku, kami tak hendak menolak model yang engku ajukan yakni Dubai di UEA. Namun kami belum berhasil menemukan referensi dari sudut pandang sosiologis, antropologis, dan sejarah mengenai ini. Memang dalam hal ini kita memerlukan model namun model yang kita cari hendaknya yang memiliki banyak kesamaan dengan masyarakat kita. Benar mereka sama-sama Islam tapi bagaimana dengan tingkat pengetahuan dan kesadaran agama mereka, intelektual, kebudayaan, kendali norma-norma yang mereka miliki, pola hubungan kekerabatan, dan lain sebagainya. Secara garis besar, watak orang Arab dengan Melayu sudah terang perbedaannya.

    Karena balum mendapat bukti yang cukup mengenai perkembangan masyarakat Dubai sebelum dan sesudah investasi tersebut maka kami tak dapat berpendapat. Karena pekerjaan semacam itu sangat dilarang bagi orang-orang yang telah faham dalam suatu bidang ilmu tertentu.

    Bagaimana kalau kita jadikan modelnya ialah Malaysia?

    Malaysia ialah negara Islam dan Melayu pula. Secara budaya dekat dengan kita di Sumatera ini. Namun dari segi komposisi penduduk mereka berlainan, bangsa Melayu hanya kurang lebih 60-sekian persen dari total penduduk negaranya. Politik, Pemerintahan, dan ekonomi telah dimasuki oleh orang-orang dari berbagai etnis.

    Walau menjadikan Islam sebagai agama resmi, namun Hukum Islam belumlah dipakai sepenuhnya. Tempat perjudian dilegalkan (mungkin karena mempertimbangkan etnis Cina). Sebagian besar dari kota-kota mereka telah maju dan tumbuh berkembang. Lalu bagaimana dengan keadaan sosial, budaya, dan agama penduduknya?

    Masjid yang indah-indah banyak terdapat namun sepi, apabila adzan berkumandang para Melayu berjanggut ini masih asyik maota, makan, dan bekerja. Kesadaran beragama kurang, para perempuan memang memakai baju kurung dan kerudung namun tak jarang mereka yang berpakain seperti itu terlihat berciuman dan berpagutan dengan lawan jenis mereka. Banyak orang berkata kehidupan pergaulan laki-laki di Malaysia sama atau bahkan jauh lebih buruk daripada Jakarta. Namun bedanya karena semuanya itu tidak pernah diupload.

    Pokok persoalannya ialah tidak ada tindakan tegas terhadap para pelanggar norma agama dan adat. Aturan itu akan tegak apabila ada “alat” untuk menegakkannya. Bagi negara “alat” itu ialah Kesatuan Kepolisian, Pemda memiliki “Satpol-PP”.

    Bagaimana dengan Adat dan Agama? untuk menegakkan aturan Adat dan Agama sudah ada Hulubalang (dubalang) serta Parik Paga Nagari. Namun mereka tak dapat menjalankan tugas mereka. Apa sebab? kalau dijalankan aturana adat dan Agama itu maka akan segera dipertentangkan dengan HAM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s