Buruk Muka Cermin Dibelah

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Beberapa masa yang silam kami bercakap dengan inyiak kami di kampung. Tubuh renta beliau rupanya masih kuat mengayuh kareta angin[1] keliling kampung kami. Tatkala asyik maota-ota[2] beliau bersiloroh “Urang awak kini yo ndak ado nan bataratik, baso-basi yo ndak dipakai urang bana kini..”

Kamipun tersenyum dan mengamini, kembali kami berdua asyik bercakap-cakap.

Memanglah demikian agaknya keadaan sekarang, baso-basi telah tidak dipakai orang lagi, raso jo pareso serta tenggang ma nenggang sudah menjadi barang usang. Apa gerangan yang tengah berlaku saat sekarang di Minangkabau ini?

Terburuk dari itu semua ialah mereka berpandangan bahwa tabiat yang serupa itu ialah biasa dan lazim pada masa sekarang. Pabila diberi tahu mereka tak hendak mendengar bahkan kita pula yang dihujat dan dicaci. Tak tanggung kasar dan tajamnya perkataan mereka itu, tampaknya petuah orang tua masa dahulu tak meraka amalkan.

Apa petuah itu “Fikirkan apa yang hendak engkau katakan, namun jangan engkau katakan apa yang sedang terfikirkan”

Sayangnya syetan telah membutakan hati mereka dengan menganggap perbuatan buruk yang mereka kerjakan itu ialah suatu yang baik dan lazim. Tak ada cela dan patut untuk dihindarkan.. tidak.. sama sekali tidak.

Pabila kita bercakap-cakap dengan mereka, maka kita mesti sependapat dengan mereka. Pabila tidak mereka akan mengamuk marah, mengata-ngatai kita tak berpendidikan, bodoh, kolot, fanatik, radikal, dan berbagai julukan yang telah terdaftar dibenak mereka.

Apakah serupa itu ajaran adat dan agama kita? Dalam ajaran adat kita, tedaklah mesti kita ini sependapat. Imam Malik saja berusaha mencegah Khalifah Harun Al Rasyid tatkala mencoba memaksakan Mazhab Maliki ke seluruh wilayah Islam. Alasan beliau ialah setiap masyarakat memiliki sejarah dan pengetahuan yang berbeda-beda sehingga cara mereka menerima dan mengamalkan ajaran agama berbeda pula.

Mereka juga suka sekali berdebat, baik dalam adat dan syari’at debat itu dilarang. Nabi kita mengungkapkan kebencian beliau terhadap debat dengan perumpamaan “Aku adalah jaminan bagi orang-orang yang meninggalkan perdebatan, kendatipun ia benar[3]. Untuk mendapatkan istana di pinggiran syurga..” (Dalam Al Qardhawi. Memahami Khazanah Klasik, Mazhab, dan Ikhtilaf. Hal.307)

Dalam pandangan adat kita tak pernah adanya perdebatan yang ada ialah permufakatan (diskusi). Itulah yang dilakukan oleh para datuk atas dasar kebenaran yang berlandaskan kepada syari’at. Apabila tidak didapat persesuaian maka para datuk biasanya akan mamparabuangan (menskors) jalannya rapat. Gunanya ialah untuk mendinginkan kepala, mengindap-inapkan[4] kembali permasalahan yang diperselisihkan tersebut. Bukan memaksakan kehendak dengan cara menghujat, mencaci maki, ataupun melemparkan tuduhan (fitnah) kepada fihak yang tidak bersesuaian.

Begitulah, hal ini berlaku karena semenjak dari bangku pendidikan mereka telah diajarkan untuk berdebat sehingga memandang baik perdebatan tersebut. Dalam pandangan mereka perdebatan ialan ciri para intelektual. Akhirnya mereka muncul menjadi pribadi-pribadi kasar yang hanya mementingkan diri sendiri. Tanpa memandang perasaan orang lain..

Dibesarkan dan hidup jauh dari pandangan adat dan agama yang jalin menjalin telah menjadikan mereka tumbuh sebagai pribadi-pribadi yang sama sekali asing bagi tanah kelahirannya. Pandangan Matrealistis yang telah mereka dapat di bangku pendidikan menyebabkan mereka menjadi pribadi-pribadi kasar tak berperasaan. Menjadi makhluk-makhluk timpang karena lebih berat kepada lahir apabila dibandingkan dengan bathin. Menilai apa yang terlihat, meraba apa yang terasa di kulit, menuju kepada yang tampak. Begitulah mereka

Ketidak mampuan mereka dalam memahami adat dan agama dan kecongkakan mereka dengan pengetahuan yang mereka dapat semasa sekolah telah menjadikan mereka seperti para kolonialis terhadap negeri kelahiran mereka. Mereka tak sanggup dan mampu memahami adat, agama, kehidupan masyarakat mereka di berbagai negeri di Minangkabau ini. Hanya menjadikan kota tempat kelahiran mereka sebagai panduan tanpa memikirkan nasib naas yang akan menimpa daerah lain di negeri mereka. Karena ketidak mampuan mereka itulah hingga mereka berani tanpa malu memberikan pernyataan menghakimi terhadap adat dan agama mereka.

Namun sayangnya, mereka tak sadar kalau mereka tak mampu. Persis seperti kelakuan sekelompok orang di republik ini yang karena tak sanggup memahami ajaran agama, kitab-kitab yang dikarang oleh imam-imam terdahulu berpandangan bahwa sudah saatnya ajaran agama ini kita bangun ulang. Itulah yang terjadi pada masa sekarang..

Jadi engku dan encik, marilah kita kembali ke adat dan agama kita. Di blog ini hendaknya kita saling bertukar informasi, bertukar pendapat, bukan saling menghujat dengan dalih berdebat. Jadi kami mohon maaf apabila nantinya komentar engku dan encik yang tak menimbang rasa tidak kami tampilkan.


[1] Sepeda

[2] Bercakap-cakap

[3] Maksudnya ialah pendapat dari orang yang mengikuti perdebatan itu benar

[4] Merenungkan, memikirkan secara mendalam

http://www.dakwatuna.com/2013/10/26/41154/mendagri-gandeng-fpi-apa-kata-ahokmendagri-gandeng-fpi-apa-kata-ahok/#axzz2inbGsjFo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s