Tak Berkening

“Kapan negeri ini hendak maju, setiap usaha yang dilakukan untuk memajukan negeri, orang-orang pandir serupa engku-engku ini selalu berteriak-teriak perihal Tanah Ulayatkah itu atau sekarang Pemurtadan. Cobalah tengok propinsi tetangga dan juga perluas jaringan informasi engku-engku, tidak ada itu yang namanya Kristenisasi atau Pemurtadan. Itu semua hanyalah bualan orang-orang pandir dipanas-panasi pula oleh sekelompok pengusaha lokal yang takut bersaing dengan JTR…”

“Mana buktinya, mana pernah terdengar kasus pemurtadan di rumah sakit itu. Merekakan tidak pandir, kalau memang ada, tentulah sedari dulu rumah sakit mereka itu ditutup orang. Jangan terlalu didengar pendirian kaum fanatik yang serupa katak di bawah tempurung itu. Ditertawakan orang seindonesia kita ini. Apalagi ormas radikal serta sekelompok perempuan bercadar juga ikut serta dalam demo Kamis yang silam, semakin nyatalah bahwa aksi itu hanyalah bentuk kefanatikan segelintir orang di bandar ini saja..” seru Sutan Malenggang dengan pongahnya tatkala duduk-duduk di balai selepas Jum’at.

Sutan Malenggang yang masih tergolong muda ini ketika itu berhadapan dengan para engku-engku yang telah berumur. Ada yang telah berusia di atas 50 tahunan, 60 tahunan, 70 tahunan, bahkan ada pula engku yang berusia di atas 80 tahunan. Sudah patut pula dipanggil inyiak atau datuk oleh Sutan Malenggang ini.

Namun Sutan Malenggang ialah orang berpendidikan, tamatan universitas terkenal. Sekarang dia bekerja pada salah satu instansi pemerintahan serta memiliki pekerjaan sambilan sebagai pemilik perkebunan sawit dan beberapa usaha perdagangan. Sangat dielu-elukan oleh orang kampung, terutama kaum-kerabat serta dunsanak sesukunya. Konon kabarnya Sutan Malenggang ini merupakan Putera Mahkota bagi Datuknya.

Datuknya belumlah uzur benar, namun merasa uzur saja. Sebab kamanakan sudah Gedang Bertuah, tentulah lebih pantas apabila dia yang menyandang gelar datuk ini, Datuak Malenggang Di Langik, itulah gelar pusakanya.

Orang-orang kampung yang telah faham tabi’at Sutan Malenggang hanya diam mendengar perkataan Sutan Malenggang ini. Baru tadi pagi ia pulang dari Bandar Niaga di Pesisir Barat hendak pergi selepas Jum’at ini ke Rantau Pas*man, disanalah terletak Kebun Sawit si sutan ini.

Banyak orang kampung yang heran tatkala melihat Sutan Malenggang ikut pula Shalat Jum’at di surau. Biasanya si sutan selalu berkilah kalau sudah menjamak dan mengqasar shalatnya, dalihnya ialah sebab pada saat sekarang dia sedang berada di dalam perjalanan. Orang-orang kampung hanya geleng-geleng kepala sambil mengulum senyum “Terserah di dialah, diakan orang pintar, berpangkat, dan kaya. Kita orang kampung ini pastilah dianggap pandir saja olehnya..”

Namun orang kampung cukup merasa heran dengan perkataan Sutan Malenggang barusan “Apakah si kafir itu hendak mendengarkan kata kita apabila nantinya dia membuat gereja dan sekolah penginjilan di dalam kawasan tersebut? “Apapula hak engku-engku mencampuri urusan saya, inikan tanah saya, yang akan saya bangunpun dengan uang saya. Tak ada hak bagi engku-engku mencampurinya. Ini ialah negara bebas, jadi hargailah kebebasan setiap warga negara” dapat saja si kafir itu bercakap demikian nantinya” dapat saja perkara yang demikian berlaku.

Namun orang-orang diam saja, tak hendak melawan. Sebab tak ada guna, orang serupa Sutan Malenggang ini ialah jenis manusia Minangkabau Moderen, sudah tak ada raso jo pareso dalam dirinya. Secara keturunan memanglah Minangkabau namun secara kepribadian, watak, dan karakter sudah menjadi orang Jakar*a ia ini. Kasar dan tak memiliki sensitifitas kepada orang lain dan lingkungan.

Gambar Ilustrasi: Internet

Gambar Ilustrasi: Internet

Namun tak semua orang sependapat agaknya, sebab Mak Kari yang sedang membuatkan kopi pesanan Sutan Malenggangpun bertanya dengan nada tak bersalah “Tak masuk kerjakah sutan hari ini? Kalau kami tak salah baru besok orang kantor itu libur..!”

Sungguh kurang ajar Mak Kari ini, namun tak jadi soal bagi Sutan Malenggang sebab dia memang pandai berkilah “Hah.. tak tahukah Mak Kari ini, saya ini merupakan Pejabat Eselon di kantor. Kepergian saya tentulah atas seizin dari kantor. Sebab memang ada urusan kantor yang hendak saya urus di Pas*man..”

Orang-orangpun diam saja mendengarnya, teranglah kalau Sutan Malenggang ini tak dapat dibawa ke tengah. Yang di dia saja yang lalu, falsafah “Lamak di awak – Katuju di urang..” sama sekali tak dipakai olehnya, atau mungkin tak dikenal.

Sutan Malenggangpun bertanya dengan nada yang dibuat-buat sesantun mungkin “Menurut bapanda Sutan Rumah Panjang bagaimanakah kira-kira persoalan ini..?”

Engku Sutan Rumah Panjangpun tersenyum, walau kumis tebalnya menutupi hampir sebagian besar bibir bagian atas. Namun senyuman itu masih tampak oleh segala orang yang hadir “Nanda, kami ini orang kampung tak bersekolah. Manakan dapat menjawap tanya ananda itu..!” jawab Sutan Rumah Panjang

“Ah.. tak usahlah bapanda serupa itu. Semua orang boleh berpendapat, inikan negara bebas..” jawab Sutan Malenggang pongah.

Bagindo Marah yang duduk di sebelah Sutan Rumah Panjangpun menimpali “Ananda, bagi kami orang kampung ini, kebebasan itu tak ada. Yang ada ialah raso jo pareso, tenggang-manenggang, lamak di awak ka tuju di urang, alun takilek alah takalam, dan lain sebagainya. Bagi kami orang kampung ini, semuanya diatur oleh raso jo pareso. Yang kesemuanya itu berlandaskan kepada Qur’an dan Sunnah nabi kami..”

Sambil memandang ke orang ramai Bagindo Marah melanjutkan “Memanglah pada pemandangan keilmuan ananda dan beberapa orang kawan-kawan ananda yang sefaham beranggapan bahwa segala sangkaan kami perihal pemurtadan itu ialah akal-akalan saja. Walau kamipun heran, keuntungan apa yang kami dapatkan apabila orang ini tak jadi “menanamkan” modalnya di bandar tempat ananda tinggal sekarang. Namun yang jelas, beberapa kelompok orang pastilah mendapat keuntungan dengan kedatangan “investor” ini. Walau pandir dan tinggal di kampung kami faham juga perihal “bagi-bagi kue” yang terjadi di tingkat atas sana…”

Sutan Malenggang membelalakkan matanya tatkala mendengar perkataan terakhir dari Bagindo Marah ini. Namun segera dilanjutkan oleh Bagindo Marah dengan nada yang setenang mungkin.

“Usahlah nanda marah kepada kami perihal ucapan kami yang terakhir tadi. Tak ada maksud menyinggung ananda. Namun yang pasti ananda, uang tidaklah menjamin kebahagiaan, uang tidak pula dapat menjamin hidup kita akan tentram. Satu-satunya jalan untuk hidup tenang, senang, nyaman, dan tentram ialah dengan menjadi manusia yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya, seperti yang telah diajarkan oleh nabi kita..” terang Bagindo Marah.

Sutan Malenggang yang sedari tadi hendak memotong pembicaraan Bagindo Marahpun menimpali dengan pongahnya “Mamanda, jawapan mamanda tidak menjawap pernyataan saya. Memangnya ada bukti kalau JTR dengan SILOAMNYA pernah melakukan Kristenisasi di daerah lain..?”

Sutan Rumah Panjang tampaknya mulai naik pitam, dicoba jua menenangkan oleh Bagindo Marah namun sambil mengangguk-angguk kikuk akhirnya Sutan Rumah Panjang membuka suara “Ananda, apakah untuk membuktikan api itu bersifat membakar maka ananda akan membakar diri ananda terlebih dahulu, maka baru percaya? Apakah untuk merasakan bahwa mengendarai onda dengan kencang atau laju (ngebut) dapat berakibat celaka maka ananda akan mencoba hal tersebut terlebih dahulu. Bukankah sudah nyata siapa JTR itu, dia seorang penganut Nasrani yang berkeinginan untuk menyebarkan agamanya kepada seluruh orang Indonesia. Termasuk kita orang Islam ini..”

“Tak dengarkah ananda kejadian yang di Palembang..!?” tanya Sutan Rumah Panjang

“Dan satu hal lagi, ananda begitu keras pendiriannya dalam menyokong kedatangan si kafir ini karena ananda dan kolega ananda juga diuntungkan dengan kehadiran investor ini, bukankah begitu. Kami rasa Bagindo Marah telah menjelaskan secara tersirat tadi..” lanjut Sutan Rumah Panjang.

Sebenarnya masih banyak yang hendak disampaikan oleh Sutan Rumah Panjang. Sebagai seorang bapak (Sutan Rumah Panjang sesuku dengan ayah Sutan Malenggang) beliau merasa berkewajiban mengajari anak saudaranya yang sudah kehilangan raso, pareso, serta taratik ini.

Begitu juga dengan Bagindo Marah yang merupakan salah seorang mamak dari Sutan Malenggang (walau hanya mamak bertali adat bukan bertali darah), beliaupun berkeinginan serupa. Namun sifat menahan diri orang tua memang patut untuk dicontohi, beliau berdua ini faham bahwa mengajari anak dan kamanakan mereka di tengah balai justeru akan memberi malu kepada anak – kamanakan mereka itu. Apalagi dia orang berpangkat dan berharta, bisa-bisa dendam dia kepada bapak dan mamaknya yang miskin ini.

Selepas kena ajari oleh bapak dan mamaknya, Sutan Malenggang sebenarnya masih berkeras hati melawan. Namun kedua orang tua ini lebih banyak bertahan dengan menjwab sekenanya. Kebetulan pula ada beberapa orang yang mengenengahi “Diparabuangan rancaknyo dahulu..” maksudnya apabila dalam suatu musyawarah atau mufakat terjadi beradu pendapat yang tak ada ujung pangkalnya dimana masing-masing fihak sama-sama bersikeras dengan pendiriannya masing-masing maka rapat dihentikan sejenak. Orang sekarang mengatakan “di skors”..

Kejadian di balai selepas Jum’at tadi mendatangkan keinsyafan bagi kami. Betapa benar kata Buya Hamka “Iman tanpa ilmu ibaratkan lentera di tangan bayi. Ilmu tanpa Iman bagaikan lentera di tangan pencuri..”

Kejadian yang terakhirlah yang banyak terjadi di negeri kita saat ini. Keserakahan, kemunafikan, egoisme yang tinggi, dan ketiadaan raso jo pareso telah menjerumuskan negeri ini ke lembah kebinasaan. Tanpa ada rasa malu apalagi rasa bersalah, mereka berteriak-teriak sambil mengata-ngatai saudara mereka, mamak mereka, bapak mereka, ibu, etek dan maktuo mereka, serta segala orang di Alam Minangkabau yang berlainan pendapat dengan mereka.

Anggapan bahwa merekalah kelompok yang “tercerahkan” sedangkan orang Minangkabau lainnya ialah orang-orang pandir yang tak patut didengar pendapatnya begitu membekas di benak mereka. Merekalah yang bersekolah, mereka pula yang telah melihat dunia, lain dengan orang kampung pandir itu..

“Katak di bawah tempurung..” itulah kata mereka. Seolah-olah merekalah satu-satunya orang pintar, terdidik, intelektual, dan “tercerahkan” di Alam Minangkabau ini. Sungguh kami heran sendiri dibuatnya “Siapakah sesungguhnya yang serupa katak di bawah tempurung itu..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s