Perjuangan yang janganlah padam

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

ya.. kau bayangkan, ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanyalah level rendah, seperti; perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi-misi dalam tindakan mereka, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya yang ada disekitar mereka. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan mereka, tidak takut dengan siapapun. Sungguh tidak ada yang dapat menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka..”

(Dengan perubahan seperlunya: Darwis Tere Liye. Negeri Para Bedebah. Gramedia. Jakarta, 2012. Hlm. 19)

Kami tak pula faham dengan ilmu ekonomi, tak pula berpengalaman di ranah kekuasaan, tak memahami dengan baik perihal psikologi sosial dan lain sebagainya. Namun tatkala membaca salah satu dialog dalam roman yang ditulis oleh Engku Darwis ini membuat kami tersadar, ada semacam letupan dalam benak kami. Tak kuat akal kami untuk menyangkalnya “Memang demikianlah adanya..”

Kami terkenang akan kejadian semasa kuliah dahulu, dimana salah seorang dosen kami pernah berujar di hadapan kelas “Engku dan encik sekalian, sangatlah berbahaya seorang terdidik/intelektual melakukan suatu tindakan melanggar hukum dibandingkan dengan orang-orang yang tak bersekolah..”

Pada masa itu kami semuanya hanya diam saja, lalu kemudian disuruhlah kami menonton sebuah filem kalau kami tak salah berjudulkan “Naga Bonar”. Pada filem tersebut dijelaskan oleh dosen kami itu semuanya. Bagaimana seorang pandir bin bodoh tidak begitu berbahaya dalam menunaikan suatu tindakan kejahatan. Namun apabila orang terididik, tamatan sekolah ternama pula, maka tunggu sajalah kebinasaan yang ditimbulkannya kepada seluruh orang.

Kemudian ingatan kami kembali ke masa sekarang, sungguh tergelak kami dalam hati. Tak membaca roman dari Engku Darwis kah orang-orang ini, tak pulakah mereka menonton Filem Naga Bonar yang dibintangi oleh Engku Dedy Mizwar itu? Kalaupun ada, mereka tentunya hanya sekadar membaca dan menonton saja. Tak diambil hikmah dari apa yang mereka baca dan tonton itu.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Kami pernah mendengar suatu pernyataan di televisi “Investor bukan Malaikat..!”

Maksudnya ialah bahwa jika seorang investor memutuskan untuk berinvestasi pada suatu perusahaan kah itu, daerahkah itu, atau yang lainnya, mereka melakukannya atas dasar kepentingan keuntungan. Apabila tak menguntungkan, maka mereka takkan hendak menanamkan uang mereka. Begitulah, ketamakan, sekali mengecap nikmatnya uang maka akan menjadi “CANDU” yang tak dapat dielakkan. Apakah itu pengusaha, birokrat, politisi, artis, atlit, pegawai, ataupun rakyat kebanyakan.

Beberapa orang kawan tergelak tatkala Engku Kepala Bandar mengeluarkan pernyataan “Saya akan terus mendukung dan melanjutkan pembangunan Super Blok LUPPO dan RS SALAMAK, dan saya lebih takut masyarakat Bandar ini tidak mendapatkan pekerjaan daripada adanya gerakan pemurtadan..”

Para pimpinan di bandar tersebut selalu menggadang-gadangkan betapa dengan masuknya investor ini maka akan banyak tenaga potensial di bandar tersebut akan terselamatkan. Belum lagi sekolah dan rumah sakit yang akan mengobati banyak orang Minang. Oleh karena itu mereka beranggapan semestinya kebijakan ini disokong oleh banyak orang.

Namun sayangnya tidak semua orang dapat ditipu oleh Sang Katua Bandar tersebut. Sebab tatkala Demo Kamis 24 Muharam yang lalu digelar, melihat banyaknya orang yang datang berdemo maka kesallah Ketua Bandar ini maka muncul pula pernyataan dari Sang Ketua “ Bahwa demo itu dibayar oleh salah seorang pengusaha di bandar tersebut. Kemudian para pendemo ialah orang-orang pengangguran dan bersedia dibayar  untuk berdemo..”

Tergelaklah orang-orang, memang telah lama terdengar kabar perihal tuduhan yang pertama tersebut. Namun hal tersebut tak dihiraukan oleh orang-orang, apa pasal? Sebab hal tersebut telah menyentuh ranah yang lain, apabila ditanggapi maka Umat Islam akan terjebak dalam pertikaian antara pengusaha di Banadar tersebut. Dan kalaupun ditanggapi maka akan semakin mengukuhkan FITNAHAN dari Kaum Munafiqun ini.

Namun yang paling membuat orang-orang kesal ialah tatkala terdengar tuduhan dari Ketua Bandar tersebut “Ulama dan para pendemo picik dan bodoh karena menolak investasi LUPPO GRUP”

Salah satu petikan kehidupan masyarakat perkotaan. Ilustrasi Gambar: Internet

Salah satu petikan kehidupan masyarakat perkotaan.
Ilustrasi Gambar: Internet

Ditambahi pula oleh Engku Bendahara Bandar tersebut “Persoalan RS Salamak dan Luppo Superblock adalah urusan rumah tangga Bandar ini, yang tidak boleh dicampuri oleh orang luar Bandar..”

“Demo tersebut menjadi tanda tanya bagi saya, kenapa ada orang luar yang ikut. Padahal pemba­ngunan Rumah Sakit Salamak berada di Bandar ini..” lanjutnya

Beberapa orang kawan menjawab dengan ringan “Tepat dugaan kami sebelumnya, sebagian besar dari birokrat di negeri kita telah terpengaruh dengan ideologi SEPILIS. Pernyataan dari Bendahara Bandar tersebut sesuai dengan pandangan yang berusaha Kaum SEPILIS ini sebarkan bahwa masalah agama ialah malasalah antara pribadi dengan tuhannya tak boleh dicampuri oleh negara. Intinya mereka berusaha mengisolasi permasalahan tersebut ke ranah yang paling kecil. Sebab kalau berhadapan dengan orang Minangkabau mereka akan lemah dan kalah…”

Kawan kami yang lain menyambung “Satu hal yang orang-orang ini tak faham, bahwa kita orang Minangkabau tidak mengenal batas-batas administratif seperti sekarang. Banyak orang Lubuak Aluangkah itu atau daerah-daerah lain di sekitar Padang yang secara emosional terikat dengan Bandar tersebut. Ada pula daerah-daerah di sekitar Kota Payakumbuh mereka juga terikat secara emosional dengan kota tersebut. Daerah-daerah di Agam Timur dengan Kota Bukittinggipun demikian. Artinya apabila berhadapan dengan orang luar kita selalu mengemukakan Keminangkabauan kita. Sedangkan di dalam lain perkara. .”

Pernyataan dari kawan kami tersebut rupanya memancing yang lain untuk menjawab “Saya setuju dengan pandangan engku tersebut. Namun sebagai tambahan pengetahuan bagi kita bahwa sesungguhnya pandangan serupa itu juga ada pada diri masyarakat pada kebudayaan lain. Hanya saja perasaan serupa itu telah menipis pada orang kota. Mereka merasa besar sendiri, pintar sendiri, dan kehilangan sensitifitas mereka terhadap orang lain dan lingkungan..”

Dari percakapan kawan-kawan kami ini, kami merasa sangatlah cemasnya. Sebab kami dengar anggota dewan dan fihak pemerintah bandar rupanya seayun-selangkah dalam menenggelamkan bandar ini. Ditambah dengan media yang dikuasai oleh golongan SEPILIS atau Munafiq ini, hal ini membuat kita harus bekerja lebih keras. Sangatlah kecil kemungkinan untuk dapat berhasil meluluskan tuntutan ini, namun tak boleh patah semangat. Yang penting ialah semangat yang telah ada dijaga, jangan sampai GHIRAH ini padam perlahan-lahan. Janganlah hendaknya gerakan ini hanya bersifat emosional semata, datang dan pergi begitu saja tanpa bekas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s