Roman: Negeri Para Bedebah

Judul Roman[1]    : Negeri Para Bedebah

Pengarang          : Darwis Tere Liye

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Tempat Terbit   : Jakarta

Tahun Terbit      : 2012

Tebal                     : 440 hlm; 20 cm

Darwis Tere Liye ialah seorang penulis yang sedang naik daun di Indonesia pada masa sekarang ini. Telah banyak roman yang ditulis olehnya, mulai dari roman percintaan, kisah hubungan kasih antara keluarga, serta seperti yang sekarang kita bahas yakni yang berkaitan dengan kehidupan bernegara. Beberapa diantara romannya telah pula difilemkan.

Roman dengan judul Negeri Para Bedebah ini sungguh sangat bagus sekali membuka pandangan kita mengenai salah satu sisi kehidupan bernegara. Pengetahuan Engku Darwis mengenai permasalahan di bidang perkenomian suatu negara sungguhlah sangat dalam. Melalui kisah rekaan (fiksi) ini, Engku Darwis mencoba menerangkan kepada kita perihal salah satu tipu-muslihat, kecerdikan (kalau tak hendak dikatakan kelicikan), serta gambaran kehidupan salah satu keluarga yang memegang kendali di bidang ekonomi.

Kutipan kegemaran (favorit) kami dalam roman ini ialah:

ya.. kau bayangkan, ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanyalah level rendah, seperti; perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi-misi dalam tindakan mereka, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya yang ada disekitar mereka. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan mereka, tidak takut dengan siapapun. Sungguh tidak ada yang dapat menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka..” (hlm: 19)

Dengan berat hati kami akui bahwa kami sependapat dengan Engku Darwis mengenai hal ini. memang begitulah agaknya. Kejahatan yang dilakukan oleh seorang terdidik lebih terstruktur dan sistematis berlainan dengan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tak berpendidikan (kelas teri) lebih bersifat insidensil dan tak terencana.

Permainan (konspirasi) tingkat atas dalam mengumpulkan kekayaan, mempertahankan dominasi, serta memperkuat pengaruh pada aparat negara dijelaskan dengan cukup baik dalam novel ini. Hampir semua tokoh yang disebutkan dalam novel ini ialah para budak uang. Kecuali beberapa orang tentunya..

Mereka akan melakukan apa saja untuk dapat mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Ketamakan telah menjadi “nama tengah” mereka. Beberapa hal yang bertentangan dengan peraturan menjadi wajar. Sebut saja beberapa kode etik di bidang perbankan “Know your costumer..” falsafah ini agaknya telah disalah-gunakan.

Bagi kita masyarakat kecil yang berada pada lapisan bawah Piramida hendaknya sadar bahwa jarang (kalau tak hendak dikatakan tak ada) investor yang baik, berhati malaikat. Setiap langkah investasi yang diambil pastilah memuat maksud-maksud tertentu. Manalah mungkin hendak merugi dengan membantu orang-orang yang sama sekali tak mereka kenal. Hitung-hitungan ekonomi sangat bermain dalam hal ini. Mereka tak pernah rugi, yang ada ialah mereka pandai dalam mempermainkan atau memutar uang yang diberikan oleh masyarakat.


[1] Novel

2 thoughts on “Roman: Negeri Para Bedebah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s