Bertuahnya engkau..

Pada pagi hari ini di kawasan persawahan di Baruah, Sutan Mantari bercakap-cakap dengan Sutan Pamenan. Isi percakapan mereka ialah membahas perkara beberapa orang tabib yang berdinas di Celebes Utara yang dipenjarakan oleh orang. Mereka dipenjarakan karena diduga membuat mati salah seorang pasien mereka.

Sambil mencangkul sawahnya yang berair Sutan Mantari berujar “Tadi pagi saya baca koran perihal tabib itu lagi. Beberapa hari ini hampir setiap hari dibahas oleh koran-koran di negeri kita agaknya. Hebat sekali, hanya karena beberapa orang tabib satu republik ini menjadi rusuh..!”

Sutan Pamenan agaknya tak kalah geramnya “Benar engku, hebat sekali tabib-tabib ini, patutlah tak ada yang dapat dipenjarakan. Padahal sudah banyak nyawa melayang ditangan mereka. Coba engku hitung-hitung kembali, sudah berapakah kasus malpraktek yang dilakukan para tabib namun tak pernah terdengar kabarnya sampai ke pengadilan..”

“Ah.. engku ini. Manalah teringat oleh kami kasus-kasus malpraktek itu, lupa kami mencatatnya. Kalau tahu akan engku tanya, tentulah sedari awal telah kami catat. Namun benar kata engku, tabib-tabib itu sungguh bertuah sekali. Tak ada yang dapat menangkap mereka, padahal hampir setiap hari orang sakit kena hardik oleh para tabib itu..” jawab Sutan Mantari

Sutan Pamenan berhenti mencangkul, menjadikan tangkai cangkulnya sebagai tongkat dan kemudian sambil berdiri berkacak pinggang menoleh kepada Sutan Mantari “Namun engku, sebaiknya kita selalu ingat bahwa Jangan karena nila setitik, rusak pula susu Sebelanga..”

Kemudian Sutan Pamenan melanjutkan “Itulah salah satu keanehan di republik ini. Banyak sekali orang bertuah di negeri ini, hanya kita-kita yang setiap hari bergulimang lunau dan kesusahan hidup sajalah yang tak ada tuahnya. Apabila sakit kita kena hardik sedangkan apabila salah kita langsung kena tangkap..”

Sutan Mantari tertawa terkekeh “Kalau begitu marilah kita berdo’a kepada Allah Ta’ala supaya diberi rahmat kesehatan dan kelapangan hidup. Terhindar jualah kita hendaknya dari segala musibah itu hendaknya..”

“Amin..” seru mereka serempak.

“Namun tahukah engku dengan istilah yang disebut-sebut oleh para tabib itu..?” tanya Sutan Mantari kemudian.

“Istilah apapula itu engku..?” tanya Sutan Pamenan.

“Itu.. kriminalisasi..” jawab Sutan Mantari

“Alah.. itukan pandai-pandai mereka saja. Kriminalisasi berasal dari kata kriminal dan sasi, yang artinya kira-kira “berkilah”. Demikianlah engku..” jawab Sutan Pamenan

Sutan Mantari terdiam mendapat jawapan serupa itu, sebab dia merasa ada yang ganjil dengan jawapan dari Sutan Pamenan tersebut. Namun karena tak ada dapat yang hendak dijawab maka terpaksalah Sutan Mantari diam dan berjanji akan bertanya kepada isterinya perihal “kriminalisasi” tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s