Tak ada malukah..?

Semasa pulang kampung yang dahulu kami taragak[1] hendak menziarahi Bandar yang pernah selama kurang lebih lima tahun kami diami dalam masa menuntut ilmu di bangku kuliah. Walau pernah beberapa kali singgah ke Bandar tersebut, namun kami hanya sekadar singgah, tak dapat melihat-lihat di sana.

Kami berangkat dengan menumpang kepada angkutan bus, salah satu perusahaan bus antar kota dari beberapa perusahaan angkutan yang menyediakan jasa angkutan tersebut. Kami berangkat dengan dikawani isteri kami, sekalian untuk menziarahi rumah mertua yang terletak pada salah satu kawasan di Bandar tersebut.

Tatkala bus baru saja berjalan, televisi yang terdapat di dalam bus yang biasanya sangat jarang sekali dihidupkan  tiba-tiba menyala. Rupanya dihidupkan jua oleh pengemudinya, namun AC yang biasanya hidup justeru diam tak bersuara, kami hanya tersenyum saja mendapati hal yang demikian.

Tontonan yang disajikan oleh pengemudi buslah yang membuat kami terkejut agak sesaat. Sebuah untaian video klip beberapa lagu Minang kontemporer. Awalnya yang bernyanyi ialah seorang penyanyi Minang lelaki yang menjiplak lagu India “Chaiya..chaiya” yang sempat dipopulerkan oleh Briptu Norman Kamaru dengan mengubah liriknya dengan Bahasa Minangkabau.

Kemudian lagu berikutnya ialah lagu-lagu dari TRIO LONTE yang membuat kami mengurut dada. Tiga orang perempuan berpakaian apa-adanya melagukan lagu dengan lirik Bahasa Minangkabau namun dengan lantunan nada kontemporer. Nada lagu tersebut tidak pula buatan sendiri melainkan diambil dari beberapa lagu-lagu disko (triping). Sementara mereka bertiga asyik bernyanyi, badan merekapun ikut bergoyang-goyang serupa cacing kepanasan. Padahal music yang mengiringi tak pula bagitu menghentak dan sesuai dengan gerakan tubuh mereka.

Sesaat kami terkenang dengan peristiwa serupa di atas bus yang berlainan beberapa tahun silam semasa kami kuliah. Kami juga mendapati video yang serupa tapi tak sama, dimana seorang LONTE bernyanyi dengan menggunakan Bahasa Minang namun gayanya dalam video klip justeru seperti lonte-lonte di filem panas murahan.

Kami tak tahu hendak berkata apa, kami yang menonton saja sudah malu. Beberapa kali mencoba menyurukkan kepala namun suara dari para lonte ini tetap saja mengganggu kami. Sungguh terkutuklah sopir bus dan betapa jahanamnya para Lonte beserta produser mereka.

Sepert iInikah Minangkabau sekarang duhai engku dan encik? Inikah yang kita bangga-banggakan? Tak malukah kita dibuatnya? Mana dia Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah itu..?

Kami para penumpang bus tak berdaya, padahal terdapat orang-orang dari berbagai latar belakang umur. Tak babanak[2] sopir bus itu agaknya, sungguh rendah seleranya, dan tak ada malunya.

Patutlah kiranya beberapa kelompok masyarakat di Bandar yang sedang kami tuju tak begitu peduli dengan kehadiran salah satu Kapitalis Kafir yang memboncengi misi pengkafiran dalam investasi mereka di Bandar tersebut. Penduduk Bandar tersebut telah jauh tenggelam dalam kejahiliyahan. Beberapa titik di Bandar tersebut telah menjadi pusat maksiat. Dimana para pemimpin di badar tersebut menyadari namun tak hendak berbuat apa-apa.

Engku dan encik sekalian, akankah kita biarkan saja hal ini di Minangkabau ini?

O.. jangan pula engku dan encik bercakap perihal kebebasan. Kalau memang demikian, maka kamipun dapat pula menjawab “Kamipun bebas untuk menjalankan hokum Agama dan Adat kami..!”


[1] Bahasa Minangkabau; rindu, kangen

[2] Bahasa Minangkabau; berotak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s