Si Pandirkah Awak Ini?

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Pernah kami dengar sebuah kisah perihal sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Namun salah seorang dari mereka taklah setia, sering berpaling dan berbuat curang dengan orang lain. Walaupun begitu, si pengkhianat ini sangatlah lihainya. Pandai merayu dan berpura-pura di hadapan kekasihnya. Setiap melakukan kesalahan dia berhasil menyembunyikan dengan baik, kalaupun ketahuan maka dengan segala kemampuan bujuk rayu yang dikuasainya dia berhasil membohongi kekasihnya.

Kekasihnya inipun tak kalah pandirnya, percaya begitu saja dengan pembelaan si pengkhianat ini. Mendapat rayuan suara merdu, sikap manja yang diperlihatkan, kebaikan yang ditebarkan membuat dia tak berdaya. Percaya begitu saja dan tak lagi mengungkit pengkhianatan sang kekasih.

Banyak orang kata kalau dia pandir bin bengak bin bahlul. Tapi dia tak peduli..

Begitulah yang terjadi, dia selalu percaya dan mudah diperdaya oleh kekasihnya yang culas. Mungkin saja itu kisah engku, rangkayo, atau encik sekalian. Siapa tahu, kita sangatlah lemah dihadapan orang yang kita cintai..

Namun ada kisah yang lebih pandir lagi yang pada saat sekarang menjadi tontonan yang menyesakkan di negeri kita. Tak perlu kami sebutkanpun engku dan encik sudah tahu, mungkin menjadi bagian di dalam kisah tersebut.

Dahulu mencaci mereka sebagai bedebah – bangsat penipu rakyat

Menjadi gunjingan dimanapun engku dan encik sempat

Berjanji takkan lagi percaya kepada para keparat

Namun apa hendak dikata

Engku dan encik sangatlah mudah lupa

Atau sengaja untuk lupa

Dari cerdik menjadi pandir tak disangka

Mudah termakan janji buta

Walau tahu akan dilupa

Oleh mereka yang takkan pernah suka

Kepada engku-encik rakyat jelata

Jangan pula engku dan encik meminta-minta

Akan janji yang pernah engku dan encik suka

Sebab kita semua tahu itulah hanya penghias rupa

Atas nama keluarga, kampung, dan bahkan negeri engku dan encik membela mereka

Padahal kita semua tahu mereka takkan pernah suka

Yang mereka suka hanyalah menikmati dunia saja

Untuk diri, keluarga, kerabat, kelompok, dan kepentingan saja

Kekuatan terbesar ada pada rakyat duhai engku dan encik sekalian. Apabila engku dan encik masih memilih salah seorang dari mereka maka itu sama saja membuka peluang untuk kembali berbuat durjana. Namun apabila tidak – apabila angka Golput mencapai di atas 50% – maka mereka akan kehilangan kekuatan mereka. Sistem (demokrasi) yang selama ini dibanggakan akan roboh. Sebab kita tahu, sistem serupa (demokrasi) itu justeru semakin memperbanyak perilaku korupsi di negeri kita ini.

Pada saat sekarang ini mereka sedang cemas bukan kepalang. Tengok saja iklan-iklan mereka “Jangan Golput”. Mereka berselimutkan kata-kata manis dengan dalih “demokrasi”. Padahal sesungguhnya hati mereka sedang kecut bukan kepalang.

“Banyak golput, tak jadi awak menjabat..”

Bagaimana engku dan encik sekalian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s