tak faham maka tak berubah..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Kisah seputar Pemilu 2014 memanglah tak habis untuk diceritakan, banyak perkara yang menjadi kenangan. Apakah itu baik ataupun buruk, tentunya kembali ke hadapan kita masing-masing. Sebab pada masa sekarang, batas antara baik dan buruk sudah tak jelas. Masing-masing orang memiliki pandangan sendiri-sendiri yang diyakini  – dipaksakan – kebenarannya..

Adalah salah seorang kawan kami simpatisan Partai Putih (Golput) yang merasa geram dengan salah seorang kawannya di kantor. Namun apalah daya bahwa dia hanyalah seorang anak buah sedangkan kawannya ini merupakan induk semangnya. Sedari awal kawan kami ini sudah ditanya perihal pilihannya di dalam pemilu, kemudian dijawabnya “Tampaknya, berat hati saya ke golput..”

Induk semangnya ini pun mencela “Picik itu namanya fikiran engku, bagaimana engku dapat beranggapan bahwa tak ada seorang calonpun yang patut untuk dipilih pada pemilu nanti!! Sama agaknya dengan penjadi pegawai (PNS) ini, bukankah kita ini dapat dikatakan sama dengan para caleg tersebut. Orang-orang beranggapan kita ini pemalas dan korup, menghabiskan uang negara saja.!”

Kawan kamipun tersenyum, dia maklum bahwa induk semanya ini ialah jenis “pejabat” pada umumnya. Beranggapan lebih pintar dari anak buah, lebih benar pendapat serta pandangannya, lebih berkuasa, serta dapat mengendalikan anak buah serta memaksakan kehendaknya. Lagipula, penyebab begitu kesalnya dia dengan orang yang golput rupanya berkaitan sendiri dengan diri pribadinya. Dimana salah seorang mamaknya, rupanya ikut mencalonkan diri sebagai caleg pada salah satu partai politik.

Payah kawan kami ini mengendalikan diri karena mendapat serangan terhadap pribadi dari induk semangnya ini. Akhirnya dia menjawab “Mungkin menurut pandangan engku saya salah dan engkulah benar. Namun pandangan sebaliknya juga berlaku pada saya. Kita melihat dari sudut pandang yang berlainan dan juga kepentingan yang berbeda pula..”

Walau demikian, Si Induk Semang tampaknya berkepala batu, dia merasa berkuasa sekali di kantor “Itu salah, karena orang-orang seperti engku inilah yang menyebabkan negara ini semakin terpuruk..”

Kawan kami diam sambil tersenyum. Iba hatinya mendengar pemikiran dari salah seorang waga negara di republik ini. Karena negara yang katanya mengagung-agungkan kebebasan ini, pada beberapa perkara justeru bersikap radikal dengan mengekang kebebasan sebagian golongan. Kawan kami inipun insyaf, bahwa keadaan ini memang diciptakan sedemikian rupa dimana kita tidak diberi banyak pilihan melainkan dengan pilihan yang telah disediakan. Dimana diantara pilihan-pilihan tersebut sama-sama berujung kepada kemalapetakaan.

Mengutip status salah seorang wartawan gaek pada salah satu media sosial di republik ini;

Malangnya nasib bangsa ini. Caleg yang rajiin, bersih, & berkualitas, dengan mudah dikalahkan oleh caleg yang royal “menyiramkan” uangnya ke segala penjuru..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Itulah keadaan sebenarnya yang didapati kawan kami dan serta sebagian besar rakyat di republik ini. Ada yang memutuskan untuk golput dan ada pula yang memutuskan untuk memilih karena berbagai alasan. Salah satunya ialah seperti induk semang kawan kami yang memutuskan memilih karena ada keluarganya yang menjadi caleg. Bahkan untuk itu, dia sengaja mengurus kepindahannya untuk memilih agar menambah suara pada kerabatnya tersebut.

Namun para penganjur untuk memilihpun sebenarnya semenjak jauh-jauh hari telah menjalankan berbagai cara untuk “memaksa” orang-orang untuk menggunakan hak pilihnya. Berikut ialah salah satu bentuknya (seperti yang kami kutip pada salah satu staus pada salah satu grup di salaha satu media sosial):

“Jika anda tdk mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah & anggota DPR, atau parpol Islam. Itu hak anda. Tapi ingat jika anda & jutaan yg lain tidak ikut pemilu maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan. (Ali bin Abi ThaliB-) Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. TAPI karena DIAMNYA ORANG BAIK”

Dengan menggunakan dalil pendapat salah seorang sahabat yang juga menantu nabi. Namun kami sayangkan pengambilan pendapat ini karena, pendapat dari Sayyidina Ali ini dapat kita pandang dari berbagai sisi. Misalnya dalam menegur seseorang yang berbuat salah dalam kehidupan keseharian, jangan takut menegur seseorang apabila berbuat salah sebab dengan mendiamkannya maka kekufuran yang diperbuatnya akan semakin menjadi-jadi atau ditiru oleh orang lain.

Atau, adapula yang menggunakan dalil dalam Al Qur’an berikut:

“Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”.
(QS: Al-Hijr Ayat: 56)

Orang yang menggunakan ayat Al Qur’an ini dengan beraninya mengatakan bahwa orang-orang yang golput itu ialah orang-orang yang tak memiliki harapan. Serta dengan serta merta menuduh bahwa orang yang golput itu ialah orang yang sesat. Sungguh sedih hati kami memandangi ini semua.

Hanya demi ambisi politik, maka segala perilaku janggal dan sumbang sepanjang adat kita menjadi biasa untuk dikerjakan. Padahal banyak alasan dari orang-orang yang memutuskan untuk golput ini. Misalnya sejauh yang kami ketahui:

  1. Banyak yang terlibat korupsi, penyalah-gunaan kekuasaan, dan lain sebagainya.
  2. Lebih memetingkan kepentingan pribadi, partai, dan pemilik modal (pengusaha, investor, dll).
  3. Sudah makan hati melihat perangai mereka. Tipu muslihat dalam gedung dewan atas dasar kepentingan politik semata.
  4. Perilaku yang tidak patut seperti kabar-kabar (isu) mengenai perselingkuhan dan perzinahan. Seperti kasus sekretaris seksi anggota dewan dan kondom yang berserakan di toilet gedung dewan.
  5. Akhlak yang tak Islami menjadi syarat utama bagi pemilih Muslim Konservatif. Terkadang suka dengan orangnya namun tidak suka dengan partai atau sebaliknya, suka dengan partai namun tak suka dengan orangnya. Akhirnya diputuskan untuk golput.
  6. Tidak diusungnya lagi Syari’at Islam juga menjadi penyebab kekecewaan beberapa pemilih pada partai Islam. Terutama partai Islam yang dahulunya mengaku sebagai Partai Dakwah.
  7. Kebanyakan anggota dewan tak bertanggung jawab. Yang kami maksudkan disini ialah anggota dewan tak pernah menyilau daerah pemilihannya kecuali kampung tempat asalnya. Masyarakat yang ada pada daerah pemilihannya hanya mengatahui gambarnya saja, itupun sekali lima tahun. Padahal sebagai “wakil rakyat” sudah menjadi kewajibannya untuk menyilau rakyat yang ada di daerah pemilihannya. Menyilau, menanyai apa kebutuhan mereka serta mencukupi kebutuhan tersebut.
  8. Dan masih banyak lagi..

Para politisi atau orang-orang yang dekat dengan politis tak pernah menyadari bahwa tak ada asap kalau tak ada api. Keputusan untuk golput itu sendiri merupakan “akibat” bukan sebab. Akibat dari perilaku yang mereka tunjukan selama ini. Kalau di beberapa negara yang menganut sistem demokrasi, apabila seorang calon ketahuan melakukan hal-hal tak terpuji maka ia takkan dipilih lagi oleh pemilihnya pada pemilu berikutnya. Namun berlainan dengan republik ini..

Kami tak ingin mengatakan kalau sistem demokrasi sudah gagal di republik ini (walau kami memang berangapan demikian). Namun alangkah baiknya harus ada Standar Nasional (berbagai produk industri saja punya SNI) bagi para politisi ini. Bagi mereka yang tak memenuhi standar maka mereka tak dapat lagi mengajukan diri pada pemilihan.

Namun pada masa sekarang, seorang yang jelas-jelas bermental buruk yakni dengan tanpa malunya membagi-bagikan uang kepada para calon pemilihnya masih tidak mendapat tindakan tegas. Bukankah mereka sudah melanggar banyak peraturan? Belum lagi dengan goyangan penyanyi dangdut yang mengumbar aurat dalam setiap kampanye. Serta lain sebagainya..

Semoga menjadi bahan pemikiran bagi kita bersama…

2 thoughts on “tak faham maka tak berubah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s