Bersatu jualah hendaknya..

Dusta pabila kami katakan bahwa kami sama sekali tak tertarik dengan kehidupan politik di republik ini. Sebab keadaan sebenarnya ialah kami harap-harap cemas perihal nasib umat Islam di republik ini lima tahun ke depannya. Perkongsian (koalisi) antara partai-partai Islam dan bermasa kan umat Islam belumlah jelas jua. Harapan kami ialah sama dengan kebanyakan umat muslim di republik ini, bersatu jualah dalam pemilihan presiden mendatang.

Begitu pula agaknya yang dirasakan Si Amin, Syahrial, dan Mahmudin ini. Ketiga orang ini rupanya sedang memperbincangkan perkara batalnya salah satu partai Islam dalam berkongsi dan mengusung salah satu calon presiden. Hal ini dikarenakan terjadi kekisruhan dalam partai Islam tersebut.

Si Amin berujar “Saya terkejut sekali dengan dukungan yang diberikan partai tersebut engku, kenapa begitu tergesa-gesa dan kenapa tidak pula seiya-sekata dengan partai Islam lainnya..?”

“Benar engku, alangkah lebih baik apabila partai-partai Islam itu berkongsi dahulu sesamanya dan kemudian menjalin kongsi baru dengan partai sekuler. Bukan antara satu partai Islam dengan partai sekuler. Sebab dengan begitu tampak oleh orang partai-partai Islam ini terpecah, tak jadi berkongsi membentuk Poros Tengah (Poros Indonesia Raya, atau apapun itu namanya)..” sambung si Mahmudin.

Syahrial mengangguk-angguk kecil sambil mengelus-elus janggutnya yang tak beberapa helai “Ah.. engku berdua macam tak faham saja perangai para politisi tersebut. Sudah jelas nasib umat Islam di republik ini berada dalam ancaman lima tahun ke depan. Namun mereka-mereka itu masih saja memikirkan bagaimana menapatkan kekuasaan..”

Mahmudin tersenyum saja mendengarnya, kawannya yang seorang ini memanglah sudah sangat geramnya melihat perangai para politik. Makanya jawaban yang didapat ialah jawaban ketus mencemooh.

“Mungkin ada sesuatu yang tak kita ketahui perihal dunia politik saat ini engku. Yang tampak dan kita dengar dari media tak pula dapat kita pegang sebagai sebuah kebenaran. Namun harapan kita hendaknya partai-partai Islam ini bersatulah dahulu dan baru kemudian memutuskan untuk berkongsi dengan siapa. Jangan berkongsi sendiri-sendiri dengan partai sekuler itu. Diperdaya kita nantinya engku..” terang Mahmudin.

Syahrial tersenyum kecil “Memang begitulah hendaknya engku, seperti para petani dalam menghadapi para toke. Hendaknya mereka bersatu dalam menjual hasil pertanian mereka agar harga dapat mereka yang menentukan. Kalau berjalan sendiri-sendiri, maka toke laknat itulah yang mempermainkan kita. Harga sesuka hatinya menetapkan, dikala mahal dibelinya murah kepada kita.. ckckckck…”

“Seperti kata pepatah orang tua-tua dahulu, bersatu kita teguh-bercerai kita rubuh..” kata Syahrial singkat.

Mereka bertiga masih saja terus mempercakapkan perkara politik yang memeningkan kepala di republik ini. Satu agaknya harapan mereka, hendaknya segala partai-partai Islam di republik ini bersatu jualah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s