Kejadian di atas bus Trans Padang

Ilustrasi Gamabr; Internet

Ilustrasi Gamabr; Internet

“Betapa telah hilang raso[1] orang sekarang ya engku..?” seru sebuah suara di sebelah kami.

Suara itu kepunyaan seorang engku-engku yang umurnya kira-kira telah lebih agaknya dari lima puluh tahun. Ketika itu kami sedang duduk-duduk pada sebuah pemberhentian (halte) bus Trans Padang. Engku ini merupakan penumpang yang sama dengan kami, sama-sama berhenti pada pemberhentian bus yang sama pula. Kami berjanji temu dengan isteri kami sedangkan si engku menanti anaknya yang hendak menjemput.

Kami tersenyum mendengar seruan dari engku tersebut “Maksud engku dengan perkara apakah gerangan..?” Tanya kami memastikan.

Si engkupun menjawab dengan bersemangat “Engku Muda sendiri tengok tadi semasa kita di atas bus, betapa terdapat beberapa orang tua, perempuan beranak, dan sedang hamil ikut pula naik. Namun tengoklah kelakuan penumpang yang lain, dimana kebanyakan dari mereka ialah masih muda belia dan masih kuat. Tak seorangpun yang hendak mengalah memberikan tempat duduknya kepada orang-orang yang membutuhkan tersebut, pada hal sudah jelas-jelas ditulis di kaca bus perihal peruntukkan tempat duduk tersebut. Hanya engku muda inilah yang mau mengalah, memberikan tempat duduk engku kepada saya..”

Kamipun tersenyum mendengar penjelasan dari si engku tersebut. Memanglah kami pernah pula mendengar kisah yang serupa tapi tak sama dari salah seorang kawan kami “Orang zaman sekarang memang telah kurang raso-nya kalau tak dapat kita katakan telah habis. Tengoklah kejadian di atas bus itu, sudah jelas-jelas ada seorang perempuan yang sedang hamil tua, tak jua hendak mengalah. Mereka berdalih “sayapun membayar naik bus ini..!!” sungguh entah apa gerangan yang tengah berlangsung di Minangkabau pada masa sekarang ini..”

“Memanglah demikian keadaan sekarang engku, tengoklah tadi semasa kita di atas bus, betapa banyak anak sekolah yang tanpa rasa malu dan segan duduk dengan nikmat sambil main handphone atau bercengkrama dengan kawan sebaya. Sedangkan di hadapannya seorang perempuan tua sedang menahan penat berdiri tegak di atas bus…” jawab kami.

“Kita yang salah engku, para orang tua, anak-anak zaman sekarang tiada lagi bermamak. Kalau ada mamak yang mengajari maka akan marahlah ibu-bapanya. Begitu juga dengan keadaan mereka di sekolah, tiada diajar lagi perihal budi pekerti serta adat apabila berhadapan dengan orang lain. Berlainan dengan zaman dahulu engku..” lanjut kami.

“Benarlah apa kata engku muda ini agaknya. Bagaimana kan tahu dengan sopan-santun orangtuanya saja tak pandai mendidik anak. Bagaimanakan tahu dengan adat, gurunya saja pada masa sekarang banyak pula yang tak beradat. Sungguh geram hati orang tua ini melihatnya engku muda..” kesah si engku.

Kami hanya terdiam mendengarnya, benarlah agaknya, entah apa yang tengah berlaku di Alam Minangkabau ini. Akankah Minangkabau ini hanya akan tinggal nama saja?

 

[1] Rasa, yang dimaksudkan disini ialah sensitivitas terhadap lingkungan dan orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s