Lawan sebenar yg dihadapi

Menyikapi perkembangan ranah politik akhir-akhir ini, banyak orang yang masih berakal bertanya-tanya dalam hati “Akan seperti apakah negeri ini kemudian harinya kelak..?”

Para pemuka politik di negeri ini tiada lagi berakal, kalau selama ini para pencaci kebanyakan berasal dari masyarakat kebanyakan yang mudah menerima segala kabar yang disampaikan begitu saja kepada mereka. Maka banyak orang geleng-geleng kepala tatkala orang-orang yang selama ini dianggap sebagai tokoh di negeri ini juga ikut terlibat dalam kegiatan caci-mencaci.

“Sesungguhnya kami kasihan dengan salah seorang calon engku..” kata seorang kawan

‘Kenapa demikian engku..?” tanya kami

“Karena semua orang sudah tahu mengenai kemampuan dirinya dalam perkara memimpin namun masih jua dipaksakan untuk maju. Entah atas keinginan dirinya atau dipaksakan oleh orang atau suatu kelompok yang menginginkan dia sebagai alat untuk memerintah di negeri ini..” jelas si engku.

Kami terdiam, memang benar demikian dalam pandangan kami. Sebab apabila dilihat dari segi manapun dia bukanlah pemimpin yang cocok untuk republik ini, tidak hanya republik ini, memimpin sebuah daerahpun dia belumlah pantas. Kata seorang kawan “Bahkan apabila dia maju sebagai calon pemimpin pada sebuah kampungpun tiada pantas..”

Namun dia memiliki banyak pendukung fanatik, termasuk para tokoh yang mencaci lawan berlaganya di pemilu mendatang. Namun kami ragu, apakah benar mereka mendukung dirinya atau kelompok para pencaci ini ialah golongan tertentu yang menghendaki golongan merekalah yang mengendalikan pemerintahan melalui si calon ini?

Salah seorang kawan beranggapan “Kalau kami perhatikan betul-betul, para pendukung dia ini terbagi atas beberapa kalangan. Kalangan awam yang mengagumi dirinya sesuai dengan kabar dusta yang diberitakan perihal kehebatannya dalam memimpin, kelompok ini ialah para pendukung fanatik. Ada juga kelompok terdidik dengan aliran ideologi tertentu yang tahu dan sadar perihal kemampuan dirinya yang rendah namun tetap menginginkan dirinyalah yang menang. Dengan alasan bahwa para pemuka dari penyokong ini akan mengonsep arah kebijakan pemerintah dimasa datang. Cara ini lebih aman dan lebih cerdik sebab kata orang bijak; orang yang paling berkuasa ialah orang-orang yang berada di balik layar. Jika bagus maka mereka tiada mendapat pujian melainkan si pemimpin namun jika gagal maka merekapun tiada mendapat hujatan melainkan si pemimpin.

Ilustrasi Gambar; Internet

Ilustrasi Gambar; Internet

Dan ini lebih aman dan cerdik, serupa agaknya dengan yang berlaku di Amerika. Tengoklah, si G.Bush yang diolok-olok oleh rakyat di negerinya. Sedangkan fihak yang mengonsep tetap lenggang kangkung bahkan beralih mencari orang lain untuk dijadikan boneka. Serupa kata pepatah; habis manis sepah dibuang. Kasihan kita sebenarnya kepada calon pemimpin yang satu ini..”

Kami terkejut dengan pemaparan dari engku ini, entah darimana pula dia mendapat gagasan atau keterangan mengenai hal ini. Kalau memang demikian, sungguhlah kasihan sekali dia, diperalat namun sedihnya tampaknya diapun ikut menikmati.

“Kalau memang kasihan, maka janganlah dipilih juga dia..” seru salah seorang kawan sambil tersenyum.

Kamipun tersenyum, walau bagaimanapun dia tetap seorang muslim, terlepas dari kemampuan dan pemahamannya dalam beragama. Mungkin dahulunya dia kurang mendapat pengajaran yang baik perihal bagaimana cara menjadi seorang muslim yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s