Kanak-kanak Dewasa

Sungguh aneh sangat keadaan perpolitikan di negeri ini, setiap hari ada-ada saja kejadian yang membuat kami bersedih hati dibuatnya. Tingkah pola manusia memang tak dapat dimengerti, dapat begitu bencinya, dapat pula begitu sukanya.

Tatkala melihat keadaan pemikiran orang-orang sekarang, terutama di jejaring sosial. Kami terkenang akan sikap kanak-kanak yang sering kami amati. Bedanya ialah apabila kanak-kanak melakukan suatu perbuatan atau ucapan yang salah dapat kita sapa sambil mengajari bahwa perbuatan dan ucapannya itu salah. Namun bagaimana dengan orang yang telah dewasa dalam segi umur namun dalam perbuatan dan ucapan masih serupa kanak-kanak yang tak berakal?

Sebagian besar orang memanglah mudah percaya atas apa yang dilihat dan didengarnya. Tak pandai bertanya dan mencari tahu terlebih dahulu –atau kata orang hebat “berfikir kritis” – melainkan menelan bulat-bulat apa yang diterimanya. Penerimaan mereka atas suatu kabar sebagian besar berdasarkan kepada kecenderungan pribadi. Apabila dia orang yang tak mau tahu dengan agama, menyepelakan agama, dan tak suka hidup dalam aturan agama maka mereka akan memakan bulat-bulat segala kabar yang menyudutkan agama. Atau menyukai fihak ataupun orang yang sama pandangannya dengan dirinya.

Demikian pula sebaliknya, apabila orang tersebut merupakan seorang yang hidup dengan agama maka akan bersikap sebaliknya. Akibatnya pada saat sekarang di republik ini tengah berlangsung peperangan antara Demon versus Angel.

Namun yang membuat kami sedih lagi ialah bahwa keadaan orang yang dibela dan diagung-agungkan agaknya tak pula seperti yang dibayangkan oleh para pemuja mereka. Perihal keadaan diri mereka masihlah simpang-siur, difihak kawan akan tampak yang baik-baik namun keadaan berlainan berlaku di fihak lawan yakni yang buruk-buruk saja yang tampak.

Benarlah kata orang bijak “Apabila hendak mengetahui perihal keburukan seseorang maka tanyalah lawannya. Namun apabila hendak tahu mengenai kebaikannya maka tanyailah kawannya..

Bagi kami kedua orang ini sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, namun tentulah kita cari jua yang kekurangannya paling sedikit atau lebih sedikit dari yang lainnya. Serta mana diantara mereka yang lebih dekat kepada kita (ISLAM). Fikiran kamipun sangatlah gundah-gulana dibuatnya karena pada diri kedua orang ini amatlah sedikit perihal kehidupan beragama mereka yang dapat diambil. Hanya kepercayaan kepada para ulama dan saudara seiman saja yang kami pertahankan.

Semoga saja, sesiapapun yang menjadi pemimpin di republik ini dapat menjaga Islam dan agama-agama lainnya hidup berdampingan dengan damai di republik ini. Tidak ada satupun agama yang dizalimi, tidak ada satu orang pengikut suatu agamapun yang ditangkapi dengan dalih tindakan radikal, fanatik, militan, ataupun teroris.

Fanatik beragama tidak boleh, tetapi fanatik terhadap sepak bola dan fanatik terhadap tokoh boleh..

Sudah saatnya standar ganda serupa itu dihapuskan dari kehidupan bernegara di republik ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s