MAS di Ranah Minang

Seiring dengan berjalannya perputaran zaman maka banyak pula perubahan yang terjadi dalam kehidupan ini. Terkadang ke arah kebaikan namun lebih banyak ke arah kemunduran. Jati diri sebagai sebuah bangsa mulai memudar, apabila ditolak maka akan dituduh sebagai seorang yang kolot, konservatif, anti-kemajuan. Yang lebih keji tuduhan chauvinis ataupun fasis.[1]

Beberapa tahun yang silam pernah kami membaca sebuah tulisan pada salah satu blog. Engku penulis berasal dari Minangkabau, namun tampaknya ia tinggal dan menetap di rantau. Pada blognya si engku mengisahkan pengalamannya tatkala pulang kampung dimana ketika dia mengunjungi sebuah bank pada salah satu kota di Sumatera Barat, si petugas bank menyapanya dengan sebutan “mas’ yang merupakan sebutan khas untuk orang Jawa yang setara dengan “uda” ataupun “abang”.

Dalam tulisannya tersebut si engku menyesalkan kejadian serupa itu. Kenapa di daerah berkebudayaan non-Jawa dia mengalami kejadian yang demikian? Padahal si petugas bank merupakan orang Minangkabau. Kalaupun bukan orang Minangkabau, bukankah sebaiknya dia menghormati adat istiadat setempat seperti kata pepatah “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.

Tulisan dari si engku mendapat banyak cercaan, dan si engkupun menanggapi dengan santai “panggil saya dengan sebutan uda, abang, kakak, atau apapun itu asalkan bukan mas..!” katanya.

Kejadian serupapun kami alami tatkala kami mengunjungi salah satu jaringan toko buku terkenal di Indonesia dan ada pula di Bandar Padang. Tatkala kami berbelanja di toko buku tersebut, si pelayan toko menyapa kami dengan panggilan “mas’. Semula kami kira encik ini ialah orang Jawa namun sambil menyelesaikan pesanan kami si pelayan toko tersebut malah menyapa dan bercakap-cekap dengan kawannya sesama pelayan toko dengan menggunakan Bahasa Minangkabau. Dan bahasa Minangkabau encik-encik pelayan toko inipun terdengar fasih, khas bahasa orang Padang.

Betapa sedih hati kami mendapati perkara yang demikian, apakah ini kebijakan dari jaringan toko buku tersebut? Ataukah ini merupakan keputusan dari engku dan encik ini saja untuk menggunakan sapaan ‘mas” dan “mbak” di tempat kerja mereka ini?

Dahulu dimasa inyiak-nyiak kita dikenal panggilan tuan dan kakak bagi orang yang lebih tua kemudian dimasa kemudian dikenal panggilan uda dan uni. Dan sekarang kembali berubah menjadi mas dan mbak. Tentunya bagi sebagian engku dan encik tiada masalah, namun bagi yang mengetahui dan memahami sejarah tentulah tak setuju. Karena panggilan terakhir bukanlah berasal dari budaya kita orang Minangkabau.

Entahlah engku dan encik sekalian, kami tiada faham. Sungguh malang nasib Minangkabau ini dikemudian hari kelak. Bahasanya mulai memudar, adatnyapun ikut menghilang, dan yang terburuk agama orang Minangkabaupun ikut pula terancam untuk diubah, Na’uzubillah.. Sangatlah susah mencari orang Minangkabau di Alam Minangkabau ini pada masa sekarang duhai engku dan encik sekalian.

[1] Chauvinis merupakan faham yang terlalu mengagung-agungkan daerah (lokalitas). Sedangkan fasis ialah faham yang meagung-agungkan bangsa dan menganggap rendah bangsa lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s