G30S/PKI: Kudeta atau Penyelamatan Negara

Ilustrasi Gambar; Internet

Ilustrasi Gambar; Internet

Semenjak berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto pada tahun 1998 maka berakhir pulalah pemutar filem G30S/PKI di TVRI. Sebuah filem yang sebelumnya merupakan filem yang wajib diputar di stasiun televisi pemerintah dan kemudian disebarkan oleh setiap stasiun televisi yang ada di Indonesia ketika itu. Namun selepas kejatuhan Orde Baru (Orba) yang dipimpin oleh Presiden Soeharto ketika itu maka berhenti pulalah penayangan filem tersebut. Banyak fihak yang menyayangkan namun kekuatan yang menghendaki penghentian penayang filem tersebut.

Apalagi semenjak Presiden Gus Dur mengeluarkan usulan pencabutan TAP MPRS XXV 1966, yang isinya tentang pelarangan ideologi komunis,marsisme tidak hanya Komunis, melainkan berbagai faham-faham lain yang merusak tatanan kehidupan baik itu bernegara, beragama, dan sosial mulai berani menampakkan dirinya. Penggunaan huruf Cina yang semula dilarang menjadi dibolehkan, banyak orang Cina yang merasa bangga dengan huruf mereka mulai memamerkan huruf yang telah digunakan berabad-abad oleh nenek moyang mereka di Daratan Cina.

Semenjak berakhirnya kekuasaan Orba, banyak orang yang mulai menggugat keabsahan tindakan yang dilakukan oleh Mayjen Soeharto dimasa tahun 1965. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kudeta terselubung yang dilakukan Soeharto dengan bantuan CIA. Ada pula yang bersorak-sorak bahwa telah terjadi pelanggaran HAM yakni pembantaian massal terhadap orang-orang yang diduga Komunis pada waktu itu. Dengan mengabaikan fakta dan data sejarah perihal Kebiadaban Komunis pada masa sebelumnya di negara ini.[1]

Sebelum jatuhnya Soekarno dengan Orde Lamanya, Ideologi Komunis dengan Partai Komunisnya (PKI)[2] bersama-sama dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang dipimpin langsung oleh Presiden Soekarno merupakan partai penguasa. Kedua partai tersebut merupakan dua sejoli yang tak dapat terpisahkan yang mendukung Pemerintahan Diktator Soekarno. PRRI lahir merupakan akibat dari kemesraan hubungan Soekarno dengan PKI di pusat yang bertentangan dengan semangat daerah. Sesungguhnya PKI dan PNI hanya kuat di Pulau Jawa kecuali Jawa Barat serta beberapa daerah lainnya di Indonesia. Namun karena berada di pusat kekuasaan menyebabkan mereka mudah menjadi penguasa.

Telah banyak fihak yang dirugikan atas kepemimpinan Soekarno, kecuali para pendukung fanatik mereka yang membabi buta. Namun Soekarno, Sang Diktator menafikan hal tersebut. Ketika itu, Soekarno merupakan sosok tunggal yang Merajakan dirinya di Republik Baru ini. Soekarno sesungguhnya bukanlah pendukung demokrasi karena menjalankan pemerintahan secara diktator (bahkan mengangkat dirinya sebagai Presiden Seumur Hidup), dan bukan pula pendukung HAM, kebebasan, keberagaman (pluralisme), dan berbagai ideologi agung lainnya karena dia sama sekali tidak mengindahkan dan menghormati suara-suara yang berbeda dengan dirinya. Bahkan orang-orang yang berbeda dengan dirinya diawasi dan dipenjarakan.[3]

Kemudian pecahlah G30S/PKI – terlepas dari perdebatan kudeta atau tidak – tindakan yang diambil oleh Mayjen Soeharto dan MPRS yang mengeluarkan TAP pembubaran PKI dan pelarangan Komunis dan Marxisme merupakan tindakan yang tepat. Karena kalau tidak, keutuhan NKRI berada dalam taruhan yang dapat berakibat kepada konflik yang tak berkesudahan atau mungkin perpecahan pada negara baru ini. Walau demikian bukan berarti kita menyetujui langkah yang diambil oleh Presiden Soeharto selanjutnya. Dimana dimasa Soekarno terlalu Ekstreem ke Timur maka dimasa Soeharto terlalu Ekstreem ke Barat.

Usaha yang dilakukan oleh Soeharto pada awalnya ialah menyelamatkan negara dan menjaga keutuhan negara ini – dengan tidak menutup mata atas kebijakan yang anti Islam dan Pro Barat dari rezim Orba selepas itu – dimana Komunis hampir saja mencabik-cabik negara ini.

Komunis ialah ancaman nyata bagi republik ini, semenjak sebelum kelahiran dari republik ini ideologi tersebut telah menorehkan luka, kekejian, kekejaman, dan kesengsaraan bagi rakyat di republik ini hingga tahun 1965. Dengan dalih apapun ideologi tersebut tidak dapat diterima di negara ini, karena walaupun Soviet sudah runtuh serta beberapa negara Komunis seperti Cina dan Vietnam telah menjadi negara Liberal bukan berarti ideologi ini tidak lagi menjadi ancaman.

Sebuah IDE akan selalu hidup dan diwarisi dari generasi ke generasi dan hal tersebutlah yang patut diawasi. Mereka tiada pernah mati, akan selalu hidup, dan menanti kesempatan untuk berkembang kembali. Membalaskan Dendam mereka yang telah mengendap selama berpuluh-puluh tahun di negara ini.

G30S/ PKI bukanlah omong kosong belaka, bukan pula cerita dongeng, melainkan kenyataan pedih yang mestinya dijadikan pelajaran oleh sekalian Rakyat di Republik ini.

[1] Ideologi Komunis semenjak hadirnya di republik ini telah melakukan banyak tindakan anarkis, radikal, dan makar baik itu terhadap pemerintahan yang sah maupun terhadap rakyat Indonesia sendiri. Semenjak sebelum masa kemerdekaan Ideologi ini telah mulai melakukan berbagai tindakan keji terhadap rakyat Indonesia namun hal tersebut tidak menjadi pokok perhatian pada masa selepas Reformasi.

[2] Ketika itu dipimpin oleh Dipa Nusantara (D.N) Aidit.

[3] Bung Syahrir dan Buya Hamka merupakan dua orang dari beberapa orang korban Kediktatoran Soekarno, mereka berdua dipenjarakan. Adapun dengan Bung Hatta diawasi (dimata-matai)oleh pemerintahan Soekarno.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s