Novel Khadijah

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Awalnya kami merasa heran dengan sebuah buku yang berjudul “Khadijah; Ketika Rahasia Mim Terungkap”. Ditulis oleh Sibil Erslan seorang penulis asal Negeri Turki, semula kami sangka beliau ini berasal dari Iran karena namanya yang aneh. Dengan penasaran kami baca sebuah novel sejarah yang mengisahkan perjalan hidup dari Siti Khadijah, isteri pertama dari nabi kita Muhammad SAW.

Memanglah kami telah lama memendam pertanyaan perihal kehidupan Siti Khadijah, kami hanya mengetahui kehidupan beliau semasa menjadi isteri nabi kita. Pernah dahulu semasa masih bersekolah kami bertanya pada seorang kawan “Siti Khadijah ini jandakan? Siapakah nama suami beliau sebelum nabi Muhammad dan siapa pula nama anak-anak beliau dari suaminya tersebut?”

Kawan kami tiada dapat menjawab, gelengan kepala dan raut muka tak tahu ialah jawaban yang pasti ketika itu. Bertahun-tahun pertanyaan tersebut tak terjawab sampai kamipun melupakan pertanyaan tersebut. Sampai akhirnya kami temukan novel ini “Semoga dalam novel ini segala tanya yang tiada pernah bersua jawapannya dapat terpenuhi..” ujar kami dalam hati.

Dan memanglah demikian, Alhamdulillah, kami menemukan jawapan dari pertanyaan kami tersebut. Rupanya Nabi Muhammad merupakan suami ketika dari Siti Khadijah, suami pertama beliau bernama Abu Hala bin Zurara yang merupakan seorang bangsawan Mekah yang terkenal berakhlak mulia. Siti Khadijah menikah ketika masih berumur belasan tahun, sesuai dengan keadaan ketika itu. Dari perkawinan ini mereka dikarunia dua orang anak lelaki yang bernama Hala dan Hindun. Namun sayang pernikahan ini tidak berumur lama karena Abu Hala dipanggil oleh Yang Kuasa.

Suami kedua Siti Khadijah ialah seorang bangsawan Mekah lainnya yang bernama Atik bin Aziz dari pernikahan yang hanya berumur kurang lebih dua tahun ini, Siti Khadijah dikarunia seorang puteri yang bernama Hindun sama dengan nama abangnya yang nomor dua. Namun pernikahan ini ialah ujian bagi Siti Khadijah karena suami yang diharapkan akan menjadi pemimpin dan pelindung dirinya dan kedua anaknya justeru menjadi sumber kenestapaan. Aziz bin Atik merupakan jenis lelaki Mekah Metropolitan, menyukai gaya hidup mewah, mabuk-mabukan sudah menjadi bagian dalam hari-harinya.

Demikianlah, terjawab sudah segala tanya kami, berlebih malah. Adapun salah satu lebihnya ialah kami mendapat gambaran perihal keadaan diri nabi kita. Hal ini digambarkan melalui percakapan antara Hasan bin Ali dengan pamannya[1] Hindun bin Abu Halah.

Begini kira-kira penjelasan Hindun bin Abu Halah kepada kamanakannya Hasan bin Ali;

Wajahnya rupawan dengan rambut yang panjang. Ketika rambutnya memanjang[2] rasulullah merapikannya ke balik telinga. Namun beliau sering merapikan rambutnya tak melebihi telinga bagian bawah. Kulitnya bersih dan bercahaya, dahinya lebar dan bersinar, badannya berotot. Dibagian ototnya terlihat urat-urat nadi, hidungnya indah. Beliau memiliki keindahan yang sempurna dan bercahaya. Jenggotnya jarang dan pipinya putih bersinar.

Rasulullah memiliki badan yang tegap dan gagah, dadanya lebar, perut beliau setara dengan dadanya. Bahunya lurus dan lebar, tulang-tulang kuat, kakinya tegap, langkahnya selalu harmonis dan gagah. Beliau berjalan langkah demi langkah serupa dengan lembaran kertas buku. Ketika berjalan, beliau berjalan seakan-akan berjalan dari langit turun ke bawah.

Beliau membalikkan seluruh badan ketika menghadap ke arah seseorang. Pandangannya lebih sering ke arah tanah dibandingkan ke arah langit. Rasulullah selalu mengucapkan salam lebih dahulu daripada sahabat-sahabatnya ketika mereka bersua.

Rasulullah biasanya terlihat sedih, beliau tampak terbenam dalam fikiran yang dalam, selalu bertafakur. Dirinya selalu terdiam dan bicara seperlunya, ketika berbicara ucapannya selalu pendek dan padat sehingga mudah dimengerti. Tak pernah berbicara tiada arti dan sukar dimengerti. Apabia beliau berbicara tak pernah terbata-bata, ungkapannya fasih.

Rasulullah sering mengadakan jamuan dan memberikan hadiah, tak pernah memburuk-burukkan sebuah pemberian, selalu menjaga amarah serupa menjaga nafsu dan kesenangan duniawi.

Rasulullah selalu berada di sisi yang benar dan mendukung yang haq, ketika menunjuk sesuatu beliau tak pernah menunjuk dengan satu jari melainkan dengan seluruh jari-jarinya. Ketika beliau suka akan sesuatu maka beliau akan segera berbalik dan menjauhinya.

Beliau menutup matanya ketika sedang bergembira, senyumnya adalah tawanya.

Demikianlah kesaksian Hindun bin Abu Halah perihal Ayah tirinya.

[1] Saudara seibu Fatimah

[2] Bertambah panjang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s