Unjung Tombak Kapitalisme

Seorang pemimpin pribumi tengah menyambut datangnya seorang penjajah di negerinya. Gambar: http://home.iae.nl/users/arcengel/NedIndie/atjeh.htm

Seorang pemimpin pribumi tengah menyambut datangnya seorang penjajah di negerinya.
Gambar: http://home.iae.nl/users/arcengel/NedIndie/atjeh.htm

Mendengar perkembangan keadaan pada masa sekarang di ibu negeri propinsi ini, membuat kami terkenang akan bacaan yang pernah kami baca. Berkisah perihal keadaan dimasa kolonial di Hindia Belanda, bagaimana negeri ini dilelang kepada para investor yang datang dari luar. Berikut petikan kisahnya;

Menanggapi risalah De Millionen uit Deli ( Jutaan dari Deli, tertanggal th.1902 beredar 2 tahun selepasnya) dari seorang advocat yang bernama J. van den Brand dimana pada risalah tersebut dia mengisahkan perlakuan kejam perusahaan perkebunan onderdeming terhadap buruh disana. Akhirnya Pemerintahan Kerajaan Belanda mengirim seorang penyidik yang bernama Hakim J.L.T. Rhemrev, namun hasil penyidikan dari hakim tersebut lebih parah dari laporan J. van den Brand. Akhirnya laporan tersebut disembunyikan, tak pernah diumumkan. Menteri Jajahan J.T.Cremer mengatakan bahwa dimasa dia menjadi Administratur Maskapai Deli, hal tersebut tiada pernah berlaku. Katanya, mungkin iklim panas-terik telah mempengaruhi moral orang-orang kulit putih yang ada di sana.

Gampang saja Menteri Cremer mencari alasan, seakan cuaca Sumatera sudah berubah setelah ia meninggalkan pulau itu. Demi tembakau, penguasa-penguasa Pribumi telah mengobral tanah kepada kaum modal onderdeming dan memporak-porandakan Hukum Adat dan tanah warisan turun temurun Pribumi Sumatera Timur. Sudah selama tiga puluh tahun lebih beribu-ribu hektar Tanah Adat di Sumatera Timur diobral menjadi tanah konsensi oleh keserakahan sulthan-sulthan kepada kaum modal perkebunan tembakau dan sekarang juga karet.

Berita-berita mengerikan dalam Sumatera Post tentang kerakusan pengusaha-pengusaha perkebunan Eropa yang tak henti-hentinya mencari tana-tanah subur di Sumatera Timur.

Pramoedya Ananta Toer. Jejak Langkah. Lentera Dipantara. Jakarta (cetakan kesembilan). 2012 (Hal. 240-241)

Betapa terkejut kami membaca kisah yang ditulis salah seorang pujangga yang beraliran kiri tersebut. Kata orang, hanya keledai dungulah yang terperosok ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Dan betapa terpananya kami bahwa betapa kemirian keadaan pada masa kolonial dimana kita masih dijajah oleh Bangsa Kulit Putih dengan keadaan sekarang, padahal kita telah diperintah oleh bangsa sendiri. Memanglah kata orang, penjajahan oleh saudara sebangsa lebih kejam daripada bangsa asing.

Terkenang kami tatkala masih panas-panasnya penolakan terhadap Luppo Grup di Minangkabau ini. Salah seorang pemimpin di provinsi ini dengan tiada malu berujar “Tiada seorang kepala daerahpun yang anti kepada investor..”

Entah kepala kami yang terantuk kepada sesuatu tanpa sepengatahuan kami atau kepala daerah yang dengan gelar akademis yang sangat tinggi itu yang bengak. Bukankah investor itu sama dengan para kolonialis kapitalis yang pada masa dahulu (kolonial) menghisapi negeri kita hingga merana?

Kawan kami kata “ Penjajahan itu ada pada setiap masa engku, hanya bentuknya saja yang berlainan..”

Benar katanya, dan telah mata kami terbuka serta beberapa orang dunsanak-dunsanak yang masih kuat keimanannya. Namun akan halnya masa lalu, penjajah asing selalu memiliki sekutu dikalangan para pribumi. Dan sekutunya inilah yang memuluskan jalan penjajahannya. Seperti yang telah dijelaskan oleh Pram dalam tulisannya diatas, para pemilik modal ini tidak akan mendapat jalan kalau tidak diberi jalan oleh para pemimpin lokal. Seperti yang berlaku pada masa sekarang.

Tidak hanya para pemimpin, namun juga rakyat pribumi dari berbagai kalangan seperti akademisi, wartawan, pengusaha, pegawai, dan golongan terdidik lainnya. Mereka tegak berdiri membela kepentingan para penjajah “Negara ini negara bebas, tiada sesiapapun boleh melarang tatkala ada orang mengantarkan rezki..”

Ya, para pribumi atau Belanda biasa menyebut Inlander ini telah merasakan nikmatnya gula-gula pemberian penjajah. Lupa kalau gigi bisa sakit dan tiada berumur lama kalau kebanyakan makan gula-gula. Menentang saudara sebangsanya sendiri sambil mengumpat “Dasar orang udik tak tahu dengan kemajuan, ada orang hendak memajukan negeri kita engkau tolak dengan alasan kafir jahanam hendak mengkristenkan negeri kita. Terlalu dangkal dan picik alam fikiran kalian..!!!”

Bagi mereka kemajuan itu ialah banyaknya mall-mall didirikan di kota mereka, banyak oto[1] rancak na mewah berlalu-lalang di jalanan kota mereka, banyak perempuan berpakaian ketat nan senteng dan lelaki berpakaian moderen, ada bisokop pula tempat berehat atau memadu kasih (apakah itu dengan anak perawan, janda, ataupun isteri orang).

Bagi mereka kemajuan itu ialah apabila suatu kota hidup terus dua puluh empat jam “Tiada seperti sekarang, pukul sembilan telah menyuruk ke dalam rumah. Jalanan sudah lengang tiada berorang, serupa dirimba awak rasanya..”

Itulah kemajuan dalam pandangan anak-kamanakan yang tiada engku, rangkayo, serta encik bekali dengan bekal ilmu agama dan adat yang cukup. Merasa diri hebat dan santing karena telah bersekolah tinggi sehingga orang yang ada di kampung dipandang rendah dan hina “Tiada serupa awak yang telah melihat negeri orang, orang kampung tahu apa!? Mengeram sepanjang hidup mereka di dalam kampung yang terkebelakang..”

Sekarang terserah engku, rangkayo, serta encik sekalian. Apakah akan menyerahkan negeri ini ketangan para kapitalis yang sebagian besar orang kafir atau hendak melawan sekuat tenaga menolak mereka. Ada kata-kata bijak dari suku primitif di Benua Amerika nun jauh disana “Hutan bukan warisan nenek moyang melainkan titipan anak cucu..”

Demikian pula yang hendak kami sampaikan “Negeri ini bukan warisan dari inyiak dan moyang kita melainkan titipan untuk anak-kamanakan serta keturunan kita nantinya..”

Gambar Ilustrasi: Kedatangan Cornelis de Houtman di Banten. Orang Belanda pertama yang mendatangi Indonesia.

Link Gambar; http://www.engelfriet.net/Alie/Aad/bantamhoutman.jpg

[1] Mobil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s