Surat untuk Kepala Nagari

Teruntuk, Engku Kepala Nagari

di,

      Mana saja engku berada

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,.

Semoga rahmat dan hidayah Allah Ta’ala selalu menyertai engku beserta keluarga dimanapun berada. Semakin dekat jualah hendaknya engku dan keluarga ke jalan syari’at dan ditutupi jualah hendaknya auratnya oleh isteri engku nan cantik rupawan itu. Amin..

Bagaimana kabar engku kini? Mudah-mudahan ada sehat, tak kurang sesuatu apapun jua. Engku Kepala, salam rindu untuk engku dari kami sekalian penduduk Nagari CML beserta kerabat kami nan berada di rantau Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimatan, serta derah-derah sekitarnya. Salam rindu duhai engku, rindu menengok langit biru dimana asoy[1] dapat terbang tak terhalang oleh asap nan cetar membahana ini.

Ilustrasi Gambar: Internet*

Ilustrasi Gambar: Internet*

Engku Kepala Nagari nan Sederhana – melebihi Rumah Makan Sederhana – Engku Kepala Nagari nan terhormat, kami sekalian penduduk sesungguhnya bahagia engku, ada objek pelancongan baru nan gratis di kampung kita ini, melancong asap namanya engku. Namun engku, nan namanya kawasan pelancongan itu didatang setiap sepekan ataupun sebulan sekali, namun nan ini tidak engku, didatangi setiap hari selama lebih dari dua bulan ditambah dengan dampak sakit pada paru-paru kami, tentulah kami pasai[2] jua engku dibuatnya. Cukuplah asap saja nan terhirup bukan kentut, walau kata orang di fesbuk menghirup kentut itu menyehatkan (asalkan kentut awak nan dihirup, bukan ketut orang).

Jadi tolonglah kami ini engku, kalaulah kami pula nan akan turun tangan menyelesaikan ini, ndak akan selesai oleh kami orang biasa ini duhai engku, nafas kami saja sudah satu-satu. Ditambah saku kami asap pula isinya karena perniagaan sekarang sedang payah. Namun kebijakan dari Engku Kepala Nagari mungkin dapat jua menolong kami ini, engku punya kuasa untuk memerentah para ahli serta pihak nan berwenang.

Engku Kepala Nagari nan Merakyat, terdengar oleh kami Kepala Nagari jiran kita hendak memberi bantuan kepada nagari kita. Kalaulah ada baik rasanya apa salahnya kalau kita terima engku? Usahlah engku bertinggi hati – cukup tinggi cita-cita saja – kalaulah memang engku tiada sanggup menanggulangi bencana di nagari kita ini, apalah salahnya menerima bantuan dari dunsanak kita di nagari jiran itu.

O ya, satu lagi engku. Ketika pemilihan Kepala Nagari nan silam, kalau kami tiada silap ada salah seorang relawan engku nan basitungkin[3] mengumpulkan sumbangan untuk kemenangan engku. Walau kini tiada jelas kemana uang sumbangan itu perginya (karena tiada memberi kabar kepada kami), alangkah eloknya jikalau seandainya Engku Kepala juga basitungkin mengumpulkan sumbangan untuk kepentingan kami penduduk nan engku sedang pimpin ini?? Cukuplah untuk membeli penutup hidung seharga Rp. 2.000,00 sehari sudah senang hati kami ini duhai Engku Kepala ditambah satu tabung oksigen setiap pekannya untuk anak-kamanakan kami  nan masih kanak-kanak. Sudah sesak nafas kami ini engku, sampai-sampai nasi dimakan rasa asap, air diminum terasa pula asap, haus dan lapar hilang asap melekat.

Terakhir engku, ada nan menyakitkan terasa di hati kami, terdengar kata nan kurang enak, begini katanya “Jangan salahkan Engku Kepala Nagari. Jangan berharap terus Engku Kepala akan menyelesaikan perkara ini..!!!”

Mendengar hal nan demikian iba hati kami ini, satu saja jawab kami ini engku, kalau kami ini apalah pak. Kalaulah dapat kami kerjakan sendiri, takkan memintak  kami ke hadapan engku. Kalaulah bisa kami diberi kekuasaan untuk membuat kebijakan serupa Engku Kepala ini, takkan kami gaduh sedikitpun engku.

Nan ini benar-benar terakhir engku, ini merupakan pesan dari anak-kamanakan kami, begini pesan mereka “Usahlah Engku Kepala memandang mudah saja segala persoalan di nagari kita ini. Kalaulah tak dapat menyelesaikan maka sebaiknya engku tak usah bercakap. Seperti kata mamangan di negeri kita perihal Sifat Penghulu (pemimpin); nan keruh hendak menjernihkan, dan kusut hendak menyelesaikan. Selepas itu tak usahlah memberikan janji mengenai suatu perkara apabila rasanya engku tiada sanggup menepati. Ingat engku, ada tiga ciri orang Munafiq; Apa bila berkata ia dusta, apabila berjanji ia engkar, dan apabila dipercayai ia khianat. Dipanggang api neraka engku. Kami berharap engku janganlah serupa itu.. kami do’akan agar supaya engku jauh dari sifat-sifat nan demikian”

Demikianlah surat dari kami engku, semoga engku berkenan. Maafkan kalau terdapat silap dan salah dalam surat ini karena kesalahan itu bukan berasal dari kami melainkan dari syetan nan merayu-rayu kepada kami.

Empat kali empat enam belas, Sempat tak sempat tak usah engku balas. Karena tindakan dan perbuatan Engku Kepala Nagarilah nan kami nantikan.

Wassalam

Tertanda,

Buyuang dan kawan-kawan

PS: Sedang kena kebat di markas Pardede

*http://chirpstory.com/li/283610

[1] Kantong Plastik

[2] bosan

[3] Gigih, bekerja siang-malam

Dialih bahasakan dan diedit seperlunya oleh St. Paduko Basa dari Postingan Carito Minang Lucu yang diterbitkan pada hari Kamis tanggal 8 Oktober pukul 12.23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s