Lelaki di Minangkabau

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Adalah sudah menjadi adat nan tersirat di Minangkabau ini bahwa kekuasaan seorang lelaki itu terletak pada kaum perempuan dan Rumah Gadang miliknya. Karena tiada guna ia kalau tak memiliki kaum nan menjadi tanggungan dan diperintah. Sedangkan kaumnya itu terdiri dari kamanakan, saudara perempuan, ibu beserta saudaranya serta nenek beserta saudaranya. Kalau seorang lelaki telah terusir dari rumahnya maka tiada berkukulah ia dalam nagari sama dengan raja tanpa kerajaan. Namun jarang berlaku nan demikian hal ini karena fihak perempuan tiada menyadari kekuasaan sebenar nan ada pada dirinya. Kebanyakan perkara nan berlaku, perempuan sering menyerah kepada kehendak saudara lelakinya maka berkatalah orang munafiq nan berbaju liberal dan feminis “Di Minangkabau nan Matrilineal perempuannya ditindas oleh lelaki..”

Demikianlah nan banyak mengemuka di beberapa nagari di Minangkabau ini ialah para lelaki itu acap bertindak semena-mena terhadap saudara perempuan dan harta pusaka milik kaumnya. Banyak kedapatan seorang lelaki menjual-jual harta pusaka tanpa sepengetahuan atau semufakat antara dia dan saudara perempuannya. Hasil penjualan harta pusaka itu dibawa pulang ke rumah anaknya.

Kata orang kampung kami bahwa segala perbuatan itu pastilah ada balasannya. Dan Allah Ta’ala dan bertahta di tujuh petala langit Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha Adil pembalasannya terhadap manusia nan engkar dan sesat.

Termasuk kepada lelaki nan suka semena-mena dengan harta pusaka dan menzhalimi saudara perempuannya. Harta pusaka itu ialah milik bersama, bukan milik pribadi sehingga tiada boleh dijual. Kalaupun hendak jua dijual maka mesti bermufakat orang-orang nan seperut[1] demikianlah pengajaran orang-orang dahulu. Karena nan menjadi raja di Minangkabau ini bukan manusia melainkan kamanakan beraja ke mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke kata mufakat, kata mufakat beraja ke Nan Bana (yang benar), Nan Bana beraja ke Nan Haq, adapun Nan Haq beraja sendirinya. Nan Haq itu ialah Syari’at Allah nan termaktub dalam Al Qur’an. Maka bersualah ia falsafah Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah.

Mendapati perkara nan demikian, telah banyak orang-orang nan bermuat sumbang dan terpantang dalam pandangan adat itu mendapatkan ganjaran pada akhirnya. Bukan ganjaran nan diberikan oleh manusia sebagai hukumannya melainkan ganjaran nan datang dari Allah Ta’ala.

Beragam saja nan di nampakkan oleh Allah Ta’ala, serupa sakit nan tak kunjung dapat diobati, sengketa nan acap berlaku dalam keluarganya, fikiran nan cepat menua sehingga sering lupa dengan diri sendiri, kesusahan dan datang silih berganti, kehidupan nan tiada mesra dengan anak-isteri, dan lain sebagainya.

Demikianlah..

Namun ada jua nan berlaku kebalikan dari nan kami kisahkan di atas yakni seorang lelaki nan berada di bawah kendali keluarganya, apakah itu ibu ataupun saudara perempuannya. Kata orang di kampung kami “Berada di bawah kerampang[2] padusi[3]”.

Entah mana nan buruk dengan di atas, jenis lelaki serupa kebalikan dari lelaki nan semena-mena. Menurut kepada kata perempuan, takluk dibawah tangan perempuan, tak memiliki pendapat lain selain pendapat nan dikemukakan perempuan, dan patuh serupa babu kepada tuannya. Terkadang anak isteri menjadi korban dari kepatuhannya kepada saudara perempuannya ini, diabaikan, diacuhkan, dan tidak ditunaikan hak-haknya.

Lelaki serupa ini dapat di umpakana serupa seekor anjing nan selalu menurut apa kata tuannya walaupun acap kena maki, kena pukul, kena hantam, bahkan tak diberi makan. Serupa apapun perlakuan nan diterimanya maka ia akan tetap selalu patuh dan setia kepada tuannya. Demikianlah anjing.

Namun nan terbaik diantara nan dua ini ialah tak ada, kami cobakan jelaskan perihal lelaki nan ketiga. Lelaki nan pandai memperselisihkan perihal perkara agama dengan adat, perkara anak dengan kamanakan, perkara ibu dengan mertuanya, perkara isteri dengan saudara perempuannya, perkara saudara lelaki dengan sumandonya.

Tiada mesti memihak, dan tiada pula dapat dipuaskan keinginan masing-masing fihak. Karena Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A pernah berwasiat “Sesungguhnya memuaskan keinginan setiap manusia itu ialah perkara nan mustahil bagi engkau..”

Demikianlah, dia mesti siap mendapat tanggapan nan buruk dari kedua belah fihak karena demikianlah nasib orang nan berdiri di tengah-tengah. Tak disukai kedua belah fihak, terkadang dipuja dan terkadang dicela. Namun nan pasti ajaran Syari’at dan Adat mesti menjadi pegangan ia dalam memutuskan setiap persoalan nan datang dari kedua belah fihak. Harus tahu ia mana nan perkara Syari’at dan mana nan perkara Adat, tak boleh dicampur baurkan keduanya. Berlainan dengan masa sekarang dimana keduanya sering dicampur baurkan sehingga keluarlah perkataan “Adat itu bertentangan dengan Syari’at..”

[1] Satu asal, misalnya berasal dari satu nenek nan sama

[2] Selangkang

[3] Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s