Garundang Padang

Gambar: Disini Picture: Here

 Beberapa hari nan silam kami berkesempatan bertandang ke rumah salah seorang kerabat di salah satu bandar di Pulau Perca ini. Kerabat dari kampung datang menyilau keluarga nan ada disana maka datanglah pula kami hendak bersua. Apabila bersua tentula bertanya kabar diri dan kamipun bertanya pula selanjutnya berbasa-basi bertanya perihal keadaan di kampung nan jauah di mato.

Ada satu kejadian menarik – kalau tak boleh dikatakan mengesalkan – dimana pada saat asyik bercakap-cakap di tengah rumah, salah seorang kerabat kami membelokkan keadaan kepada perkara politik. Kerabat kami ini telah tua umurnya, lebih empat puluh tahun, seorang saudagar yang tak memiliki banyak kapal. Dalam keluarganya terkenal sebagai salah seorang kepala yang selalu dituruti perkataannya.

Jauh-jauh hari sebelumnya kami telah menyadari bahwa tidak semua orang Minangkabau itu sehat akal dan fikirannya, terutama yang berada di rantau nan bertuah. Buktinya banyak jua nan bertukar kiblat, dan untuk kasus nan satu ini, kerabat kami ini merupakan simpatisan partai pemerintah, sebuah partai nan sangat dibenci di kampung halaman kita. Karena anti Islam dan juga karena ada pengaruh dari penjajah nan dahulu pernah mengotori kampung kita pada masa tahun 1958 nan silam.

Betapa keras hatinya menyokong Raja Kodok dan betapa dengan bangga ia mengisahkan perdebatannya dengan kawan sama gedangnya nan ada di kampung “Diam saja ia, tak berani ia menjawab lagi..” kisah kerabat kami ini dengan bangga. Kami dan kerabat lain nan dari kampung diam saja, awak tamu disini.

“Tak habis fikir awak, dapat jua orang kampung awak itu kena hasut..” ucapnya. Sungguh kami geleng-geleng kepala saja “Siapa pula nan kena hasut?” tanya kami dalam hati. Sebuah kabar dusta disampaikan oleh kecebong dan kecebong lainnya mengamini maka serupa inilah jadinya, salah seekor kecebong memperlihatkan kepandirannya nan cetar membahana.

Tiada hasut menghasut, setidaknya demikianlah nan kami dapati semasa pulang dahulu serta berdasarkan penuturan (kesasksian) dari beberapa orang dunsanak kita. Justeru sebaliknya nan menghasut itu ialah pihak nan sedang digadang-gadangkan kerabat kami ini.

“Pada pemilu nan silam kami heran dengan keadaan di kampung kita. Tim pemenangan Raja Kodok sangat cepat dan lihai dalam memasang spanduk, menyebar selebaran, menyiarkan iklan, dan lain sebagainya. Sedangkan fihak nan satu santai-santai saja..” kisah kawan kami dahulu “Dan tengoklah, sudah payah-payah mereka tapi tak menang, kalah jauh malah.. hahaha..” lanjut kawan kami.

Memang orang kampung kita sangat unik, tak dapat diprediksi kata orang disini. Menurut kami karena orang awak itu ialah orang nan merdeka, tak mudah dipengaruhi oleh pemberitaan oleh media yang dikuasai oleh orang kafir. Inilah buah dari pendidikan lapau, segalanya diperdebatkan, segalanya dikaji secara mendalam. Semoga anugerah ini tiada hilang dan terus melekat kepada diri orang awak hendaknya.

Demikianlah kisah salah seorang kawan kami, sekembalinya dari bandar tersebut ia menceritakan dengan sedih bercampur geli perihal terdapatnya garundang dalam keluarga besarnya “Sungguh kena coba awak oleh Allah Ta’ala..” ujarnya sedih.

Dan kepada Garundang Padang, insyaflah, Tobat Nashuhalah kalian ini. Tak usah berlagak cerdik pula karena banyak orang nan lebih cerdik dari awak. Stay Cool ajalah brow..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s