Melawan Kefasikan

Ilustration Picture: Here

Semenjak Raja Koncek naik tahta di negeri ini, maka semenjak itu pulalah agama kita mendapat serangan tiada henti, mulai dari syi’ah, aliran sesat, pelecehan para ulama, dan sekarang Kaum Nabi Luth. Entah kenapa suara mereka sangat nyaring terdengar di republik ini, padahal jumlah mereka tak seberapa.

Mungkin karena media, mereka mengendalikan semuanya. Semua dialihkan dan diarahkan untuk mendukung keberadaan mereka maka jadilah republik ini dikuranyak-i (diobok-obok).  Berbagai kedustaan disebarkan walaupun masyarakat banyak sudah tahu kalau itu dusta. Tampaknya teori ahli komunikasi mereka pegang; satu kebohongan apabila diucapkan seribu kali maka ia akan menjadi kebenaran. Dalam kasus ini satu kebejatan apabila diucapkan seribu kali maka akan menjadi kelaziman.

Republik ini benar-benar tengah sedang sakit keras, benar agaknya apabila pucuknya sudah tak sehat alamat nan badan akan menderita sakit jua. Walau banyak jua orang nan sehat akal, jiwa, dan fikiran di republik ini namun karena nan sedikit ini nan memegang tampuk kekuasaan maka penyakit mereka akan segera menjalar menulari anggota badan nan lain.

Kasus terbaru ialah Kaum Nabi Luth. Sungguh aneh karena apabila dipandang dari sudut pandang manapun maka kelakukan mereka ialah kelakukan laknat yang dikutuk seluruh penghuni langit dan bumi. Namun disini mereka diberi kesempatan untuk berkembang biak dan menampakkan diri. Agama dirusaki dengan memakai dalil-dalil dari agama tersebut untuk mendukung perilaku mereka. Seluruh pandangan dibentuk untuk mengakui keberadaan Kaum Jahanam ini.

Setiap agama yang ada di republik ini tak dapat menerima, karena memang dilarang dalam ajaran agama-agama tersebut. Namun tak mempan, orang-orang yang mengatas namakan kebebasan bersuara lantang, minoritas mesti dilindungi. Sungguh dikira pandir awak semua, semua perkara bermuara pada minoritas vs mayoritas.

Dan parahnya lagi, di propinsi ini diduga terdapat beberapa kelompok Kaum Nabi Luth. Hendak dibawa kemana Alam Minangkabau ini. Mudah-mudahan saja rakyat di propinsi ini masih teguh memegang falsafah “Raja Adil Raja Disembah – Raja Lalim Raja Disanggah” karena cukup banyak orang Minangkabau nan telah menjadi Garundang [kecebong] terutama nan di rantau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s