Auman Sang Kucing

[Kami tidak begitu menyukai orang ini. Tapi apa yang dikatakannya benar adanya] Sumber Gambar: Disini

[Kami tidak begitu menyukai orang ini. Tapi apa yang dikatakannya benar adanya] Sumber Gambar: Disini

Menjelang tangah hari ini kami membuka salah satu jejaring sosial, tampak pemberitahuan perihal salah seorang kawan yang mengomentarti salah satu status seseorang. Status yang dikomentari cukup panjang, membandingkan perihal keadaan media sosial di Cina dengan Indonesia kemudian merambah kepada masalah para RESISTEN[1] yang terus melakukan perlawanan. Intinya, diakhir statusnya – yang lebih pantas disebut sebagai sebuah tulisan – ia mencemooh para RESISTEN yang terus melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Sang Raja.

Salah satu kalimatnya pada paragraf kedua terakhir yang berbunyi; Tuan boleh bercakap apa saja di sosmed tapi kalau tujuan tuan ialah tidak ingin republik ini makmur, tidak ingin republik ini punya martabat, tidak ingin republik kuat dan mandiri maka Baginda Raja memang mimpi buruk. Kami hanya tergelak membacanya, sungguh cerdik ia, merangkai berbagai fakta, mengembangkan hipotesis, merancang berbagai macam retorika yang kemudian digunakannya untuk mempengaruhi orang-orang sehat di republik ini untuk mengakui kekuasaan sang raja.

Harus kami akui bahwa paparannya perihal keadaan media sosial di Negeri Cina memanglah benar, kami sendiri salut dan kagum karena negara itu telah jauh lebih dahulu mengetahui potensi besar tersebut dan memilih untuk memanfaatkannya. Kami pernah mendengar pemaparan dari beberapa orang, betapa beragam jejaring sosial yang ada ditambah beberapa situs penyedia upload video yang beroperasi di republik ini, sama sekali tidak membayar pajak kepada negara kita. Padahal tak tanggung banyak pengguna menereka di republik ini, tak tanggung pula banyaknya iklan yang ditayangkan di situs mereka. Triliyunan uang yang semestinya dibayarkan oleh mereka sebagai pajak ke negara ini melayang begitu saja, dan kita sekalian rakyat di republik ini tetap diperbodoh. Dan parahnya kita hendak saja dibodohi karena memang tiada memiliki pilihan.

Serupa kami yang masih saja membuka akun di jejaring sosial kepunyaan para Kapitalis.

Dalam tulisannya tersebut juga dipaparkan salah satu kelebihan jejaring sosial di Negeri Cina, dimana setiap orang yang mendaftar mesti memasukkan nomor KTP sehingga mereka hanya dapat memiliki satu akun. Tiada dapat orang membuat akun palsu karena setiap orang hanya memiliki satu nomor KTP. Jadi para pengguna akun palsu, rahasia, tak jelas siapa orangnya boleh dikata tiada di negeri itu. Berlainan sangat dengan republik ini dimana para pengguna akun palsu sangat banyak.

Tersenyum lagi kami membacanya kenapa? Akan kami coba jawab dengan salah satu pengalaman kami baru-baru ini. Ada seorang induak-induak yang mulutnya tiada pernah disekolahkan agaknya, gemar bergunjing dan bergibah. Pada suatu ketika kelakuannya ini sudah sangat menyinggung salah seorang rangkayo yang merupakan jirannya pula. Jirannya ini bertanya kenapa sampai demikian ucapannya? salah apa dia sehingga diburuk-burukkan.

Induak-induak penggunjing ini bukannya minta maaf namun malah membalas dengan kata-kata kasar. Sedari lama rangkayo ini sudah menahan sabar, mendengar perkataan yang demikian maka habislah kesabarannya. Maka bercaranlah[2] kedua perempuan setengah baya ini. Akhir kata si induak-induak terdesak, tiada dapat mejawab lagi namun dia cerdik. Disudahinya perang hari itu dengan ucapan “Semoga Allah membukakan pintu hati engkau..”

Si rangkayo terkejut, para penonton yang menyaksikan pertarungan adu cepat bicara dan adu logika ini pun ikut heran, sekampung orang sudah tahu perangainya. “Entah siapa yang hatinya tak terbuka ini ha..!?!?” seru orang kampung. Demikianlah..

Kami tantang si penulis beserta rajanya untuk menjalankan kebijakan ini. Buat kebijakan satu orang satu akun sehingga akun palsu tiada lagi merajalela di republik ini. Beranikah?

Dengan kaya sok intelektual[3] dia mengajari agar jangan mudah terpengaruh dengan media online karena berbagai situs online – yang katanya pendukung ISIS namun sayang nama situs online tak disebut dan tak ada pula bukti yang ditunjukan – tersebut mengarah kepada disintegrasi bangsa. Kami heran, apakah dia lupa, tak tahu, atau tak mahu tahu bahwa sebagian besar media cetak dan elektronik di negara ini telah menjadi alat bagi para politikus dan kapitalis. Sehingga segala berita yang mereka sampaikan sudah tidak dipercayai oleh rakyat di republik ini. Maka dari itu sebagian besar golongan terdidik – yang tidak mudah percaya dan suka menyelidiki – beralih ke media online yang katanya Tukang Hasut tadi.

Kami pernah mendengar kalau media ialah Pilar Ke Empat dalam demokrasi. Dan pada saat sekarang pilar itu sedang rusak parah. Kalau dahulu ada tirani eksekutif maka tiada salah kalau sekarang kita sebut zamannya tirani media. Tidak ada orang berjiwa lurus dan berhati bersih lagi dalam setiap media itu (sebenarnya tak pula baik menjudge demikian karena kami yakin masih ada sedikit orang baik disana namun suara mereka kalah dari yang banyak).

Kami hanya hendak menyampaikan bahwa perilaku merendahkan serta belagak serupa yang ditunjukkan penulis dalam postingannya tersebut tak elok untuk ditiru. Karena apa yang dituliskannya tersebut bukannya menyejukkan justeru menambah kusut persoalan. Mungkin baginya serta para pendukung (kecebong) raja, tulisannya itu benar, bagus, dan menohok para RESISTEN namun tidak demikian pandangan para RESISTEN. Tulisan yang sombong, angkuh, serta munafik dari seorang yang merasa dirinya “lebih dan paling” dari orang lain.

Kalau memang masih ada sedikit kebaikan dalam hati setiap para kecebong, kami harapkan mereka dapat mendengarkan suara hati kami ini. Semoga terbuka jualah hendaknya hati mereka dan kembali kepada kebenaran. Amin

_________________

Catatan Kaki:

[1] Terinspirasi dari Filem Star Wars

[2] Perang mulut (Min)

[3] Mungkin karena pernah menempuh pendidikan ke luar negeri dan sering pula melakukan perjalanan ke luar negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s