Hormati yang tidak puasa?

Oleh: Ilham Yusardi

Picture: Here

Beranjak dari kasus ibu pedagang warung makan di Banten, yang warungnya dirazia polisi pamong. Kemudian banyak yang menanggapi: ibu itu tak layak diperlakukan seperti itu; dirazia; disita jualannya. Orang-orang mengumpulkan donasi hingga tercapai pula ratusan juta. Wacana berkembang. Pemerhati, bupati, gubernur, hingga presiden menanggapi. Simpel mereka perkata, dengan singkat pikiran. HORMATI JUGA ORANG YANG TIDAK PUASA. seterusnya, Perda-perda tentang larangan berjualan makan dan minum secara terbuka pada bulan puasa akan dikaji kemendagri.

Situasi ini memang agak aneh. Kini, di zaman media berjaringan yang merdeka, demokrasi dan dialektika wacana moralitas menjadi sangat terbuka. Yang dimaksud dengan “apa yang patut” dan “apa yang pantas menjadi rancu”. Apapun situasinya, sebuah kasus etis mudah sekali disidang secara massal oleh pengguna media sosial. Akibatnya, kepantasan (etis) dilegitimasi oleh banyaknya dukungan terhadap subjek yang diasosiasikan sebagai korban. Ibu penjual makanan dibulan puasa itu ditempatkan sebagai korban ketak adilan; korban aturan penguasa.

Benarkah demikian sepatutnya simpati kita?

Dalam kondisi Umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa siapakah yang patut dihormati? Orang yang tidak puasa atau orang yang puasa?

Orang yang tidak puasa, jawablah begitu. Kenapa?

Karena yang tidak puasa membutuhkan makanan, maka kelompok ini dibiarkan untuk membeli dan makan di warung makan seperti hari hari biasa. Kalau begitu, penjual makanan tak perlu menutup warungya, tak perlu ada razia Satpol PP. Berlaku sebagaimana hari hari biasa.

Namun apabila jawapan sebaliknya: hormatilah orang yang berpuasa. Maka, prilaku yang disarankan adalah: jangan makan di tempat umum, jangan membuka warung makan dengan terbuka bebas. Semua itu demi menghormati orang orang yang berpuasa. Agar tidak tergoda puasanya.

Di negara yang mayoritas muslim ini, tentunya dengan keragaman agama pula, dan keragaman sudut pandang maupun paham, menimbang problem etika sosial menjadi pelik. kita mulai mempertanyakan, benarkah dibutuhkan simpatik orang yang tidak puasa kepada orang puasa?

Berpuasa itu adalah menahan makan minum, menahan syahwat, menahan hawa nafsu. Barangkali, masih banyak diantara yang berpuasa itu perlu perlindungan dari godaan makan minum, godaan pandangan mata. Mungkin ada anak anak yang masih belajar makna shaum, arti menaham diri. Maka, mohon jangan pulalah orang orang tidak puasa semena-mena mempertontonkan ketidak puasaanya.

Kepada pemilik warung makan, bijaklah menempatkan diri. Jika pemilik warung adalah seorang muslim yang juga berpuasa, tentunya anda tahu bagaimana puasa itu. Mungkin bisa tidak melayani makan di warung sebelum jam berbuka, dengan memperbolehkan dibungkus pulang.

Kalau warung makan itu memang bukan warung makan non muslim, samarkanlah warung anda dari pandangan orang puasa.

Mari saling menghormati.

‪#‎jimbrehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s