Kekonyolan, budaya mistik, & Tuhan pasti ada

Picture: Here

Tulisan ini diambil dari postingan di fesbuk Pinto Janir. Silahkan klik disini untuk menuju lamannya.

________________________________

Saya khawatir, bila bangsa ini terlalu banyak guyonnya, memakai logika terbalik dan menciptakan paradigma-padigma aneh, bangsa kita akan terpelet pada budaya pelesetan.

Ketika budaya pelesetan membudaya di tengah kehidupan masyarakat kita, jangan salahkan bila bangsa yang sangat kita cintai ini menjelma menjadi “Bangsa Sarang Pelawak” sebagai mana puisi saya “Negara Sarang Pelawak”.

Kekonyolan massal memiliki potensi besar sebagai awal dari keruntuhan sebuah negara.

Mengapa orang bersikap konyol? Karena, keseriusan tak lagi dipercayai sebagai sesuatu yang dianggap serius. Segala sesuatu yang terjadi diberbagai ruang, dianggap percandaan. Kalau dia terjadi pada ruang sosial, dianggap menjadi percandaan sosial, kalau ia mendekam di ruang politik, dianggap percandaan politik. Begitu seterusnya. Ada percandaan ekonomi, percandaan hukum, percandaan pimpinan, percandaan rakyat, percandaan kebenaran dan keadilan serta percandaan alam.

Ketika percandaan merayap kepada segala bidang, kekonyolan bertuan pada mistik.

Ketika kita mengkaji mistik, pada saat itu kita mengkaji numerik. Ketika kita bicara logika, yang menjadi panduannya bukan logika nyata, melainkan logika ‘bathiniah’.

Bila bathiniah bicara, maka benda mati menjadi tempat untuk bertanya. Kita mulai bertanya kepada pohon, kepada laut, kepada gunung, kepada rimba, kepada parak (kebun), kepada jin, kepada ‘hantu’ bahkan kepada iblis dan setan.

Saat itu percarutan (umpatan) menjadi bahasa yang paling santun. Kita seakan sulit membedakan mana yang manusia, mana yang setan, mana yang manusia mana yang malaikat, mana yang manusia, mana yang manusia setengah.

Maka pada saat itu, dari kekonyolan menjelma menjadi kemistikan, dari kemistikan menjelma menjada kesetengahan. Ketika budaya kesetengahan merambah dunia, maka yang akan terjadi adalah kecanduan manusia kepada hal-hal yang setengah-setengah. Pada saat itu kita tidak menjadi manusia yang penuh, melainkan manusia yang setengah.

Kadang memiliki kepala, kakinya mana?Memiliki kaki, kepalanya di mana?

Pada saat itu, pertanyaan menjadi sesuatu yang “mendunia”. Isi dari pembicaraan manusia adalah selalu bertanya dan bertanya tanpa memerlukan jawaban. Karena jawabannya adalah kekonyolan. Pada saat itu, budaya konyol lenyap, berganti dengan budaya bingung. Bingung adalah salah satu keadaan manusia di saat mana, kiamat besar menerjang jagad raya.

Jadi, bagaimana cara mengatasinya?

Harus kembali belajar “percaya”. Belajar “yakin” dan belajar “tahu”. Percaya bahwa kebenaran pasti ada, yakin bahwa kebenaran pasti tegak, tahu karena kebenaran pasti “muncul”.

Mengapa? Karena, kita berada di tempat yang benar; bukan di tempat yang salah. Untuk itu, mari berada di tempat kebenaran masing-masing sejauh dan sedalam pengetahuan, sepercaya keyakinan.

Apa itu?

Tahu, percaya dan yakin bahwa : ” Tuhan itu ada !”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s