POLITIK DALAM ISLAM

Picture: here

Rasulullah selalu membimbing umat agar mengerti perihal perkara politik. Umat Islam diwajibkan paham politik agar bersatu dalam strategi bersama. Umat tidak boleh diombang-ambingkan oleh strategi lawan. Umatlah yang diminta untuk memegang kendali politik sehingga diajarkan dalam berbagai ayat Al Qur’an tata cara memilih pemimpin.

Rasulullah mengadakan “Talaqi” secara rutin di Masjid Nabawi guna menciptakan kesadaran sosial politik umat. Itupun masih saja bisa ditembus oleh “Black Campaign dan Negative Campaign (BCNC)” kaum Yahudi. BCNC yang terasa sampai saat ini adalah: “Umat Islam cukup beribadah saja di Masjid agar masuk surga, biarlah kami umat Yahudi yang berdagang (berniaga/berbisnis)”.

Salah satu bentuk BCNC yang sangat persuasif, halus, seolah-olah benar, dan menjebak. BCNC disampaikan langsung kepada umat Islam person to person di pintu-pintu masuk pasar Qoinuqa, sebuah pasar yang dikuasai kaum Yahudi di Madinah. Banyak umat yang terjebak dan terpengaruh sehingga kaum Yahudi tetap mendominasi dan mengendalikan perniagaan.

Saat ini, masih banyak umat Islam yang menganggap berniaga adalah pekerjaan yang kurang sesuai dengan Islam. Padahal satu-satunya nabi yang berasal dari profesi Saudagar hanya Rasulullah. Hampir semua sahabat Rasulullah adalah Saudagar yang berjaya dan tangguh. Sebut saja Abu Bakar Sidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abithalib, Abdurrahman bin Auf, bahkan isteri tercinta beliau Siti Khadijah adalah hartawan di zamannya. Politik dalam Islam bukan suatu yang baru.

Islam tegak dengan kokok karena kontribusi keunggulan politik yang disebut al siasah oleh para Saudagar. Strategi Rasulullah hijrah ke Madinah guna menyusun kekuatan dukungan kaum Anshar yang kemudian sukses dengan gemilang membentuk negara, itu juga tindakan politik. Upaya persuasi Rasulullah untuk meyakinkan dan mengajarkan Tauhid kepada raja-raja di sekitarnya, juga strategi politik.

Imam Al Ghazaly mengatakan bahwa memperjuangkan nilai-nilai Kebenaran Agama Islam (KAI) dan Memiliki Kekuasaan Politik (MKP) adalah dua kekuatan kembar yang saling memperkuat komplementer. Tidak akan berjalan baik jika salah tidak ada!.

Paham politik bukan berarti aktif berpolitik praktis atau masuk partai politik. Meskipun harapan kita generasi muda yang berkualitas kembali aktif berpolitik secara islamis agar bangsa ini dikelola oleh pemimpin yang berkualitas dan amanah.

Lawan-lawan politik Islam tidak akan pernah diam sebelum Islam hancur dan bertekuk lutut. Hal ini adalah tontonan sirkus fitnah setiap zaman dari mulai abad pertengahan (Middle Age) sampai era moderen saat ini. Semakin maju dunia ini, semakin canggih strategi yang digunakan untuk melumpuhkan Islam. Pada era informasi, senjata media sangat efektif guna mencuci otak umat Islam dan generasi mudanya sehingga betul-betul tidak berdaya kehilangan ghirohnya.

Mari membuka wawasan politik agar umat Islam senantiasa waspada dan tahu betul pada garis politik yang dapat menyelamatkan Islam dan generasi mudanya….
Wallahualambissawab🇮🇩

Jakarta, Maret 2015
IRM

Disalin dari status fesbuk seorang kawan yang juga didapatnya dari hasil penyalinan pula.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s