Husni Kamil Manik, Kenangan

Sumber Gambar: Disini

PEJABAT MERAKYAT TIDAK LUPA SAHABAT
IN MEMORIAL : HUSNI KAMIL MANIK……….

Malam tadi sepulang dari mudik ke kampung halaman yang terletak di sebuah nagari di kaki Gunung Tandikek. Tepatnya  di Nagari Lurah Ampalu Tujuh Koto Kab. Padang Pariaman. Selama di kampung, aku tiada memegang handphone dan tentu saja tak membuka satupun Media Sosial (medsos). Hal ini karena kegiatan di kampung banyak sakralnya.

Tatkala sampai di Bandar Padang sekitar pukul 21. 00 WIB. Ketika itu aku membuka hape dan melihat status salah seorang kawan mahasiswa yang bernama Muttaqin Kholis Ali. Status di dinding facebooknya membuat berita duka “HUSNI KAMIL MANIK, ketua KPU RI meninggal dunia”

Berita itu seperti gurauan saja buat ku “Itu tidak mungkin..” bisik ku. Akal ku ingat adinda ku yang lain, yang juga sangat dekat dengan ku dan juga dekat dengan Husni. Adinda Eka Vidya Putra namanya. Lalu aku hubungilah, tatkala telah tersambung dan berbicara, Eka membenarkan kabar duka itu. Eka mengatakan bahwa hal ini tiada dapat dipercaya, namun apa hendak dikata itulah kenyataannya.

Aku tidak puas walau sesungguhnya sudah yakin, kemudian aku coba hubungi kawan nan lain yang bernama Boedi Satria yang merupakan Ketua KPU Pariaman. Beliau ini juga sangat dekat dengan saya, serta juga merupakan kawan dari Husni. Boedi juga membenarkan kabar duka itu, namun lebih lanjut Boedi menjelaskan bahwa beritanya belum jelas konfirmasinya.

Hal tersebut membuat aku masih berharap bahwa kabar itu merupakan kabar sesat dan terlongsong disampaikan orang. Namun pada televisi setengah jam kemudian, tepatnya pada saluran Metro TV, disiarkanlah berita duka itu. Maka tubuh ini akhirnya terhenyak. Innalillahi Wa inna illaihi Raajiuun. Adikku sekaligus kawanku itu sudah dahulu dipanggil Sang Khalik, muda sekali umurnya baru 41 tahun. Mati mudalah ia atas kehendak Allah SWT “Itulah takdir..” bisikku.

Malam itu seluruh tubuh ini bergetar, aku terdiam. Dan hanya lirih doa yang bisa ku panjatkan agar Husni Husnul Khatimah. Namun pada pagi hari, diri ini tiada hendak lepas dari wajahnya, wajah Husni. Sudah payah aku hindari untuk mendengar berita duka itu, namun hal tersebut tiada dapat. Husni seorang pejabat publik, tentu beritanya ada dimana-mana.

Dan akhirnya ingatan di kepala ku berkelebat melayang pada kenangan sekitar hampir 3 tahun silam. Ketika itu Husni baru saja dilantik menjadi ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia (RI) ia sedang berada di Padang karena ada tugas ke Bukit Tinggi. Sepertinya akan membuka acara kegiatan KPU Sumbar.

Dan yang berkesan bagi ku yang kecil dan hanya rakyat biasa ini adalah ketika hape kecilku itu berdering. Tatkala ku tengok, tertera nama Husni Kamil Manik pada hape ku tersebut. Hati ini terlonjak, karena seorang pejabat negara menelpon ku. Lalu bercakaplah Husni di telpon “Assalamu’alaikum Da Al, Uda ada sehat kan? Uda dimana? Kalau di Rumah, tunggu saya di depan rumah itu, atau tepi jalan di depan rumah…”

Aku tercengang dan mengiyakan saja ajakan itu, tanpa tahu apa agendanya. Segera ku tukar baju (untung rapi) dalam bayanganku Husni akan ke rumah, namun tampaknya ia ragu dimana letak rumah ku itu tepatnya. Kemudian aku nantilah Husni di tepi jalan.

Karena husni pejabat negara, aku hargai, dan berdirilah aku di tepi jalan itu. Sekitar 10 menit kemudian, lalulah iringan pejabat negara, layaknya rombongan pejabat penting. Saya tiada firasat kalau itu ialah rombongan Husni, yang saya tahu hanya menunggu Husni saja.

Lalu tiba-tiba menepilah salah satu oto[1] dari iring-iringan rombongan itu. Kaca oto diturunkan dan Husni kawan ku itu langsung mengeluarkan kepalanya (Dia duduk di bangku belakang) kemudian ia langsung membuka pintu “Naik da..” ucapnya kepada saya.

Tanpa saya sadari, tiba-tiba tubuh ini bergerak tanpa sepengetahuan dan sekehendak yang empunya, naiklah saya  ke dalam oto dinas itu, bergabung dengan rombongan pejabat, yang berada di bawah aturan protokoler negara. Tentu engku-engku semua faham jikalau kemudian rombongan berlalu.

Awak naik, dan oto bergerak bergabung dengan rombongan kembali. Bertanyalah saya ” Dinda sedang dalam tugaskah? Dan kenapa pula awak ini dinda ajak serta..?”

Husni hanya tersenyum menggemaskan “Uda mesti mencoba dahulu bagaimana rasanya berada dalam rombongan negara ini. He..he..he…” jawabnya sambil tertawa.

Aku tersenyum saja mendapat jawapan serupa itu namun sesungguhnya aku sempat merasa kaku dan canggung. Sebab aku menilai aneh saja segala kejadian itu.

Kemudian Husni mulai mencoba mencairkan suasana “Santai saja uda,  saya yang perintahkan mereka, jangan sungkan” Katanya “Nikmati saja..” sambungnya lagi.

Dalam hati kecilku, aku berucap “Ya.. Allah baru sekarang aku dapat seorang sahabat yang rendah hati serupa ini”

Dan ini adalah pejabat ke dua, sahabat ku yang rendah hati tidak susah di hubungi walau sudah jadi pejabat. Malah ia membawa aku berkeliling, ketika sedang dalam masa tugas negara, dengan protokoler negara pula itu. Hmm tak tahulah aturan apa yang dipakainya, namun hati kecilku mengatakan adinda ku ini orang baik.

Dan berceritalah iya akan cita citanya, serta bercerita pula ia akan rencananya ke depan, serta ajakannya untuk aku agar selalu berbuat. Aku hanya menjawab dengan ajakan untuk mendorong dan mengingatkan ia untuk selalu berbuat baik, serta menasehati jikalau dianggap sudah melenceng.

Adinda dan engku, rangkayo, serta encik yang baca tulisan ku ini. Itulah Husni Kamil Manik, orangnya bersahaja, tidak ada yang berubah ketika beliau sudah jadi pejabat negara, candanya masih seperti itu juga, rendah hatinya masih sama, dan bersedia menelpon aku yang sudah dianggapnya abang ini setiap ada waktu. Malah dalam hitunganku, lebih banyak beliau yang duluan menelpon, dari pada aku yang menelpon beliau. Karena sesungguhnya aku tentu takut menggaduh beliau jikalau sering sering ditelpon.

Malah suatu ketika beliau pernah marah, karena pada suatu ketika aku datang ke Jakarta guna mengurus akreditasi jurusan. Ketika itu Husni baru diangkat beberapa bulan. Aku tidak menginap di rumah Husni, melainkan menginap diajak oleh seorang kawan yang bernama Engku Yon (Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial  Universitas Negeri Padang)  di rumah salah seorang kerabatnya.

Kata Engku Yon ” Kita menginap di rumah salah seorang kerabat saya saja, daripada ke Hotel, hemat biaya.” katanya.

Engku Yon juga merupakan jenis pemimpin yang rendah hati. Alhamdulillah, aku mendapat kawan yang sama watak dan tabi’atnya. Terima kasih ya Rabb..

Dan hari itu, dengan segala upaya aku minta maaf pada Husni untuk tidak bisa menemuinya. Anehkan?

Harusnya (seperti) kebanyakan pejabat di negeri ini, kita yang mestinya marah-marah apabila sulit untuk menemuinya. Namun ini beliau yang marah sebab tidak dapat aku temui. Namun tugas ku waktu itu memang sempit. Memang kalah aku dengan beliau. Namun itu contoh buat ku…..

Hmmm kenangan itu pupus sudah. Sekarang beliau sudah tiada, dan meninggalkan kenangan indah buat ku, dan mungkin kita semua. Seorang pejabat negara, menghentikan mobil dinasnya, dalam rombongan protokoler resmi, hanya untuk menaikkan orang kecil yang sudah dianggap kakaknya ini. Ampunilah dia Ya Rabb, jikalau beliau ada khilaf sebagai manusia biasa. Dan aku yakin beliau Husnul khatimah. Selamat jalan adinda Husni, pergilah engkau dahulu, karena engkau telah usai, adapun dengan daku akan menyelesaikan juga tugas-tugas yang telah Allah Ta’ala amanahkan kepadaku.. Amiin…

Sumber: Fesbuk Hendra Naldi

________________________________________

Catatan Kaki:

[1] Mobil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s