Perihal Perlontean

Picture: Here

Hujan bapuhun, paneh ba asa, kato bamulo:

Masalah:

Dari empat seri tulisan ini:

  1. Perlontean di Bukit Tinggi
  2. Perlontean di Padang
  3. Perlontean di Padang2
  4. Perlontean di Padang3

Maka patut kiranya diambil tindakan serupa ini oleh Pemimpin-pemimpin kita di daerah:

1. Si Maya, si Laura, Laras dan Murni itu, bekerja sebagai pelacur, pelonte atau mendekatinya. Maya punya anak usia 5 tahun yang harus dibiayainya sedangkan Laura belum punya beban hidup akan tetapi malas bekerja. Murni, mungkin mahasiswi atau pelajar nan tak tau diuntuang/ indak baradat, entahlah.

Mereka orang-orang bodoh yang hanya ingin hidup mewah menikmati galeh Belando dan Japang (bekas penjajah nenek-kakeknya) berupa barang-barang konsumtif yang dipromosikan agen-agen mereka di televisi (selebritis).

Pakaian bermerek, rambut harus dicuci tiga kali sehari dengan obat ketombe, kulit bersun screen, sepatu, tas bermerek dari Paris, kuping disumpal sepanjang hari dengan perangkat headphone, naik-turun Toyota, Honda lalu ke luar masuk hotel berbintang dsb.

Karena tak mampu menghasilkan uang untuk membeli galeh urang maka terpaksalah menjual diri.

Seandainya si Maya berasal dari suatu “nagari” maka dipastikan mamak si Maya orang yang tak mampu pula untuk mengurus/membiayai kamanakannya

Pemecahan masalah: Polisi P.P Bukittinggi perlu mengembalikan/menyerahkan si Maya ke nagarinya (sesuai dengan alamat KTP).

Serahkan kepada mamaknya. Kalau si mamak tak mampu memberi pekerjaan maka masyarakat nagari perlu membantunya. Janganlah bolehkan Maya menjual diri dekat kampuangnya agar pekerjaan serupa ini tidak dianggap normal, apalagi dijadikan model/ditiru oleh ABG lainnya.

Kalaulah melacur itu pilihan pekerjaan Maya, silakan pergi bekerja di rantau dakek yang ada diformalkan dengan sebutan sebagai Pekerja Sex Komersial atau ke rantau jauah semisal ka Phuket, Macao, Belanda dan jangan sekali-kali diakui lagi sebagai anak-kamanakan/anak nagari sepanjang adat oleh Urang kampuang. Jadilah marantau Cino, indak usah mangaku-ngaku sebagai urang awak lai !

Usul: Masyarakat, khususnya pers agar tidak menggunakan istilah PSK untuk menyebut pelacur, lonte, begenggek, telembuk, lontong bagi wanita-wanita semacam ini di Sumbar.

Pekerja adalah orang terhormat yang mendapatkan penghasilannya tidak dengan menjual diri (menjual ginjal atau darah saja dilarang), apapun alasannya. Bekerja sebagai pelacur di hotel berbintang dengan segala kemewahannya bukanlah prestasi yang dibanggakan untuk anak-kamanakan kita, akan tetapi kehinaan bagi kaum-kerabat yang akan disebut-sebut di kemudian hari.

2. Turis asing, hotel, cafe dan pub adalah empat istilah yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.

Apakah anak nagari yang ber ABS-SBK bisa/mampu mengadaptasi keempat istilah ini sekaligus seperti yang dilakukan penduduk kampung Cina Bukittinggi dan Padang.

Bila tidak bisa/sanggup maka uang yang dihasilkan oleh industri pariwisata yang dipromosikan pemerintah hanya akan bertumpuk/terkumpul di Kampuang Cina

Pemda di Sumatera Barat yang dikuasakan rakyat untuk memberi ijin mendirikan hotel-hotel agar berani bertanggung jawab apabila terjadi pelacuran di tempat-tempat tersebut.

Masih ada (banyak ..!) indusri lainnya yang bisa dikembangkan selain industri pariwisata yang telah dipromosikan besar-besaran di ranah nan den cinto kalau saja kita memiliki ilmu dan wawasan untuk keselamatan anak-cucu/kamanakan.

Referensi fakta:
40 % wisatawan AS yang ke Filipina adalah wisatawan sex (newsticker Metro TV 23 Sept. 2011)
….menurut pengakuan SS pada ANTARA, dia telah bekerja selama tujuh bulan di Kota Padang, sebagai penari Striptis, di dua kafe berbeda, yaitu di Fellas dan Happy Family.
Setiap kali melakukan atraksi striptisnya, SS mengaku menerima bayaran Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. (ANT-276/Z002)

3. Adanya taksi yang menjajakan pelacur di kota Padang sejak lama, mustahil tidak bisa dilacak oleh aparat yang berwenang (Polisi negara dan Polisi PP) maka pertanyaannya ada apa di balik hal ini ?

4. Ingat kemarahan/peringatan Allah, … gempa, tsunami bisa terjadi dalam semenit ke depan, nauzu billahi min zalik.

___________________________

Disalin dari: nagari.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s