The Tobacco Godfather

Picture: Here

Disalin dari status fesbuk seorang kawan

Saya menghabiskan 10 jam untuk menyelesaikan menonton film The Godfather Trilogy. Film The Godfather, besutan sutradara Francis Ford Coppola yang diadaptasi dari Novel berjudul sama karya Mario Puzo menceritakan tentang reputasi keluarga Mafia Italia yang dipimpin oleh Michael Corleone sebagai penerus bisnis hitam ayahnya, Vito Corleone.

The Godfather I menceritakan tentang pemindahan kekuasaan singgasana mafia dari tangan Vito Corleone ke putra terakhirnya, Michael Corleone. Untuk selanjutnya di The Godfather II, julukan Don Corleone atau The Godfather menjadi milik Michael. Michael memimpin keluarga Corleone yang diakui sebagai mafia Italia-Amerika yang tangguh dan ternama. Pada final The Godfather III, Mafia Corleone yang sudah sangat kuat kemudian ‘mengawini’ Gereja Vatican untuk meyucikan nama keluarga Corleone yang telah lama dikenal sebagai mafia Italia-Amerika yang sangat tersohor akan sepak terjangnya di bisnis ‘hitam’.

Trilogi The Godfather ini mencoba menyampaikan sebuah kisah tentang Kekaisaran Mafia yang bisa bersetubuh dengan berbagai aspek, baik dari dunia kejahatan sampai ke dunia suci sekalipun. Sebetulnya pesan moralnya sederhana, bahwa sejahat-jahatnya orang pasti ada baiknya, dan sebaik-baik orang pasti ada jahatnya. Paling tidak itu yang bisa kita serap. Tapi yang kemudian saya garisbawahi adalah ketika Michael Corleone menyumbangkan 600 million dollars untuk International Immobiliare via Gereja Vatican, dan menjadi shareholder tunggal dari 6 lanlord terkaya yang menyumbang di jalur yang sama. Langkah ini ditempuh Michael untuk menyucikan nama keluarganya dari segala ‘pandangan miring’ publik. Dan ketika uang itu disumbangkan, ia telah menjual semua bisnis Casino yang sudah ditekuninya selama dua generasi. Kendatipun demikian, keluarga Corleone tidak perlu khawatir kehilangan pundi-pundi dollarnya, sebab ia telah mendirikan Vito Andolini Corleone Foundation di bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial. Langkah barunya ini kemudian di mandatkan kepada putri cantiknya Mary Corleone yang masih muda dan belum ‘terkontaminasi’ reputasi buruk.

Saya mencoba mengkorelasikan lagkah Michael Corleone ini dengan “mafia” terbesar yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini, di dunia nyata, yaitu: Mafia Tembakau. Sederhananya, Mafia Tembakau ini kita kenal dengan Pabrik Rokok Indonesia.

Beberapa tempo lalu, saya disuguhkan sebuah tontonan menarik tentang kampanye anti-rokok yang dilakukan oleh kelompok dari Amerika (kalau tidak salah). Dalam tayangan yang diunggah melalui situs Youtube tersebut, nampak liputan tentang sepak terjang Mafia Tembakau dunia yang berkecimpung di bisnis rokok di berbagai negara maju maupun berkembang. Berdasarkan survey badan anti-rokok dunia tahun 2008, 80% perokok berada di negara berkembang, sisanya di negara maju. Mengapa bisa demikian? Hal ini tentu sangat berkaitan dengan “Kecerdasan akan Kesehatan”. Di negara maju, masyarakatnya memiliki wawasan dan kesadaran akan kesehatan yang tinggi secara merata. Dan oleh sebab itu pula, pemerintah di negara-negara maju membandrol pajak rokok dengan harga yang sangat fantastis menjulang, sehingga masyarakat di negara tersebut memilih untuk tidak membeli rokok. Di negara berkembang berlaku sebaliknya. Cara pemerintah luar untuk meninggikan harga rokok di pasaran tidak akan berlaku di Indonesia, sebab di negara ini orang-orangnya bisa membuat rokok dengan tangan sendiri. Karena kecerdasan dan kesadaran masyarakatnya akan kesehatan sangat rendah, bahkan cenderung jongkok, Mafia Tembakau melihat hal ini sebagai peluang emas bagi bisnisnya untuk menyebar batang demi batang untuk dihisap calon konsumen mereka.

Philip Morris International   merupakan nama Mafia Tembakau terbesar di dunia. Telur-telur yang ditetaskannya antara lain Marlboro, Benson & Hedges dan West. Saat ini, Philip Morris membeli hampir seluruh saham yang ada di PT. HM Sampoerna, Tbk, sebuah perusahaan rokok terbesar pertama di Indonesia. Kita mengenal produk-produk yang dilahirkan dari kolong ranjang perusahaan ini dengan iklan-iklannya yang keren dan sedap dipandang, diputar rutin dan tuma’ninah di stasiun-stasiun televisi swasta. Merk-merk seperti Samporna Hijau, “A” Mild, dan adik-adiknya sudah mendarah daging di kelima indra kita karena bisa dijumpai dimana saja, bahkan lebih mudah untuk menemukan merk-merk ini ketimbang menemukan warung tegal. Secara intrinsik, kalau mau jujur sih, Mafia Tembakau ini telah khusyuk memainkan bisnis hitamnya selama ratusan tahun, meracuni orang-orang bercarapandang ‘jongkok’ terhadap kesehatan dengan mencekoki mereka menggunakan media iklan yang indah tapi menipu. Selama ratusan tahun itu pulalah mereka menanamkan ‘isme’ baru terhadap rutinitas merokok sebagai buah kecerdasan strategi Mafia mereka untuk menguasai ‘dunia’. Tentu saja menguasai dunia untuk membuatnya menjadi lebih bobrok.

Kemudian, ketika pergerakan bisnis mafia ini memasuki chapter terakhir, dalam hal ini kita korelasikan ke dalam seri The Godfather yang ketiga, mereka; para Mafia Tembakau ini mencoba melakukan strategi “Penebusan Dosa”. Persis seperti apa yang dilakukan Michael yang membangun sebuah Vito Corleone Foundation, para perusahaan rokok ini juga ikut membuat “foundation-foundation” mereka di jalur yang positif. Tidak perlu menutup mata, saat ini kita pasti mengenal nama-nama seperti Sampoerna Foundation, Beasiswa Djarum, atau Black Innovation Awwards. Semua foundation ini bergerak di bidang sosial seperti sebuah jalan untuk menebus ‘kejahatan’ mereka di ‘masa silam’. (Sebetulnya nggak masa silam juga sih, soalnya sekarang masih berlangsung). Apa yang kemudian terjadi adalah “Pencucian Citra” mereka dari pandangan miring masyarakat dunia yang sadar akan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Dengan membiayai pendidikan putra-putri bangsa, atau menyumbangkan keping-keping dollarnya dalam memperbaiki sarana kesehatan adalah bentuk-bentuk perbaikan citra dengan cara yang rupawan.

Pernah saya digelitik oleh sebuah isu di tahun 2010 bahwa; “Pada tahun 2013, iklan rokok tidak boleh tayang di televisi dan media-media cetak….”

Saya sempat terkekeh dengan isu ini.

Perhatikan: ratusan tahun sudah masyarakat Indonesia ‘terdidik’ secara halus untuk mengonsumsi rokok. ‘Pendidikan Merokok’ itu telah mendarah-daging, melekat sampai ke sumsum bahwa kegiatan ‘keren’ ini normal dilakukan. Saya percaya, bahkan hampir beriman bahwa ADA ataupun TIDAK ADA iklan, masyarakat kita tetap akan merokok. Saya boleh berkata, jikalau benar nanti akan diberlakukan, aturan “Tidak Boleh Mengiklankan Rokok di TV” sama juga BOHONG.

Tidak ada gunanya melarang orang beriklan makanan, toh kita tetap butuh makan dan akan mencari makanan.

Perumpamaan ini bisa kita setarakan dengan cara pandang masyarakat kita secara umum karena aktivitas merokok sudah menjadi semacam kebutuhan, bahkan lebih hakikat daripada ‘makan siang’.

Apakah upaya “Pencucian Dosa” ini tidak termasuk berdosa?

Sama halnya seorang pelacur yang membelanjakan hasil ‘kerjanya’ untuk membeli makan siang putra tunggalnya.

Sucikah makanan itu?

Hanya Tuhan yang tahu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s