Watak Pembangkang

Salah satu kejadian baru-baru ini nan membuat heboh [Sumber Gambar: Disini]

Telah banyak kami dengar orang-orang di rantau mencemooh watak (mental) orang Minangkabau yang tiada pandai melayani orang nan datang. Kata mereka “Bagaimana pelancongan (pariwisata) itu hendak dikembangkan kalau melayani orang datang saja tiada pandai. Kasar dan maunya hendak dilayani orang awak ini. Berlainan dengan daerah di Pulau Seberang sana, mereka ramah-ramah dan pandai melayani..”

Tersenyum kami mendengarnya “Tiada mengapa engku, baguslah demikian. Tanda orang Minangkabau ini tiada mudah diperintah, dipandir-pandirkan, terpengaruh dengan pencitraan, dan mudah dimasukkan ke dalam Karung oleh Media. Kami sendiri tiada sesuai dengan keinginan (ambisi) sebagian besar kepala daerah di negeri kita nan hendak mengembangkan dunia pelancongan..” jawab kami ringan.

“Hah, bengak engku ini! Kenapa pula? Hanya itu potensi negeri kita, sumber daya alam awak tiada punya tinggal pelancongan ini saja lagi nan perlu diolah, diberesi, dan dikembangkan..!” sergahnya dengan sangat kesal kepada kami.

“Janganlah engku memandang dari sudutu pandang pitih (uang) masuk saja. Tapi fikirkan pula dampak buruk (negatif)nya bagi anak negeri di kampung kita..” jawab kami tenang.

“Memangnya apa dampak buruknya menurut engku nan hebat ini!!” tanyanya mencemooh

“Dunia pelancongan di negeri kita ini sangat identik dengan perlontean, minuman keras, pamer aurat, hubungan seks bebas, dan berbagai perilaku maksiat lainnya. Atas nama pelancongan dan memanjakan tamu segala macam maksiat itu dibiarkan merajalela. Pada awalnya memang hanya untuk para pelancong itu saja namun lambat laun anak kamanakan kita dikampung tentulah akan terbawa arus juga..” terang kami.

“Terlalu dangkal engku berfikir, kan ada niniak mamak dan alima ulama sebagai benteng adat dan syari’at di negeri kita..” sanggahnya tak hendak kalah.

“Engku ini nan terlalu dangkal berfikir..” jawab kami “Apalah daya para niniak-mamak dan alim ulama, sebab dalam menegakkan hukum adat dan agama mereka tidak didukung oleh negara ini..”

“Eh, hati-hati engku bercakap, apa pula maksud engku itu?” gertaknya.

“Untuk menegakkan suatu hukum itu perlu alat, bagi negara mereka memiliki Kepolisian sebagai Alat untuk menegakkan Wibawa Hukum Positif di negara kita ini. Sudah adapun polisi masih banyak orang nan berbuat kriminal. Demikian pula pemerintah daerah mereka memiliki Satpol PP untuk menegakkan aturan nan telah mereka tuangkan dalam Perda.” jelas kami “Sedangkan untuk menegakkan hukum adat dan agama sudah adakah alatnya? Kalaupun sudah, sudahkah pula didukung dengan undang-undang di negara ini?”

“Salah-salah mereka menangkap orang karena berzinah, mabuk, atau berbuat maksiat lainnya justeru merekalah nan dapat dikenakan tuduhan kriminal menurut Undang-undang nan berlaku di negara ini..”

“Sebab produk hukum tertinggi di negara ini ialah Undang-undang bukan Hukum Adat apalagi Hukum Syari’at. Apabila produk dari kedua hukum tersebut – Hukum Adat & Hukum Syari’at – bertentangan dengan Undang-Undang maka produk kedua hukum tersebut tiada boleh dipakai. Apabila keras jua hati untuk memakainya maka akan dikenakan pidana..”

“Contohnya apa!?” tanyanya tak hendak menyerah

“Kalau ada orang Murtad semestinya dalam agama kita dikenakahan hukuman apa engku?” tanya kami

Si engku diam saja “Tengoklah, sudah banyak orang Minangkabau nan Murtad dan masih hidup ia bahkan berusaha untuk memurtadkan orang Minangkabau lainnya..”

“Dan juga engku..” sela seorang engku nan dari tadi mendengarkan saja perdebatan kami “Kami dengar di tempat-tempat pelancongan baru di negeri kita itu menjadi kawasan bebas. Bebas minum alkohol, bebas bertelanjang, dan bebas berzinah..” terangnya.

“Dimanakah itu engku?” tanya kami penasaran

Si engku agak berat mengatakannya, takut kena tuntut pula ia kalau ada nan berniat buruk mengadukannya dengan tuduhan pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan “Itu engku, di tempat nan ada pandai serta pulaunya..” jawabnya sambil melihat sekeliling.

“Na’uzubillah..”

2 thoughts on “Watak Pembangkang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s