Budaya Latah

Picture Source: Here

Ondong Aia-ondong dadak
Galak urang-galak lo awak
Nan digalak an urang, AWAK.. 
[Pepatah Minang]

Telah banyak yang memuji keindahan alam propinsi Sumatera Barat ini, dan telah banyak pula pelancong yang datang memuji-muji kemolekan alam Ranah Minang tersebut. Banyak usul saran yang masuk, kesemuanya berkata “Majukanlah dunia pelancongan (kepariwisataan) di Sumatera Barat. Dibandingkan Pulau Para Dewa, Sumatera Barat jauh lebih cantik. Hanya kalah dalam pelayanan dan pengelolaan saja..”

Maka, hampir semua kepala daerah di Sumatera Barat menjadi kan pelancongan sebagai tujuan utama (prioritas utama) dalam rancangan (program) pemerintahan mereka. Maksudnya hanya satu, pelancongan maju, maka akan besar pemasukan bagi daerah, dan pembangunan akan lebih cepat. Intinya ialah: uang masuk lebih banyak dan lebih besar dan daerah kita akan terkenal ke seantero bumi.

Kebaya bukanlah adat Minang, pakaian Menutupi seluruh tubuh. Bahu, dada bagian atas, ketiak, serta pangkal susu tampak.

Segala rancangan telah dibuat, halangan lahir (fisik) dapat mereka tangani namun halangan bathin (non fisik) sangat payah menangani. Halangan bathin itu ialah tabiat, watak, dan cara berfikir orang Minangkabau yang tiada pandai melayani tamu. Sudah menjadi cemoohan di kalangan orang Minangkabau sendiri bahwa orang Minang ini bertabiatkan “bos”, makanya tiada hendak melayani melainkan dilayani. Kalau serupa ini terus maka pelancongan di daerah tiada akan pernah maju-maju.

Bagi kami, syukur Alhamdulillah karena setidaknya racun itu tiada lancar masuk ke dalam darah.

Berbagai macam usaha yang dilakukan oleh pemerintah daerah tingkat dua di Sumatera Barat ini untuk memajukan pelancongan di daerah mereka. Ada yang sangat besar syahwat mereka ada jua yang biasa-biasa saja. Nan besar syahwat ini nan membuat kita pening kepala, karena syahwat nan berbicara maka tiada lagi kendali iman dalam sikap dan perbuatan mereka.

Sepertikah pakaian perempuan Minang itu? Seperti inikah Konsep Berpakain dalam Kebudayaan Minangkabau?

Menarik melihat daerah yang sangat besar syahwatnya ini, mereka sampai lupa diri, lupa siapa mereka, lupa dengan asal-usul, lupa dengan adat, dan lupa dengan syari’at. Segala usaha mereka tempuh untuk menarik perhatian para pelancong. Tujuan utama ialah satu yakni: agar para pelancong ramai datang ke daerah kita.

Apabila berita mengenai mereka dan daerah mereka masuk koran atau bahkan televisi maka akan sangat giranglah hati mereka itu. Potongan berita itu akan digunting dan ditempelkan sebagai pertanda keberhasilan mereka. Tiada jelas takaran mereka mengenai keberhasilan, asalkan sudah masuk berita berarti sudah berhasil. Sungguh aneh cara berfikir orang kampung kita ini.

Jangan sampai menjadi kesempatan bagi Kaum Nabi Luth untuk menunjukkan eksistensi diri

Nan paling menarik minat kami ialah suatu acara nan bertajuk Pawai Songket Antar Bangsa Bandar Arang. Kalau kami tiada salah pawai ini sudah nan kedua kalinya diadakan oleh bandar tersebut. Tujuannya ialah satu, menarik minat sebesar-sebesarnya para pelancong untuk datang ke bandar itu. Bandar yang berkehendak menjadi tujuan pelancongan utama di Sumatera Barat.

Tengoklah dari pinggang ke bawah, ketat tampak besar pinggang dan pinggulnya. Tengok pula pernak-pernik nan disandangkan di punggungnya itu, serupa benar dengan Karnaval Rio di Brazil

Sedari awal kami sudah merasakan ada yang aneh dari Kegiatan Pawai nan sangat digadang-gadangkan ini. Kami cemas dan curiga bahwa tujuannya bukanlah untuk mengangkat budaya Minangkabau melainkan hanya sekadar usaha untuk menarik “perhatian” (popularitas) agar para pelancong datang ke bandar mereka. Hal ini kemudian terbukti dari rancangan pakaian yang sama sekali tidak mencerminkan budaya Minangkabau. Mereka fikir memakai pakaian yang terdapat unsur-unsur dari budaya Minang atau yang ada songketnya saja sudah “Minang”. Padahal Konsep Berpakaian dalam Budaya Minangakabu tiada mereka fahami dan dalami. Maka tak heranlah kalau tersua perempuan berpakain sempit melilit badan dikatakan berpakaian Minang jua padahal lekuk tubuhnya tampak, dan besar buah dadanya tampak jua, ada nan sampai tampak ketiak, berok singkat, berlebih-lebihan dalam berbedak, dan lain sebagainya.

Ada jua nan berkodekkan (rok) songket namun pakaian bagian atas lebih menyerupai kebaya, dimana dada bagian atas tampak, pangkal susu mengintip, ketiak menyeringai, dan bahu nan mulus itu minta dielus. Astagfirullah.. masih dikatakan jua itu pakaian perempuan Minang!? Sudah hilang akal engku namanya itu, miring otak engku itu agaknya.

Bagus betisnya?

Tak hanya sekadar pakaian, namun juga ialah berbagai pernak-pernik tambahan yang mengingatkan kami pada salah satu pawai besar di Negara Brasil. Kalau tiada salah nama pawai itu ialah “Karnaval Rio de Janairo”. Serupa betul konsep yang mereka usung, bedanya ialah tiada perempuan nan bertelanjang atau memakai kutang dan sarawa kotok (celana dalam) serupa di pawai Brazil. Tentulah tiada berani mereka, namun mereka memodifikasi konsep dari Karnaval Rio tersebut dan menyesuaikannya untuk kebutuhan Bandar Mereka.

Dimanakah letak Minangnya dari pakaian perempuan muda ini? Memang kodek nan dipakainya terbuat dari songket. Tapi tak serupa inilah konsep berpakain dalam Kebudayaan Minangkabau. Dan tengok pula dua orang berpakaian penghulu yang tegak di belakangnya itu. Sungguh suatu nan menyayat hati..

Pada Pawai Songket Antar Bangsa Bandar Arang tahun 2016 yang diadakan pada hari Kamis tanggal 25 Agustus tersebut mereka semakin berani. Salah satu foto nan kami dapati sangat menyayat hati, seorang perempuan muda nan cantik jelita, bohai, temok, semok, montok, dan baorok kain songket tampak dengan anggunnya bergaya pada sebuah foto. Pakaiannya yang di bawah berlebih namun nan di atas kurang dimana ketiak, bahu, dan dada bagian atas, serta pangkal susunya tampak. Kami tiada faham dimana letak Minangnya pakaian ini.

Coba engku katakan kepada kami apa beda gambar ini dengan gambar-gambar nan di atas?

Nan membuat hati kami tersayat-sayat oleh sembilu ialah di belakang perempuan itu berdiri pada sisi kiri dan kanan dua orang lelaki muda dengan memakai pakaian kebesaran penghulu. Masya Allah, sungguh durjana mereka, mendidih darah ini ke kepala dibuatnya.

Nan membuat kami murka ialah rupanya si gadis nan baru berusia 16 tahun ini dan bersekolah pada Bandar Galamai mendapat juara dua pada pawai itu. Dipuja dan dipuji karena kecantikan dan keindahan pakaiannya. Sungguh cemas kami, kalau cara berfikir orang Minangkabau sudah terbalik serupa ini maka akan serupa apakah Minangkabau dimasa depan kelak? Akan hilang jua Minangnya tinggal saja Kabaunya. Melazimkan nan sumbang, meanggap biasa nan terpantang.

Inilah nan dikatakan oleh orang dengan “Budaya Latah” yakni suatu produk budaya yang lahir dari proses peniruan terhadap kebudayaan lain yang diangap lebih unggul. Tujuan dari Budaya Latah ini ialah untuk menjadikan produk budaya kita juga unggul sama dengan produk budaya yang ditiru sehingga perhatian dan minat dari orang maupun kelompok orang juga tertuju kepada kita. Tujuan sebenarnya ialah untuk menarik perhatian publik dan mengangkat popularitas. Sehingga dengan popularitas yang tinggi orang akan bersedia melancong ke bandar kita.

Sekarang didiamkan saja,

Contoh lain dari produk “Budaya Latah” di Propinsi Sumatera Barat ialah sebuah tugu yang terletak di tepi pantai di Bandar Padang. Entah siapa nan punya kerja meletakkan patung burung merpati dipuncaknya. Sempat membuat orang Minangkabau rusuh namun karena tiada tanggapan ditambah media tak pula mengangkat isu ini maka akhirnya diam seolah tak terjadi riak saja isu ini dibuatnya. Kini, orang-orang sudah mulai bosan dan lupa. Cerdik juga para petinggi di bandar itu.

Burung merpati sebagai perlambang (simbol) bukanlah berasal dari Kebudayaan Minangkabau melainkan berasal dari Kebudayaan Mesir, Yunan, dan kemudian diambil oleh Kekristenan dan kini Orang Islam Pandir juga ikut-ikutan memakainya. Nan lebih pandir ialah nan membuatnya, serta lebih pandir lagi nan berfoto selfie serta meuploadnya ke jejaring sosial miliknya.

Budaya Latah ini merupakan bentuk kerendahan diri, tidak percaya diri dengan kebudayaan nan dianutnya, serta tidak memiliki kreativitas dalama berkarta serta ingin sesuatu yang instan seperti ingin kaya tapi tak hendak berusaha, ingin pandai tapi tak hendak belajar, ingin menjadi bos tapi tak hendak menjadi anak buah, dan lain sebagainya. Hal inilah nan menjakiti orang-orang Melayu di republik ini. Tiada memiliki kepercayaan diri, ditambah pengetahuan dan pemahaman agama serta adat yang kurang maka berlakulah hal-hal serupa ini.

Marilah kita untuk kritis, berfikir dahulu sebelum berbuat terutama membuat suatu kebijakan. Tanyailah para ulama dan penghulu di Alam Minangkabau ini, jangan hendaknya merasa hebat sendiri. Sombong itu namanya, ongas (ongeh, angkuh) kata orang.

Baca Juga:

http://kbbi.web.id/latah

http://www.anehdidunia.com/2012/06/sindrom-latah-di-indonesia.html

http://rizqimahmudah05.blogspot.co.id/2012/07/latah-bukanlah-kebudayaan-indonesia.html

http://celoteh-galang.blogspot.co.id/2013/04/budaya-menghambat-mendorong-kemajuan.html

12 thoughts on “Budaya Latah

    1. Terima kasih. Walaupun itu karnaval karena konsep nan diusung ialah salah satu unsur dalam Budaya Minangkabau maka dari itu untuk unsur budaya Minangkabau yang dipakai tersebut hendaknya dipeliharalah nilai-nilai yang berlaku pada budaya tersebut. Sama halnya dengan pergi ke kampus, apakah dibenarkan ke kampus memakai sandal dan kaus oblong. Walaupun kita katakan “Hari ini saya tidak ada kuliah, saya datang bukan untuk berkuliah..” tetap saja satpam akan membawa kita ke pos satpam.

      Kami telah membuat penjelasan mengenai ini, silahkan dibaca: https://soeloehmelajoe.wordpress.com/2016/08/30/baju-kurung-the-blue-print/

  1. Entah kenapa, bergetar hati saya membaca tulisan Ungku. Saya bukan tinggal di tanah minang, saya lahir dan besar pun bukan di ranah minang, tapi darah saya kental darah minang.
    Masih ingat betul waktu sy kecil dulu, para pemuda-pemudi dari kota saya sangat bangga untuk menimba ilmu di Kota Padang. Yang sering saya dengar dari cerita kakak-kakak dan abang-abang yang pernah menimba ilmu di Ranah Minang, adalah betapa sopan, santun, dan terjaganya semua nilai kearifan leluhur oleh orang-orang Minang, baik yang muda, ataupun yang tua.
    Tapi beberapa tahun belakangan, sopan dan santun mungkin masih terjaga, tapi norma dan etika Urang Minang yang sekiranya pernah di tinggalkan oleh leluhur Nagari tidak mampu di pertahankan lagi.
    Kadang saya berpikir kecil, apa karena Urang Minang banyak yang sukses di tanah rantau, sehingga pada saat pulang ke kampung halaman membawa contoh dan menjadi guru yg keliru bagi Dunsanak di Nagari nya. Tapi saya rasa itu tidak mungkin, karena Urang Minang nan Pulang dari Rantauan pasti kembali dengan tetap menjaga nilai-nilai jati diri Minang yang ia kenal dulu.
    Akar dari kesalahan ini adalah, Keinginan yang lemah untuk menjaga Etika Adat Warisan dari Leluhur, Harapan yang begitu besar untuk Membesarkan Nagari tetapi justru mengorbankan Jati Diri, dan Ketakutan menyeimbangkan lajunya modernisasi dengan tetap bertahap pada pijakan Budaya Asli.
    Kiranya Etika dan Budaya Jati Diri Minang, kembali pada akarnya.
    Mohon maaf untuk tulisan yang tepat pada tempatnya.
    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.

    1. Terima kasih engku, memang benar apa yang engku katakan itu. Tidak hanya masyarakat Minang tapi hampir seluruh orang-orang yang hidup di negara-negara di DUNIA KETIGA mengalamai virus “Latah” serupa ini. Hal ini karena mereka bermentalkan orang kalah, tidak percaya diri dengan pakaian (adat dan agama) mereka dan cenderung meniru secara membabi buta pihak yang dianggap lebih unggul. Virus serupa ini telah berlangsung berabad-abad dimana masyarakat yang dikalahkan (apakah secara politis ataupun ekonomi) mengadopsi nilai-nilai (agama, budaya, nilai-nilai lainnya) dari orang-orang yang menaklukan mereka. Khusus bagi orang Minangkabau yang Islam, mereka telah mengenyampingkan Adat dan Agama dalam kehidupan mereka, tiada lagi dipakai sebagai penyaring sehingga terjadilah pengadopsian nilai-nilai tersebut secara liar dan menakutkan.
      Pengaruh orang rantau sebenarnya ada engku, tidak semua orang nan telah tinggal di rantau itu masih menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan nenek moyang kita. Disaat Musim Pulang Kampuang, cukup banyak perempuan-perempuan rantau yang tiada mengindahkan lagi etika berpakaian yang berlaku di MInangkabau ini. Mereka berusaha menunjukkan kepada orang kampung mereka, kalau mereka orang nan telah maju peri kehidupannya atau dalam bahasa lain “Telah Tercerahkan”. Tapi itu hanya sebagian, tidak semuanya.
      Semoga Adat dan Syari’at dipakai jualah di Alam Minangkabau ini.. Amin…

  2. Baiknya para tetua-tetua atau datuak-datuak atau bundo kanduang-bundo kanduang yang paham akan aturan bepakaian adat Minangkabau, dibuat semacam organisasi atau perkumpulan, diadakan semacam kelas, kemudian diundanglah para pelaku pariwisata, pelaku seni agar mereka tahu hal-hal yang mendasar dalam tata cara berpakaian adat Minangkabau. Saya sendiri yang lahir dan besar di Minangkabau tidak tahu makna atau filosofi arti dari misalnya, kenapa suntiang itu setengah lingkaran, kenapa celana datuak harus galembong dan berwarna hitam, yang dikat dipinggang itu maknanya apa atau baju kuruang itu sepanjang apa, diatas lutut atau dibawah lutut karena memang secara langsung tidak ada yang memberi tahu. Beruntung anak-anak SD sekarang sudah ada mata pelajaran Budaya Adat Minangkabau, tapi hanya secara garis besar saja.
    Adat istiadat kita sudah terkontaminasi dengan budaya luar, bisa dari TV, media sosial dan sebagainya. Dari cara berpakaian, tutur kata atau prilaku sehari-hari.
    Banyak keluarga atau generasi sekarang yang gengsi berbahasa Minang. Mereka memakai bahasa Indonesia yang keJakarta-Jakartaan untuk percakapan sehari-hari dalam keluarga.
    Jadi kalau ada semacam kelas, pengetahuan tentang itu bisa ditransfer ke generasi sekarang. Guide-guide yang memandu tamu-tamu yang datang ke Sumbar juga perlu diberi pengetahuan.
    Begitu menurut saya.

    1. itu mako nyo waktu sd pas baraja BAM tu jan lalok ,
      itu makna nan angku tanyo tu alah pnah di plajari lo waktu sd , coba lah bukak buku BAM Ttu baliak biaa jaleh

  3. ini efek dr pengembangan pariwisata..kan katanya ingin mengembangkan potensi wisata..kan katanya ingin meningkatkan pendapatan daerah dr potensi wisata..ya ini dampaknya..saya tdk katakan ini dampak negatif atau positif krn baik dan buruk itu trgantung sudut pandang masing2..yg pst jika ingin suatu daerah tdk ingin kehilangan budayanya maka jgn biarkan budaya lain masuk..tp toh kenyataan itu tdk mungkin bahkan yg terhadi justru membukakan diri thdp budaya lain. Jd y ini dampaknya..sekali lg tdk ada penilaian positif negatif..

    1. Betul sekali engku, karena kita terlalu tidak percaya diri serta terlalu gelap mata akan Standar Pembangunan selama ini. Telah banyak orang (apakah itu orang Minangkabau, perantau, atau yang lainnya) yang memberi masukan betapa tertinggalnya pembangunan di Sumbar itu. Hal tersebut membuat kita lupa diri, lupa akan jati diri, lupa siapa kita, lupa dengan tanah tempat berpijak, lupa kalau kita ini orang Melayu yang berfalsafahkan Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah. Lupa semestinya Adat dan Syar’at seharusnya menjadi landasan utama (filter) dalam menghadapi budaya dari luar tersebut.
      Terima kasih,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s